jump to navigation

Tak Ada Rugi Bershodaqoh 1 Mei 2007

Posted by sri nanang setiyono in Buku, Islam.
8 comments


Judul            : Shodaqoh Memang Ajaib, Pengalaman Menakjubkan Para Pelaku Shodaqoh
Judul Asli      : Min ‘Ajaibi ^sh Shodaqoh
Penulis         : Kholid bin Sulaiman Ar-Robi
Penerjemah   : Abu Hanan Dzakiyya
Penerbit       : Wahana Ilmiah Press (WIP) Solo
Tahun          : 2006
Halaman       : x+126; 120×180 mm

Banyaknya buku-buku Islam bertema bertema fiksi, syariah, dan tema-tema praktis lain, kadang-kadang membuat calon pembaca menjadi jengah. Pembaca kesulitan menemukan buku yang temanya ringan tapi berbobot. Tengoklah setiap kali digelar pemeran buku Islam, tampak lebih banyak buku dengan tema fiksi, syariah, siyasah, ekonomi atau filsafat. Untungnya, suksesnya buku La Tahzan karya Said Al Qorni beberapa waktu lalu, memberi angin sejuk dengan bermunculannya buku-buku motivasi semacam chicken soup. Buku-buku ini umumnya terjemahan dari penulis Timur Tengah.

Buku Shodaqoh Memang Ajaib adalah salah satu kategori yang terakhir. Penulisnya–Kholid bin Sulaiman Ar-Robi—tak mengajak pembacanya untuk berkerut keningnya memahami ayat-ayat tentang syariah atau perdebatan tentang penegakan syariat Islam. Lewat buku yang diedit dengan bagus ini, pembaca diajak merenung tentang manfaat bersedekah atau bershodaqoh. Tiap bab menjelaskan tentang manfaat dan keutamaan bershodaqoh.

Memang seperti umumnya chicken soup, tak ada aspek sosial, ekonomi, budaya atau politik yang disinggung. Penulis menggunakan pendekatan personal ke hati pembacanya dengan membagi buku dalam tiga bagian yaitu dalil-dalil Al Quran dan Hadist tentang shodaqoh, komentar ulama dan kisah orang-orang yang bershodaqoh. Tak ada konsep pembangunan masyarakat seperti dalam konsep filantropi (kedermawanan sosial ala Barat) atau corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan) yang kini tengah ngetren dilakukan perusahaan-perusahaan besar di negeri ini.

Semuanya yang tercantum dalam buku ini benar-benar personal. Dijelaskan, bila bershodaqoh—tentu dengan ikhlas—Anda akan mendapat pahala yang berlipat-lipat dan manfaat lain yaitu membersihkan hati dan membersihkan harta. Malah di bagian akhir (kisah orang-orang yang bershodaqoh) diceritakan tentang hikmah dan balasan orang yang bershodaqoh karena iklas. Seperti kesembuhan dari penyakit, hutang yang terbayar lunas, rejeki nomplok, dan tentunya kedamaian hati dan ketenangan. Kesimpulannya, tak ada ruginya bershodaqoh!
”Sungguh, shodaqoh memiliki pengaruh yang ajaib untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zholim, atau bahkan orang kafir, karena Allah swt akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shodaqoh tersebut”. (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah)

Jadi, masih ragu-ragu untuk bershodaqoh?


powered by performancing firefox

Susah-susah Gampang Menulis Artikel Iptek 1 Mei 2007

Posted by sri nanang setiyono in Buku, Menulis, Sains.
3 comments

Judul            : Kiat Menulis Artikel Iptek Populer di Media Cetak
Penulis         : Markus G. Subiyakto
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun          : 2004
Halaman       : viii+126; 21 cm

Apa sih susahnya menjadi penulis iptek? Bagaimana agar tulisan iptek tak terlalu kaku? Apa benar redaksi media cetak lebih menyukai tulisan iptek dengan tema tertentu? Berapa honor menulis iptek? Mengapa tulisan saya ditolak, padahal saya sudah bikin tulisan yang sangat bagus?

Pertanyaan-pertanyaan itu kerap diajukan oleh penulis pemula atau calon penulis yang berkecimpung pada penulisan iptek populer. Toh walau sudah dijelaskan, biasanya para calon penulis tetap saya tak puas dengan jawaban dari redaksi. Nah, pertanyaan dan jawaban itu, dirangkum oleh MarkusG. Subiyakto dalam bentuk buku. Di dalam buku yang saya jumpai seharga Rp 10 ribu dalam sebuah pameran di Banjarnegara ini, sang penulis yang juga dosen Biokimia di Unpad, membeber berbagai hal tentang penulisan artikel iptek populer.

Bagi pemula, gaya penulisan dalam bentuk tanya jawab ini cukup memberi panduan tentang kiat menulis. Apalagi si penulis sudah menghasilkan puluhan artikel iptek yang bertebaran di berbagai media cetak. Di buku ini, aneka masalah mulai dari motivasi menulis, mencari ide penulisan, menyusul kalimat, menggayakan penulisan, memilih judul hingga hal-hal yang perlu dilakukan di luar kegiatan menulis, dijelaskan secara gamblang dengan bahasa sederhana. Termasuk juga tentang “obat” kekecewaan bila tulisan ditolak.

Toh, meski mudah dipahami, tiadanya contoh-contoh tulisan ilmiah populer membuat calon-calon penulis yang berminat pada bidang ini, menjadi seperti melihat di keremangan. Samar-samar. Membaca buku ini saja tanpa melihat contoh tulisan ilmiah populer, jelas tak cukup sebagai modal menghasilkan karya yang bermutu. Kekurangan lain adalah tak dilengkapinya alamat si penulis agar pembaca bisa berkorespondensi, serta tiadanya referensi alamat-alamat website tentang penulisan ilmiah dalam buku ini. Keduanya adalah hal yang penting dalam era internet saat ini.

Walau begitu, pembaca yang tertarik menjadi penulis ilmiah populer bisa menjadikan buku ini panduan awal. Setidaknya bisa memahami seluk-beluk dan hal-hal mendasar yang mesti dipahami. Namun, perkembangan iptek yang sangat cepat dan sasaran media cetak yang dibahas buku ini, membutuhkan keharusan calon penulis untuk selalu meng-update perkembangan iptek terkini. Caranya tentu saja dengan kerap membaca berita-berita iptek. Itu saja? Belum. Menulis, menulis, menulis dari sekarang adalah kunci utamanya.

powered by performancing firefox