jump to navigation

Bapak kecewa dengan Gusti Allah? 19 Oktober 2009

Posted by sri nanang setiyono in Esai, Hikmah.
Tags: ,
add a comment

Setahun selepas gempa hebat yang menggoyang Jogjakarta, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 60-an tahun. Suaranya berat dengan raut wajah yang ramah dan senyum yang akrab. Gaya bicaranya ceplas-ceplos. Kami duduk berhadapan di pojokan kios kecil dan hanya dibatasi etalase kaca setinggi kira-kira 1 meter. Mula-mula percakapan kami hanya seputar produk ponsel terbaru dan soal masalah ponsel yang dimilikinya. Ia berujar ingin mengganti ponselnya dengan merek lain yang daya tangkap sinyalnya lebih bagus.

Aku ingat saat itu bulan puasa. Tiba-tiba ia bertanya,”Mas puasa tidak?”

“Ya…saya puasa.”

“Maaf ya mas…saya tidak puasa,” ucapnya terus terang sambil mengambil sebungkus rokok dari balik saku jaketnya. Di lingkungan pasar tempat kios kami berada adalah jamak melihat orang-orang yang tidak berpuasa meskipun saat itu bulan Ramadan. Mbok-mbok bakul, pembeli, atau tukang-tukang becak dan tukang ojek sering terlihat menyeruput es teh di siang hari meskipun banyak pula yang tetap menjaga puasanya.

“Lagi tidak sehat ya Pak?” kataku balik bertanya meskipun. Aku agak ragu-ragu dengan pertanyaaku tadi apalagi kondisi lawan bicaraku yang tidak menampakkan ciri-ciri orang yang sedang sakit. Ia tampak segar bugar. Hanya sorot matanya yang kelihatan berat. Ada segumpal masalah yang mengendap di sekitar tatapannya.

”Saya lagi tidak puasa mas. Tahun kemarin saya kehilangan istri dan dua anak saya karena gempa di Jogja, mas.” Kali ini nadanya berat. Pandangannya kemudian dibuang jauh ke jalan raya di depan kios yang saat itu ramai oleh lalu lintas kendaraan. Mulutnya lantas menghisap rokok yang sudah menyala dan menghembuskan asapnya dengan hentakan yang juga berat.

”Bapak kecewa dengan Gusti Allah?” kali ini saya yang bertanya. Pembaca, sungguh saya agak terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut saya itu. Saya belum kenal dengan si Bapak dan baru beberapa menit bercakap-cakap kok tiba-tiba saya berlagak seperti psikolog atau ustadz yang siap memberi nasihat. Padahal saat itupun saya sebenarnya butuh banyak nasihat karena sedang mengalami masa-masa disorientasi yang melelahkan.

Pertanyaanku tadi rupanya langsung masuk ke benak si Bapak. Dia tak menjawab. Tapi tingkahnya menunjukkan ia sadar dan paham maksud pertanyaaku. Benar sekali, ia tidak nyaman dengan pertanyaan tadi.

”Itu sebenarnya tergantung bagaimana kita memandang peristiwa tersebut, pak.” Aku kembali berujar. Ucapanku ini kembali menohoknya. Sikap si Bapak jadi makin gelisah. Sempat sejenak mata kami saling beradu. Sepertinya ia tengah menyelidiki siapa dan apa maksud sesungguhnya ucapan lawan bicaranya. Ah…aku cukup lega. Kulihat tak ada getar amarah dari sorot matanya. Bagaimana pun sempat terbersit kekhawatiran kalau-kalau si Bapak tersinggung dengan ucapanku. Bisa saja ia marah dan dan menggebrak etalase di depannya. Si Bapak kemudian menunduk dan mengalihkan pandangannya ke etalase. Ia segera mengalihkan topik pembicaan.

”Saya beli yang ini saja mas,” katanya sembari menyerahkan beberapa lembar rupiah sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang getir.

”Kalau ada tidak berfungsi, bawa kesini lagi aja Pak. Nanti diganti,” balasku sambil menyerahkan barang yang dimaksud. Ia kemudian pamit dan berlalu. Saya masih melihat punggungnya menjauh dan kemudian hilang terhimpit keramaian pasar.

Percakapan yang tak lebih dari seperempat jam itu cukup membekas di memori kepalaku. Si Bapak yang tak kukenal namanya adalah orang pertama korban gempa Jogja yang kutemui. Selama ini kisah-kisah korban gempa hanya aku temui dari siaran televisi atau berita surat kabar. Tak pernah kudengar keluh kesah langsung dari si korban yang kehilangan sanak keluarganya.

Malam minggu lalu, memori memutar kembali fragmen pertemuanku dengan si Bapak. Kali ini bukan karena adanya gempa di Sumatera Barat atau di Ujung Kulon yang membuat panik orang-orang Jakarta. Di ruang tamu rumah Pak Budi Yuwono, praktisi kecerdasan spiritual, aku mengingat-ingat hal-hal sulit yang pernah aku temui. Juga pertemuanku dengan si Bapak asal Jogja tadi.

Pak Budi mengutip tentang kemudahan dan kesulitan yang akan selalu menjadi bagian dari hidup manusia. Ia menunjukkan terjemahan surat Al Insyiraah.

”Karena sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan kemudian. Maka bila telah selesai (suatu urusan), kerjakalah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

”Kesulitan dan kemudahan itu satu paket,” kata Pak Budi. Semua yang hadir di sana mengangguk-angguk. Saya lantas teringat dengan Kiai Muhammad Nurhaq yang pernah aku temui di Demak, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Saat itu pak Kiai memberi secarik kertas dan memintaku membacanya. Ah…rupanya surat Al Insyiraah seperti yang diterangkan Pak Budi.

Ketika aku tulis catatan ini, wajah si Bapak yang tidak bisa aku ingat seluruh detil rautnya kembali terbayang. Seperti adegan klip video, fragmen itu tergambar lagi di otakku. Ya…kesulitan itu satu paket dengan kemudahan. Karena itu siapa saja yang tengah bergelimang dengan kemudahan, bersiap-siaplah akan datangnya kesulitan. Demikian pula yang tengah dirundung kesusahan, yakinlah akan menyusulnya kemudahan.

Wajah si Bapak lagi-lagi terbayang. Dimana pun engkau…semoga kemudahan itu sudah menghampirimu. Dan jangan pernah lagi kecewa dengan takdir Tuhan.

Air 4 April 2008

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah, Lingkungan hidup.
1 comment so far

Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau pun mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma, secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.

Emoto menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.

Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikankalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.

Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.

“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.

Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima olehyang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain dan makhluk hidup lain.

Powered by ScribeFire.

Menjadi Kaum Papa 13 September 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
2 comments

Lebih dari empat bulan saya absen ngeblog. Kangen juga rasanya. Kalau dulu untuk sekadar posting atau blogwalking cukup dilakukan di kantor dan yang pasti gratis, sekarang tidak lagi. Keputusan untuk memiliih menjalani hati nurani dan patuh pada keyakinan, membuat saya tak lagi menikmati saat-saat menyenangkan dengan segala kemudahan sebagai wartawan sebuah media besar. Hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Banyak yang berubah dari hidup saya yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Saat memilih untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) sebagai karyawan, saya sadar ada segudang konsekuensi yang harus ditanggungg. Tak lagi menerima gaji rutin, tak mendapat fasilitas-fasilitas, tak menikmati enaknya rutinitas yang sudah telanjur dianggap bagian dari hidup. Dan yang lebih penting, tak lagi ada pemikiran atau harapan yang bunyinya : “Besok-besok kan masih ada tunjangan yang belum turun, jadi gak papa kalau sekarang beli ini atau beli itu. Duit toh bisa datang lagi. Lha wong karyawan tetap….”

Kini setelah menyandang predikat pengangguran (soalnya masih takut menyandang predikat pengusaha), semuanya itu lenyap. Predikat wartawan yang konon disegani pejabat (dan bikin polisi tidak berani memberi tilang meski kita kedapatan melanggar lalu lintas) pun ikut saya lepas. Entah kebetulan atau tidak, semua ID card kewartawanan yang saya punya sejak pertama kali bekerja di media harian di Semarang hingga terakhir di Femina Group, hilang bersama tas kecil saat bertandang ke ibukota tempo hari.

Jadi kalau tidak bisa posting atau ngeblog secara rutin, ya mohon dimaafin aja. Boro-boro ngeblog, buat sekadar beli pulsa pun kadang ada kadang tidak ada. Penghasilan dari bisnis kecil-kecilan yang saya jalankan di Semarang masih tidak seberapa dibandingkan penghasilan saya waktu menjadi wartawan, editor bahkan pernah kepala biro. Tetapi hikmah yang saya petik rupanya berlipat-lipat. Saat kantong pas-pasan, toh Tuhan memberi jalan buat saya untuk bisa melunasi hutang-hutang saya yang dulu menumpuk gara-gara ditipu orang dan gagal dalam bisnis. Kalau dihitung-hitung, total duit saya yang menguap gara-gara ditipu atau gagal bisnis selama menjadi wartawan mencapai angka Rp 32 juta. Sungguh aneh dan tidak disangka, pertolongan Tuhan rupanya tidak seperti yang saya kira sebelumnya. Tanpa diduga, ada orang yang dengan ikhlas menawarkan bantuan, justru dari pihak-pihak yang selama ini tidak begitu saya perhatikan berpotensi “memberi bantuan”. Silakan diartikan sendiri kalimat tadi. Saya juga kadang heran tidak disangka-sangka, Tuhan memberi jalan di luar perkiraan.  Subhanallah. Justru saat tidak lagi menjadi karyawan inilah, hutang-hutang saya semuanya lunas.

Hikmah lain yang bisa dipetik adalah pelajaran hidup untuk lebih menghargai keringat, rezeki dan nilai dari ketekunan, dan kesabaran. Saya makin yakin dengan nilai keberkahan rezeki yang jumlahnya kecil namun halal dibandingkan rezeki dalam jumlah besar namun bercampur dengan sedikit keremangan dan kesamar-samaran. (bersambung)

Mayat Hidup 16 Februari 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
add a comment

Sekadar untuk renungan…..

Sesungguhnya mayat itu adalah orang yang masih hidup tapi menjalani hidupnya dengan kemurungan. Masam mukanya dan kecil harapannya. (Dr Muhammad Al Ghazali)

Surya dan Tukang Ojek 16 Januari 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
2 comments

Sebut saja namanya Surya, lajang di rentang akhir usia dua puluhan tahun. Karirnya tergolong sukses. Cara berpikirnya maju. Tak peduli apa kata orang, apa yang diyakininya benar, akan coba diwujudkan. Sudah cukup lama dia merantau ke Jakarta, menjajal kemampuan dan mengembangkan wawasan yang menurutnya masih kurang. Hanya saja dia kadang-kadang merasa hampa. Hatinya kering. Jiwanya kosong. Sudah cukup lama jiwanya mengembara. Buku-buku filsafat, sufi, agama dilahapnya. Buku motivasi sudah masuk dalam daftar koleksinya. Film-film perjuangan pun dia miliki. Kekasih yang baik dan setia tak pernah jauh darinya. Tapi tetap saja ada belum lengkap yang dia rasakan.

Suatu malam, usai pulang kerja, Surya mengobrol tentang berbagai topik dengan teman di rumah kontrakannya. Sambil bersantai, mereka bertukar pikiran tentang soal negara, agama, cita-cita hingga soal teman wanita.

Jam menunjukkan angka 11. Hampir tengah malam. Deru sepeda motor dengan lampu yang menyorot tajam, mendekat ke kamarnya. Memang kontrakkannya dihuni banyak orang. Semuanya perantau yang mengadu nasib ke ibukota. Surya membuka pintu, melongok siapa yang datang. Rupanya seorang lelaki, tetangga-tetangganya memanggil dia Pak De.

Sosok Pak De bukan orang muda. Dia sudah renta. Usianya di atas 60 tahun. Barangkali di atas 70 tahun. Badannya kurus. Kulitnya gelap. Wajahnya sudah berkeriput. Pipinya cekung. Sinar matanya polos seperti tak menyimpan banyak cita-cita lagi. Pak De memakai celana panjang, topi hitam dan jaket kain warna coklat yang tak bisa menghapus kesan tubuhnya yang kerempeng di makan usia.

Surya terkesima. Beberapa hari sebelumnya, dia hanya bisa menyapa sekadarnya saat Pak De mengelap sepeda motornya. Semula Surya mengira Pak De bukanlah tetangga kontrakannya.

”Baru pulang kerja Pak,” tanya Surya. Pak De mengangguk.
”Dari mana?” tanya Surya lagi.
”Ngojek. Dari depan,” jawab Pak De ramah dengan wajah seperti menahan lelah.

Hati Surya mendesir. Setua ini masih saja dia menarik ojek? Bersaing dengan pengojek yang rata-rata masih mudah dan segar? Surya melihat Pak De dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dalam hatinya dia nyaris tak percaya. Setelah berbasa-basi sejenak, Pak De pun berlalu masuk ke kamarnya. Tak ada dialog lagi. Surya pun tak berani bertanya apakah Pak De punya keluarga di kampung atau punya anak. Kemana mereka? Yang dia tahu, dari cerita teman-teman di kontrakannya, Pak De tinggal sendiri. Menjadi penghuni kontrakan seperti dirinya.

Surya masuk ke kamarnya. Menutup pintu dan langsung merebahkan diri. Pikirannya teringat kembali sosok Pak De. Temannya yang tadi diajak ngobrol kini asyik bermain komputer. “Ah…Pak De…mestinya saya malu dengan semangat hidupnya”. “Saya lebih muda. Saya harusnya lebih bersemangat menghadapi hidup,” hati kecil Surya terus bersuara.

Tiba-tiba matanya berat. Kepala ditelungkupkan. Surya ingat ayah ibunya. Usia mereka hampir sama dengan Pak De. Hanya saja dia merasa ada jarak dengan mereka. Sudah cukup lama, dia tak menengok mereka di kampung. Cukup lama dia tak bercanda dan bercerita dengan ayah. Surya makin larut dalam kenangan. Dia ingat saat remaja dulu, pak ustad di mushola dekat rumahnya mengingatkan agar tak membuat orang tua kecewa. Bahkan mengucapkan kata “ah” di depan mereka pun tak diperbolehkan. ”Bisa membuat mereka sakit hati dan tersakiti,” kata-kata ustad Burhanudin terngiang-ngiang di telinganya.

Surya kembali menelungkup. Lamat-lamat suara serak Kenny Roger yang melantunkan lagu You Decorated My Live dari pemutar CD di kamarnya, menghilang dari telinganya. Dia merasa sepi ketika perlahan tapi pasti ada yang basah di kain bantalnya.

Bangkrut Hati, Bangkrut Jiwa 11 Januari 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
add a comment

Awal tahun yang semula kita harapkan sebagai wujud optimisme rupanya digelayuti mendung. Dua musibah nasional menerpa kisi-kisi ruang ego kita yaitu hilangnya pesawat Adam Air penerbangan Surabaya-Menado dan tenggelamnya kapal motor (KM) Senopati.

 

Pembaca yang budiman. Ada satu pepatah bijak warisan leluhur yang patut kita ingat dan jadi pegangan terkait musibah ini. Bunyinya begini : Besar pasak daripada tiang. Seringkali pepatah ini diartikan sebagai pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Kisah tentang pemborosan dan ketidakmampuan kita mengelola sumber daya finansial dengan baik. Kisah tentang kondisi tekor, pailit atau bangkrut.

 

Bila kita berkaca lagi, tak melulu soal materi yang membuat kita lunglai. Banyaknya alokasi kesedihan akibat peristiwa pribadi atau sosial dan beban psikologis diri yang belum terselesaikan dan menumpuk, turut menjadi penyumbang kebangkrutan itu. Tak cuma secara finansial, kita juga bangkrut secara kejiwaan. Kehilangan asa yang telanjur didepositokan.

 

Lantas apa hubunganya dengan musibah kapal tenggelam dan pesawat hilang? Saya hanya mengingatkan, bisa jadi suatu saat kita bangkrut secara kejiwaan seperti keluarga korban musibah tadi. Sebelum dia datang (tentu tak ada salahnya berjaga-jaga), yuk menabung dan menyimpan stok moral dan nutrisi jiwa. Paling tidak kita sadar, suatu saat kebangkrutan pun bisa tinggal nyaman di hati dan rumah kita. (tulisan ini menjadi editorial di SuperStar PI-Bintaro)

 

Jadilah Kolam Jangan Gelas 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
add a comment
Jangan anggap enteng masalah kecil, tapi jangan besarkan masalah yang tidak besar. Nah soal yang terakhir ini, aku punya pengalaman yang bisa di-sharing. Isinya dalam banget. Aku ambil dari bukunya Reza M Syarief berjudul Life Excellent.

Disebutkan ada seorang murid yang sedang ditimpa masalah. Lantas dia datang menemui gurunya yang seorang sufi. Maksudnya tentu saja ingin curhat sambil meminta saran cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dia hadapi. Singkat cerita, sang murid bertemu gurunya. Si murid mengutarakan maksud kedatangannya dan si guru manggut-manggut. Tanpa banyak kata, tiba-tiba si guru masuk ke kambali ke dalam rumah dan menyuruh murid untuk menunggu. Tak berapa lama, si guru menemui murid lagi sambil membawa dua bungkus garam dan sebuah gelas kosong yang berisi air.

“Coba masukkan sebungkus garam ke dalam gelas itu,” pinta si guru kepada muridnya. Si murid pun menuruti perintah sang guru.
“Sekarang aduk,” kata si guru. Si murid pun langsung menyiakan dan menjalankan kemauan gurunya. “Kalau sudah, kau minum air itu,” kata si guru lagi. SI murid tentu saja kaget. Dia membayangkan air yang rasanya asin, namun karena menghormati gurunya ia pun tak berani menolak.

“Tapi guru….baiklah saya minum,” kata si murid. Begitu diteguk, muka si murid langsung menunjukkan ekspresi cemberut dan meringis karena menahan rasa asin di lidahnya. Si guru cuma menyengir. Lantas dia berkata lagi,” Ayo ikut saya ke luar,” katanya. Tak lupa, dia membawa sebungkus garam yang masih tersisa. Muridnya yang setia pun bingung, namun rasa penasaran di kepalanya dia tahan mengingat keinginan yang tinggi untuk mendapat solusi dari masalah-masalahnya.

Rupanya si guru mengajak muridnya ke kolam di belakang rumah. Ukurannya tidak terlalu besar. Bentuknya bujur sangkar dengan panjang sisinya kira-kira 3 hasta. Namun airnya sangat jernih. Sebuah gayung dan ember di taruh di bibir kolam. Rupanya sang guru memakai kolam itu sebagai tempat penampungan cadangan air.
“Coba kau masukkan garam ini ke kolam dan aduk sampai rata,” tiba-tiba sang guru menyuruh muridnya. Seperti sebelumnya, si murid pun tak menolak dan menuruti perintah gurunya.
“Sekarang minum air itu,” kata si guru. “Gimana rasanya,” tanya si guru.

“Hambar guru,” jawab muridnya. “Tidak asin?”tanya guru lagi. “Tidak guru,” kata si murid menyahut.
“Nah sekarang kau bisa menyelesaikan masalahmu,” kata gurunya lagi.

“Anggap saja kolam atau gelas adalah hati dan pikiran kita, sedangkan garam adalah masalah-masalah kita,” lanjutnya. “Kau bisa membedakan kalau hati kita sempit, masalah pun akan terasa berat. Namun kalau hati kita lapang, masalah tidak akan terasa,” kata guru lagi. Kini si murid mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Tidak mudah memang melapangkan hati. Namun dengan mengingat Allah, hati akan menjadi lapang. Masalah tidak menjadi berat,” kata guru.

Setelah basa-basi sejenak, si murid pun pamit pulang dengan hati lega. Dia menemukan jawaban dari masalahnya. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi bagian dari masalah, melainkan pemecahan masalah.