jump to navigation

Kisah Wartawan Perempuan 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
1 comment so far

A career is a kind of work that you want more than anything. And you give up everything to get it and when you get it, you realize that it is not that great and you have no life.(Jennifer Lopez as Lauren in Bordertown)

Kisah tentang wartawan tak pernah habis menjadi inspirasi bagi sutradara dan penulis skenario film di Hollywood. Sebut saja All President’s Men, The Year of Living Dangerously, Live from Bagdad dan lain-lain (baca posting Belajar Jurnalisme dari Film). Interaksi profesi jurnalis dengan berbagai peristiwa dan kalangan masyarakat membuatnya selalu menarik untuk menjadi bahan cerita. Bisa dibilang setiap hari membuat cerita tentang kehidupan jurnalis pun tak akan pernah kehabisan ide.

Namun profesi yang tak mengenal waktu ini tak dipungkiri mengikis kehidupan pribadi pelakunya. Wartawan dengan jam terbang tinggi dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah sangat rentan kehilangan kehidupan pribadi.
“when you get it, you realize that it is not that great and you have no life,” demikian ucapan Jennifer Lopez yang berperan sebagai Lauren saat berbincang dengan narasumber yang ditolongnya.

Film juga dibintangi Antonio Banderas dan Martin Sheen ini tak melulu bercerita tentang sepenggal hidup Lauren, wartawati koran Chicago Sentinel yang tengah menginvestigasi pembunuhan pekerja perempuan di Juarez, kota perbatasan Meksiko-AS. Cerita sesungguhnya adalah lika-liku mengungkap tabir pembunuhan yang tak dibongkar oleh aparat hukum dan pemerintah setempat.

(lagi…)

Belajar Jurnalisme dari Film 27 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
3 comments

Anonymous sources are to journalism what silicon enhancements are to
the feminine figure; they look impressive to the gullible, but
something doesn’t feel right.
–Larry King, an American journalist in London, August, 2005

Usai menonton sinetron Dunia Tanpa Koma, saya jadi teringat beberapa koleksi DVD dalam kardus usang di rumah kontrakan. Dari puluhan DVD itu, beberapa isinya menceritakan kehidupan para jurnalis. Ada yang menggambarkan aktivitas jurnalis memburu berita dan menuliskannya. Sebagian lagi tak menyinggung kegiatan jurnalistiknya melainkan pengalaman si jurnalis hidup di sekitar peristiwa-peristiwa besar yang mempengaruhi hidupnya.

Film-film tersebut bisa dijadikan rujukan bagi masyarakat yang ingin belajar jurnalisme maupun sekadar menyelami kehidupan wartawan baik di media cetak atau broadcasting. Salah satunya, Shattered Glass, pernah saya jadikan bahan pembekalan bagi calon reporter. (Review Shattered Glass ada di blog ini bisa di baca di sini)

Berikut ada beberapa film yang layak untuk dijadikan rujukan. Sebagian sudah saya miliki versi DVD-nya (nomor 1 sd 5), sebagian sudah pernah saya tonton lewat TV dan bioskop (nomor 1 sd 12), sisanya saya tahu lewat review di situs milik Paul E Schlinder Jr internet.

  1. All The President’s Men (1976)
  2. Shattered Glass (2003)
  3. War Photographers (2002)
  4. Citizen Kane (1941)
  5. Capote (2005)
  6. The Year of Living Dangerously (1983)
  7. Up Close and Personal (1996)
  8. The Insider (1999)
  9. S1MONE (2002)
  10. Live From Baghdad (2002)
  11. The Killing Fields (1987)
  12. Welcome to Sarajevo (1997)
  13. Deadline USA (1952)
  14. The Front Page (1931, 1974)
  15. His Girl Friday (1940)
  16. Switching Channels (1988)
  17. -30-(1959)
  18. Absence of Malice (1981)
  19. Blessed Event (1932)
  20. The Big Clock (1948)
  21. I Love Trouble (1994)
  22. Ace in The Hole (1951)
  23. Sweet Smell of Succes (1957)
  24. The Paper (1994)
  25. Broadcast News (1987)
Barangkali ada blogger yang punya film-film di atas? Bolehlah kalau kita bertukar koleksi :) .

The Road to Guantanamo 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film.
1 comment so far
Bagi orang awam, membaca judul di atas akan memunculkan pertanyaan di manakah Guantanamo? Dengan membuka peta, jawaban itu segera ditemukan. Guantanamo adalah sebuah kamp instalasi militer Amerika Serikat di Kuba. Walau Amerika adalah musuh utamanya, Pemerintah Kuba tak bisa berkutik dengan keberadaan instalasi militer itu karena terikat perjanjian sewa wilayah dengan Amerika puluhan tahun lalu. Eit, tulisan ini bukan hendak membeber soal hubungan Amerika Serikat dan Kuba. Saya justru hendak membedah tentang Guantanamo-Guantanamo di Indonesia. Kok?

Judul di atas adalah sebuah film terbaru karya sutradara Michael Winterbottom yang meraih penghargaan Silver Bear di Berlin Film Festival 2006. Film ini dibuat dengan pola doku-drama yaitu memadukan cuplikan dokumenter dan rekaan berdasar penuturan langsung tokoh-tokoh utamanya. Kisahnya tentang tiga pemuda muslim-Ruhal Ahmed, Asif Iqbal dan Shafiq Rasul-warga Inggris asal Pakistan yang terjebak di Afghanistas kala terjadi huru-hara menjelang jatuhnya rezim Taliban yang tengah digempur tentara AS karena dituduh melindungi Usamah bin Laden. Tiga pemuda yang oleh media Barat disebut “Tipton Three”, merujuk asal mereka di Inggris, ditangkap tentara Aliansi Utara yang lantas diserahkan ke pasukan Amerika.

Di sinilah jalan hidup mereka berubah. Ketiganya dimasukkan penjara karena dicurigai anggota Al Qaeda oleh AS dan diterbangkan ke kamp X-Ray di Guantanamo dan kemudian dipindah ke kamp Delta, juga di Guantanamo. Kebetulan seorang teman di Serpong membeli versi DVD-nya dan saya ikut menontonnya tempo hari. Hanya berbekal kecurigaan dan “kesalahan” karena berbicara bahasa Inggris ketiganya menjalani kehidupan penjara yang sungguh tak manusiawi. Ditendang, dipukul, ditelanjangi, dilarang berbicara dengan sesama tahanan, bahkan ketika menjalankan salat pun sambil diintimidasi. Semuanya digambarkan secara gamblang di film tersebut. Seperti sering dilansir media di tanah air tentang perlakuan penegak hukum yang bermain rekayasa, ditampakkan pula polah agen-agen intelejen militer, CIA, MI5 dan FBI yang berkali-kali melakukan intimidasi agar “mainan” nya mengaku sebagai anggota Al Qaeda.

”Look at him. If you move, he will shoot you,” kata seorang interagor kepada salah salah satu dari Tipton Three ketika interogasi di bawah todongan senjata yang terkokang yang dibawa prajurit penjaga. Padahal si tahanan sudah diborgol tangan dan kakinya. Saking seringnya interogasi seperti ini, ketiganya hapal dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan interogator. Bila interogasi buntu, sudah disiapkan “hukuman” tambahan yaitu ruang isolasi. Di ruang ini, tahanan ditempatkan sendirian dalam ruangan gelap total tanpa cahaya dengan kaki dan tangan terborgol yang terikat rantai ke lantai. Itupun dengan posisi jongkok dengan tangan di bawah pantat karena rantainya sangat pendek. Praktis tak ada posisi lain bisa “dinikmati” tahanan bila disiksa dalam kondisi ini.

Digambarkan juga tahanan dalam ruang isolasi yang ditemani musik yang disetel sangat keras. Bila tak tahan, bisa dipastikan tahanan bakal stres atau depresi dan menyerah kepada si interogator. Ada juga tahanan yang selnya diacak-acak dan kitab suci Al Quran yang ada di ruang itu ditendang oleh sipir.

”They said they were going to destroy me but the fact I became stronger and stronger everyday,” kata Ashif, salah seorang Tipton Three. Akhirnya setelah tiga tahun ditahan tanpa tuduhan resmi dan tak ada bukti sebagai anggota Al Qaeda, ketiganya dilepas dan dikembalikan ke Inggris pada pertengahan 2005 lalu.

Sikap sipir-sipir penjara seperti itu bukan trademark tentara AS saja yang lagi getol memburu Usamah dan kelompoknya. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga menceritakan perilaku serdadu-serdadu TNI yang lebih bengis ketika dia dibuang ke pulau Buru karena dituduh sebagai PKI selama 14 tahun. Sama seperti Tipton Three, Pram juga tak pernah menerima tuduhan resmi terkait penangkapan dan penahanannya.

Juga mantan ketua DPR RI, AM Fatwa yang dalam biografinya mengaku mendapat perlakukan buruk dari aparat TNI yang menciduknya setelah peristiwa Tanjung Priuk meletus. AM Fatwa lebih “beruntung” karena disidangkan di pengadilan walaupun tuntutan yang diajukan jaksa disebutnya rekayasa. Belum lagi testimoni beberapa aktivis yang diculik anggota Tim Mawar Kopassus yang kala itu dipimpin Letjen Prabowo Subianto, di senja kala kekuasaan Soeharto. Semuanya menceritakan hal sama : perlakuan tidak manusiawi di tahanan oleh kaki tangan penguasa yang zalim. Bahkan rezim Soeharto pernah menciptakan kamp Guantanamo maya di republik ini. Para tahanannya adalah rakyat. Rezim Soeharto menciptakan atmosfer ketakutan dengan memberikan cap PKI, ET (eks tapol) di KTP, diskriminasi rasial bagi warga Tionghoa, cap Islam garis keras, dan mengobarkan perang di Timor Timur, Papua dan Aceh bertahun-tahun.

Sudahkah Guantanamo-Guantanamo di Republik ini hilang? Dengan menyesal saya menyebut bullshit. Tengok saja perlakukan tahanan di kantor-kantor polisi. Berapa kali kita mendengar polisi salah tangkap dan melepasnya kembali dalam kondisi babak belur? Terakhir kasus ini terjadi di Polres Bekasi. Saya melihat sendiri beberapa tahun lalu di kantor-kantor polisi di Jawa Tengah, ada tahanan-tahanan yang ‘di-bon” dan diinterogasi dengan pukulan, sengatan listrik, muka babak belur, jempol kaki diinjak kaki meja yang diduduki dan lain-lain. Barangkali kita masih bisa memaklumi kalau yang diperlakukan demikian adalah pelaku kriminal setarap pembunuh, pemerkosa, perampok dan lain-lain. Tetapi bila yang “di-bon” adalah orang yang salah tangkap, apa tanggung jawab polisi? Bagaimana dengan namanya yang sudah telanjur tercemar, tetangga yang mencemooh, luka fisik dan mental yang bakal melekat bertahun-tahun?

Sesungguhnya Guantanamo tak sekadar tempat yang dibatasi jeruji besi, kawat berduri dan penjaga-penjaga yang galak dan kasar. Guantanamo adalah sistem otoriter yang memonopoli kebenaran dan memaksakannya. Persis sikap kita bila tak bisa menenggang terhadap perbedaan dan bersikukuh bahwa pendapat dan sikap kita adalah yang paling benar. Karena kebenaran yang dimonopoli bukanlah kebenaran.

Shattered Glass, Kacamata yang Retak 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
4 comments

Jurnalis adalah profesi bermuka ganda dalam masyarakat Indonesia. Profesi ini dibutuhkan tapi juga dibenci. Disayang tapi juga dicemooh. Ketika masyarakat mendapatkan cerita yang menarik, masyarakat mengelu-elukan mereka. Saat informasi terasa hampa dan sensor kekuasaan begitu rapat, jurnalis diharapkan menyampaikan yang tabu dan ditabukan. Mereka membawa tugas berat : menyampaikan fakta dan kebenaran yang mahal harganya.Sebaliknya, jurnalis terlanjur diidentikkan dengan amplop. Masyarakat telanjur percaya, wartawan tak akan menulis dengan “baik” kalau tak diselipi amplop. Wartawan amplop alias wartawan bodrek sudah menjadi rahasia umum. Bahkan wartawan yang bekerja di media-media ternama pun tak steril dari fenomena amplop, lapan nam alias jale. Kalau mau aman dan tak diganggu pers, amplopin saja wartawan yang datang, begitu bisik-bisik di kalangan pejabat dan pengusaha ketika menjalin hubungan harmonis dengan wartawan. Jurnalis (apa infotainment?) juga sudah dianggap kawan tapi juga duri bagi artis dan pejabat yang suka bikin skandal.

Ah, begitu parahkan jurnalis? Begitu seramkah mereka? Atau begitu muliakah mereka? Lebih banyak mana: wartawan amplop atau wartawan tanpa amplop? Wartawan jujur atau wartawan yang suka bikin berita palsu? Tak ada survei yang pernah dilakukan untuk menjawab soal ini.

Memang jurnalisme di Indonesia belum begitu matang. Sekolah-sekolah jurnalistik tak sebanyak di negara-negara maju. Media massa memang bejibun semenjak era reformasi terbit, tapi yang benar-benar serius menggarap isinya jauh lebih sedikit dibanding yang mengusung jurnalisme kuning. Yang terakhir ini isinya tak bisa dijadikan rujukan karena hanya menjual sensasi.

“…ada lubang-lubang hitam dalam dunia yang dituntut harus selalu putih itu…”

Tetapi jangan berharap media-media “serius” isinya bisa dipercaya. Banyak kasus-kasus wartawan di negara-negara lain yang rupanya suka mengarang cerita, entah sebagian atau seluruh tulisan artikelnya. Salah satu yang heboh dan menggembarkan adalah yang menimpa The New Republic, majalah politik yang terbit di Washington. Majalah yang umurnya hampir 90 tahun itu, mengklaim sebagai satu-satunya majalah yang bisa masuk ke dalam Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat. Yang menimpa majalah berpengaruh ini digambarkan gamblang dalam film Shattered Glass

Saya mendapatkan DVD film ini tak sengaja sewaktu jalan-jalan di ITC Permata Hijau. Film ini layak ditonton oleh jurnalis atau profesi yang bersinggungan dengannya. Rupanya majalah sekelas The New Republic, salah satu yang dibaca presiden Amerika dan politisi di sana, punya wartawan yang sering menulis cerita bohong. Bahkan Stephen Glass-si wartawan yang suka mengarang cerita itu-sudah diangkat menjadi associate editor. Dari 41 tulisannya, 27 (kalau tak salah) adalah dikarang sebagian atau seluruhnya.

Nama-nama dalam karakter di film itu pun asli. Kejadiannya nyata. Digambarkan pula bagaimana si Stephen Glass berhasil meyakinkan editornya karena mendapatkan liputan yang “berwarna” dan menarik hingga muncul kecurigaan dari Adam Penenberg, wartawan Forbes Digital yang tak berhasil mengkonfirmasi satupun narasumber dalam tulisan Glass. Proses investigasi internal si redaktur lewat konfirmasi cek dan ricek serta kunjungan ke lokasi kejadian pun digambarkan detil. Semua kerja jurnalistik tampak di sini.

(lagi…)