jump to navigation

What’s Killing Newspapers? 16 Mei 2009

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Online Media, video.
Tags: , , , ,
add a comment
More WebProNews Videos

Dunia persuratkabaran di Amerika Serikat yang sedang sekarang akibat gencetan krisis dan kekalahan dalam kecepatan penyampaian informasi membuat keprihatinan lembaga legislatif di sana. Seorang senator bahkan sudah mengajukan undang-undang agar surat kabar bisa tetap beroperasi sebagai lembaga non profit, tak melulu harus sebagai badan usaha.

Kabar itu tidak mengejutkan lagi. Beberapa koran di AS memang telah menghentikan edisi cetaknya dan hanya terbit dalam edisi online. Sebagian koran menyalahkan kehadiran internet sebagai biang dari kemunduran surat kabar, khususnya datangnya Google. Kondisi ini diperparah dengan krisis ekonomi yang tentu saja makin membuat pemilik surat kabar terjepit.

Kondisi di Indonesia agak berbeda. Di sini, geliat koran-koran menerbitkan edisi online lebih sebagai antisipasi dan kebutuhan untuk mencari ceruk pasar baru. Krisis ekonomi yang tak kunjung usai dan daya beli masyarakat yang rendah sudah sejak lama membuat surat kabar di Indonesia hidup dalam “keadaan darurat”. Keadaan ini sudah terjadi sejak era kolonial yang membuat surat kabar bisa sewaktu-waktu dibreidel alias dimatikan. Lantas ketika kebebasan pers di negeri ini terjadi akibat reformasi euforia reformasi di Indonesia yang melahirkan ribuan koran, tabloid, dan majalah, kehidupan pers tetap saja dalam kondisi darurat karena krisis ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih rendah. Lihatlah berapa banyak koran yang terbit kemudian gulung tikar, begitu juga majalah, radio dan televisi. Kalau beruntung ada investor baru, mereka akan melanjutkannya tetapi dengan merek baru yang sama sekali lain dari merek sebelummnya.
Kini saat internet makin mudah didapatkan, makin murah diakses, dan saluran informasi bisa diperoleh dari segala penjuru, koran dihadapkan pada persoalan aktualitas berita. Meski begitu, toh tetap saja ada koran dan majalah yang bertahan hidup. Hanya saja kalau krisis sudah demikian parah, apakah akan muncul peraturan pemerintah atau undang-undang yang mirip-mirip dengan situasi di AS sana? Saya kok tidak yakin, apalagi di Indonesia koran terbit kemudian tidak terbit adalah hal biasa. Wong hari ini salah, besok jadi benar juga sudah lumrah….

Ada Apa dengan MetroTV 22 Februari 2008

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Lingkungan hidup.
6 comments

Bila anda cermati pemberitaan sejumlah media akhir-akhir ini, Anda bakal tercengang karenanya. Setelah perihal kematian mantan Presiden Soeharto yang pemberitaannya tidak proporsional–hanya mengangkat sisi positif sang jendral besar dan mengaburkan kasus-kasus pelanggaran HAM dan dugaan korupsi–ada media yang jelas-jelas mencoba mengaburkan kasus semburan lumpur di Sidoarjo Jawa Timur. Kasus lumpur Lapindo yang beberapa hari lalu dibawa ke Rapat Paripurna DPR, Selasa (18/2), rupanya sudah dicoba dikaburkan oleh MetroTV dengan mengubah istilah Lumpur Lapindo dengan istilah Lumpur Porong. Lucunya hal ini tidak dilakukan sejak semburan lumpur terjadi dan kasusnya menjadi perhatian masyarakat.

Sebagai media yang mengklaim dirinya unggul dalam penyajian liputan berita, agak aneh bila MetroTV bermain mata dengan mencoba membelokkan opini publik. Televisi yang selalu mengumumkan dalam running text bahwa wartawannya tidak menerima pemberian dalam bentuk barang atau uang dalam menjalankan tugas jurnalistik, jelas-jelas tengah bermain mata dengan pihak lain. Tujuannya menggiring opini publik agar memisahkan masalah semburan lumpur dari nama Lapindo, perusahaan perminyakan yang semula dimiliki grup Bakrie yang melakukan pengeboran hingga menyebabkan terjadinya semburan lumpur pada Mei 2006.

Perubahan penyebutan–dari lumpur Lapindo menjadi Lumpur Porong–tampaknya sengaja dibuat menjelang rapat Paripurna DPR yang memutuskan untuk menindaklanjuti masalah itu dengan mengajukan interpelasi ke Pemerintah. Sebelumnya TP2LS mengeluarkan rekomendasi bahwa penyebab luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas Inc akibat bencana alam dan bukan karena kecerobohan manusia.

Bila rekomendasi ini yang jadi rujukan pemerintah, maka biaya ganti rugi dan tanggung jawab penanganan para korban akan dialihkan kepada negara. Dengan kata lain, pihak Lapindo yang diwakili manajemen PT Minarak Lapindo Jaya (sengaja dibentuk untuk membayar kompensasi korban lumpur), bakal lepas tangan terbebas dari kewajiban hukum. Efeknya pun luar biasa. dana pertanggungan itu bakal dibebankan kepada pemerintah yang tentu saja memakai uang APBN yang notabene adalah uang rakyat. Bayangkan, kesalahan dari segelintir pengusaha kok ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia lewat APBN?

Dalam buku Konspirasi Di Balik Lumpur LAPINDO : Dari Aktor Hingga Strategi Kotor (Galang Press, Jogjakarta)  karangan Ali Azhar Akbar sebenarnya  sudah diungkap adanya upaya-upaya terselubung untuk  membungkam opini publik melalui strategi kehumasan. Selain dengan memasang iklan, juga dengan menggunakan istilah Lumpur Porong hingga Lumpur Sidoarjo (yang terakhir ini dipakai oleh TP2LS).

Tapi rupanya MetroTV tidak sendirian. Sebuah grup perusahaan media besar juga bermain mata dengan menutup-nutupi kasus ini. Laporan majalah National Geographic edisi Januari 2008 berjudul The Unstoppable Mud konon (saya belum mengeceknya) tidak diturunkan dalam edisi bahasa Indonesia dari majalah yang sama. Sengaja atau lalai?

Kisah Wartawan Perempuan 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
1 comment so far

A career is a kind of work that you want more than anything. And you give up everything to get it and when you get it, you realize that it is not that great and you have no life.(Jennifer Lopez as Lauren in Bordertown)

Kisah tentang wartawan tak pernah habis menjadi inspirasi bagi sutradara dan penulis skenario film di Hollywood. Sebut saja All President’s Men, The Year of Living Dangerously, Live from Bagdad dan lain-lain (baca posting Belajar Jurnalisme dari Film). Interaksi profesi jurnalis dengan berbagai peristiwa dan kalangan masyarakat membuatnya selalu menarik untuk menjadi bahan cerita. Bisa dibilang setiap hari membuat cerita tentang kehidupan jurnalis pun tak akan pernah kehabisan ide.

Namun profesi yang tak mengenal waktu ini tak dipungkiri mengikis kehidupan pribadi pelakunya. Wartawan dengan jam terbang tinggi dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah sangat rentan kehilangan kehidupan pribadi.
“when you get it, you realize that it is not that great and you have no life,” demikian ucapan Jennifer Lopez yang berperan sebagai Lauren saat berbincang dengan narasumber yang ditolongnya.

Film juga dibintangi Antonio Banderas dan Martin Sheen ini tak melulu bercerita tentang sepenggal hidup Lauren, wartawati koran Chicago Sentinel yang tengah menginvestigasi pembunuhan pekerja perempuan di Juarez, kota perbatasan Meksiko-AS. Cerita sesungguhnya adalah lika-liku mengungkap tabir pembunuhan yang tak dibongkar oleh aparat hukum dan pemerintah setempat.

(lagi…)

Israel Dekati Indonesia via Website 19 Desember 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
14 comments

Saya agak terkejut ketika membaca berita di situs The Jakarta Post hari ini berjudul Israel starts website in Indonesian. Dalam benak saya terbersit pikiran betapa pentingnya posisi Indonesia di mata negara Yahudi itu sampai rela membuat website dalam bahasa Indonesia. Bukankah bila ingin pesan dan citranya diketahui khalayak luas, bisa memakai bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa pergaulan dunia?
Rupanya bukan itu saja yang diinginkan oleh Israel. Lewat website http:\\jakarta.mfa.gov.il Negara yang dimusuhi seluruh orang Arab dan muslim ini memang sedang mencoba mengambil hati penduduk Indonesia. Setidaknya mendapat simpati sekaligus bisa mengubah persepsi orang Indonesia tentang Israel. Website ini menjadi semacam counter attack terhadap pemberitaan media massa Indonesia yang hampir semuanya bersikap anti-Israel.
Beberapa indikasi itu antara lain :

  1. Memasang header dengan dengan tulisan Israel Diplomatic Network dan di bawahnya tertulis Israel-Indonesia Web Site. Memang website ini dibuat Kedutaan Israel di Singapura, tetapi memasang header di atas mengesankan seolah-olah ada hubungan resmi dalam tingkat diplomatik antara Indonesia-Israel.
  2. Gambar bendera Bintang David (bendera Israel) bersanding dengan Merah-Putih tanpa memakai garis pemisah yang tegas. Malah bagian yang berdekatan antara dua gambar tersebut tampak melebur seolah-olah tak ada lagi batas antara keduanya. Orang Jawa bilang koyo konco kenthel (seperti sobat kental).
  3. Walaupun ada menu Select Your Language, toh tak ada bahasa lain yang dipakai kecuali Bahasa Indonesia. Jelas pembaca yang dituju adalah orang Indonesia.
  4. Begitu membuka situs tersebut, pembaca akan disambut dengan artikel berjudul Mengenal Lebih Baik Tentang ISRAEL. Bagian awal tulisan ini dipasang kota Jerusalem dari kejauhan sehingga tampak kubah keemasan Masjidil Haram. Foto ini disandingkan dengan foto sepasang tokoh wayang kulit dalam posisi berhadap-hadapan dan di antara keduanya tampak cahaya terang yang membuat dua wayang tersebut tampil seperti siluet. Hanya saja, ada yang menggelitik saya dari foto wayang tersebut. Si anak wayang yang di sebelah kanan adalah Kresna, penasehat Pandawa yang jadi golongan pembela kebenaran dalam kisah Mahabarata. Sedangkan wayang di sisi kiri (kalau tak salah) adalah tokoh buto alias raksasa yang melambangkan dunia angkara murka. Nah loh….Saya sungguh tak mengerti alasan pemilihan foto siluet wayang ini selain memberi simbol tentang kebudayaan Indonesia.
  5. Pemakaian istilah teroris untuk menyebut kelompok Hizbullah dan aktivitasnya. Juga diungkap alasan-alasan Israel melakukan serangan ke Libanon beberapa waktu lalu yang dikatakan untuk membela diri.
  6. dll.

Terlepas dari persepsi kita tentang negara Yahudi tersebut, ada satu pelajaran yang patuh dicontoh oleh Indonesia dan masyarakatnya. Kendati citranya babak belur di luar negeri, toh negara itu tak berhenti untuk menggelar kampanye dan promosi public relation untuk mengubah citranya. Bagaimana dengan kita ?

Belajar Jurnalisme dari Film 27 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
3 comments

Anonymous sources are to journalism what silicon enhancements are to
the feminine figure; they look impressive to the gullible, but
something doesn’t feel right.
–Larry King, an American journalist in London, August, 2005

Usai menonton sinetron Dunia Tanpa Koma, saya jadi teringat beberapa koleksi DVD dalam kardus usang di rumah kontrakan. Dari puluhan DVD itu, beberapa isinya menceritakan kehidupan para jurnalis. Ada yang menggambarkan aktivitas jurnalis memburu berita dan menuliskannya. Sebagian lagi tak menyinggung kegiatan jurnalistiknya melainkan pengalaman si jurnalis hidup di sekitar peristiwa-peristiwa besar yang mempengaruhi hidupnya.

Film-film tersebut bisa dijadikan rujukan bagi masyarakat yang ingin belajar jurnalisme maupun sekadar menyelami kehidupan wartawan baik di media cetak atau broadcasting. Salah satunya, Shattered Glass, pernah saya jadikan bahan pembekalan bagi calon reporter. (Review Shattered Glass ada di blog ini bisa di baca di sini)

Berikut ada beberapa film yang layak untuk dijadikan rujukan. Sebagian sudah saya miliki versi DVD-nya (nomor 1 sd 5), sebagian sudah pernah saya tonton lewat TV dan bioskop (nomor 1 sd 12), sisanya saya tahu lewat review di situs milik Paul E Schlinder Jr internet.

  1. All The President’s Men (1976)
  2. Shattered Glass (2003)
  3. War Photographers (2002)
  4. Citizen Kane (1941)
  5. Capote (2005)
  6. The Year of Living Dangerously (1983)
  7. Up Close and Personal (1996)
  8. The Insider (1999)
  9. S1MONE (2002)
  10. Live From Baghdad (2002)
  11. The Killing Fields (1987)
  12. Welcome to Sarajevo (1997)
  13. Deadline USA (1952)
  14. The Front Page (1931, 1974)
  15. His Girl Friday (1940)
  16. Switching Channels (1988)
  17. -30-(1959)
  18. Absence of Malice (1981)
  19. Blessed Event (1932)
  20. The Big Clock (1948)
  21. I Love Trouble (1994)
  22. Ace in The Hole (1951)
  23. Sweet Smell of Succes (1957)
  24. The Paper (1994)
  25. Broadcast News (1987)
Barangkali ada blogger yang punya film-film di atas? Bolehlah kalau kita bertukar koleksi :) .

Jadi The 1st Maverick’s Click of The Week 14 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
4 comments
Siang ini saat membuka blog, ada comment dari Hanny yang mengabarkan blog ini dinobatkan menjadi The First Maverick’s Click of The Week. Tentu saya tak yakin sebelum mengunjungi blog yang dibuat oleh awak perusahaan konsultan PR dan media di Jakarta itu. Setelah dicek, ternyata benar. Dalam hati kecil ada rasa senang juga rupanya ada yang respek dengan buah pikir saya. Padahal dibandingkan dengan yang lain, blog ini baru seumur jagung (posting pertama saya 3 Oktober 2006).

Dalam postingnya, Maverick menulis begini :

For the first Click of The Week, we present you the blog of Sri Nanang Setiyono entitled: Ngomongin Apa Aja . Nanang is an Indo Pos journalist who has been on assignment in th Banten province for 4 months. Nanang was nominated by Hanny of Maverick, and here is Hanny’s reason for nominating Nanang:

The title of this blog is NGOMONGIN APA AJA. I’m interested in the layout of this blog, because it’s really fresh and clean—and your eyes won’t get tired reading the postings. The title really reflects this blog, because Nanang writes about everything—about journalism, tourism, life, humor, movies, even short stories.

The most interesting post is the one where he relates mathematical theorem with journalism. A very intersting look into journalism from a different perspectives. On the other part of the blog, he also write about this movie called Shattered Glass, a movie about journalism—which sounds interesting, and probably we should watch it together :)

Apapun itu, terima kasih buat awak blogger Maverick dan khususnya salah satu personelnya, Hanny, yang menominasikan blog ini. Selengkapnya tentang posting tersebut, ada di sini.

Awas! Racun itu Bernama Amplop 13 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
4 comments
Sekitar setahun lalu saya mengobrol santai dengan seorang dosen sebuah PTS di Jakarta Barat yang saya temui di kediamannya. Dengan bersemangat dosen pengajar ekonomi yang usianya sudah kepala 7 itu bercerita tentang tingkah birokrat, pengusaha, penegak hukum dan wartawan saat dia berkeliling Indonesia puluhan tahun lalu. Dia merasa prihatin dengan kondisi masyarakat, pendidikan, dan penegakan hukum di tanah air. Menurutnya pemberi sumbangan kerusakan paling besar terhadap masyarakat dan negara ini adalah penegak hukum dan wartawan. Tentu saya agak kaget dengan ucapannya, karena dia seratus persen sadar kalau di depannya duduk seorang yang berprofesi sebagai wartawan. Apalagi gaya berceritanya sangat berapi-api dan sedikit emosional.

Menurutnya pemberi sumbangan kerusakan paling besar terhadap masyarakat dan negara ini adalah penegak hukum dan wartawan…

Saya terus terang kagum dengan sikapnya yang terbuka. Sedikit banyak saya setuju dengan pendapatnya walaupun tak setuju seratus persen. Saya tak setuju caranya mengeneralisasikan seolah-olah semua penegak hukum dan wartawan masuk dalam kategori busuk. Namun tak disangkal, selama menjadi wartawan sekian tahun, saya tahu kebusukan-kebusukan yang dilakukan oleh penegak hukum, birokrat, pengusaha, dan tentu saja wartawan yang notabene adalah kawan-kawan seprofesi saya.

Bila dirunut lebih jauh, kebusukan dan kerusakan yang terjadi dalam dunia jurnalisme di Indonesia (barangkalai juga di dunia) terbagi dalam dua kategori besar. Pertama adalah struktural dan kedua adalah kultural. Hal ini juga terjadi pada profesi lain baik penegak hukum, birokrat, pengusaha dan lain-lain.  Ibarat keping mata uang, selalu ada dua sisi yang memberi sumbangsih pada kebusukan yang terjadi. Wajah profesi jurnalisme di Indonesia pun demikian. Kebusukan yang terjadi ada yang struktural dan disadari, dan ada pula yang tak disadari atau sudah dianggap biasa sehingga dimaklumi keberadaannya (kultural).

Yang struktural dan dianggap menjadi penyumbang kebusukan antara lain tekanan pemilik media terhadap jurnalis, orientasi pemilik media yang lebih condong kepada bisnis daripada aspek sosial dan pendidikan masyarakat, tekanan politik penguasa, struktur gaji yang tak memadai, suasana kerja dalam tubuh media itu yang tidak menumbuhkan budaya profesional, dan lemahnya jaringan dan “power” wartawan maupun organisasi wartawan dalam memperjuangkan profesionalisme anggotanya.

Sedangkan yang kultural adalah “kecongkakan” dalam diri wartawan bahwa dirinya “berkuasa” karena memiliki kekuatan membangun opini, memaklumkan adanya pemberian amplop dari narasumber asal dalam koridor “tidak meminta”, sikap pragmatis wartawan dan birokrat untuk lebih mementingkan menjaga harmoni dengan menutupi sebagian informasi yang layak diketahui publik, serta anggapan bahwa menyajikan informasi dari dua sisi berarti tugasnya sudah sebagai wartawan sudah selesai dan masyarakat dipersilakan menilai sendiri.

Hanya saja, perlu disadari, sumber-sumber kebusukan itu tak berdiri terpisah. Mereka saling kait-mengait membentuk jaring laba-laba yang sulit dirunut ujung pangkalnya. Kendati begitu, bukan sikap bijaksana kalau wartawan dan masyarakat hanya bersikap memaklumi kondisi ini tanpa berusaha mengubahnya.

Memang untuk mengamputasi kebusukan-kebusukan itu bukan perkara mudah. Tradisi jurnalisme modern di Indonesia baru berumur lebih kurang satu abad. Lebih tiga perempatnya wartawan dan media hidup dalam suasana otoriter (jaman kolonial Belanda, Jepang, Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru) yang mengedepankan pendekatan kekuasaan untuk menyelesaikan masalah. Wajar bila iklim reformasi yang berbuah kebebasan pers, belum cukup signifikan membabat kebusukan struktural maupun kultural wartawan dan media. Ibarat kata, wartawan dan media saat ini masih hidup dalam masyarakat yang “memaklumi” perilaku otoriter. Birokrat dan penegak hukum juga belum bisa membersihkan dirinya dari lumpur dan sampah tradisi otoriter. Wartawan dan media, suka atau tidak, sebagian tubuhnya terbenam di masa lalu.

Contoh paling gampang, profesionalisme wartawan tak didukung penuh oleh media dengan memberikan gaji yang layak. Akibatnya wartawan harus berpikir ulang setiap kali ada pihak yang menyodorinya amplop. Parahnya sebagian media terkesan tutup mata dan bersikap “tahu sama tahu” tentang situasi ini asal tak merugikan perusahaan secara keseluruhan. Padahal bila sepucuk saja amplop sudah berpindah tangan dari narasumber ke wartawan, independensi yang diagungkan dalam kerja jurnalistik sebenarnya sudah luntur. Tetapi mengapa hal ini dibiarkan oleh perusahaan media?

Menurut saya, lebih mudah mengatasi kebusukan ini dengan membabat hal-hal yang bersifat kasat mata terlebih dahulu seperti pemakluman terhadap amplop. Persepsi bahwa menerima amplop adalah “tidak apa-apa” asal “tidak  meminta” harus diubah. Wartawan dan perusahaan media harus diyakinkan bahwa, menerima amplop adalah meracuni pikiran. Cepat atau lambat, si penerima amplop akan berubah pikiran dan meyakini bahwa amplop memang tak membawa masalah bagi penerimanya. Akibat lebih jauh, si wartawan akan cenderung berorientasi mencari berita yang berpotensi “menyediakan amplop” daripada berita kering. Racun itu akan mengirim pesan ke syaraf otak mengatakan menerima amplop adalah “kenikmatan” dan menjadi kewajaran dari kehidupan seorang wartawan. Dampak secara menyeluruh, independensi wartawan melorot, kualitas media menurun karena banyak berita berisi pesan terselubung sponsor, media menjadi corong penguasa dan kaum kapitalis, kepedulian menyuarakan kebenaran berkurang dan masyarakat pun membaca berita-berita sampah. Singkatnya, masyarakat dibodohi dan dibohongi ketika menerima informasi media.

Setiap kali membahas masalah ini, ingatan saya kembali kepada senior saya saat saya menjadi wartawan di kota Kudus, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu. Dia mengatakan, “Kalau ada narasumber yang bersikukuh memberi kita amplop dan mendesak kita untuk menerimanya, katakan saja kalau pemberian itu bisa meracuni otak kita”. Ah….saya tak ingin seekstrim itu. Saya lebih suka memakai alasan agama untuk menjustifikasi soal ini. Bagi saya, amplop masih menjadi perdebatan karena ada yang menilai boleh (halal) dan ada yang bilang tidak boleh (haram). Dari dua kutub itu, saya melihat hukum agama soal amplop adalah syubhat (samar-samar) dan meragukan. Alasan saya, amplop diberikan karena profesi kita adalah wartawan. Karena itu, sesuai dalil agama, hal-hal yang syubhat dan meragukan lebih baik ditinggalkan.(*)                                                         

12 Fakta tentang Amplop 10 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
4 comments

Benda ini sangat dikenal masyarakat. Selain manfaatnya, dia juga memiliki beragam makna, tergantung pada konteks dan kalangan yang memakainya. Bagi petugas pos, amplop berarti surat. Namun bagi kalangan lain, amplop diartikan uang terima kasih atau uang suap. Inilah 12 fakta tentang amplop yang saya rangkum dari berbagai sumber :

1. Berwujud pipih dan datar.

Tidak ada yang berbentuk bulat seperti bola atau gilig seperti pipa.

2. Kebanyakan berbentuk persegi panjang.

Ada juga amplop yang berbentuk lingkaran, dan segitiga.

3. Mayoritas terbuat dari kertas.

Ada juga amplop yang terbuat dari plastik, kain linen atau bahan lain. Tetapi otak kita langsung mengingat secarik kertas yang dilipat sedemikian rupa bila mendengar kata amplop.

4. Umumnya berwarna putih.

Tak disangkal, mayoritas amplop dibuat dari kertas berwarna putih. Kendati ada yang berwarna lain, tetapi biasanya dipakai untuk keperluan khusus seperti tempat menyimpan berkas lamaran kerja, ucapan ulang tahun, ucapan idul fitri, ucapan natal, tanda berduka cita atau untuk diberikan kepada barongsai (amplop merah).

5. Sangat lengket dengan prangko.

Saking akrabnya ada iklan televisi yang tag-nya begini : ”….lengket kayak prangko.”

6. Jadi bagian dari alat tulis kantor.

Setiap kantor mewajibkan memiliki inventaris berupa amplop tetapi tak selalu menyediakan prangko.

7. Bisa dibuka-tutup.

Agar tak dilihat atau dibaca orang lain, salah satu sisi dari bagian belakang amplop bisa dibuka dan direkatkan dengan lem atau tali.

8. Identik dengan kantor pos dan korespondensi.

Sampai saat ini semua kantor pos menyediakan prangko dan menerima layanan pengiriman surat yang dikemas dalam amplop.

9. Bisa menjadi wahana kegiatan amal.

Amplop menjadi teman setia dan bentuk sopan-santun dalam setiap kali pemberian sumbangan berupa uang atau surat berharga.

10. Bentuk lain dari praktik kotor suap-menyuap.

Agar tak kentara dan terkesan tak menyalahi aturan, suap diberikan setelah uangnya dibungkus amplop.

11. Bahasa lain dari ucapan terima kasih.

Bila kita mengundang penceramah, modin, baik dalam seminar atau hajatan di rumah, wujud ucapan terima kasih dilambangkan dengan pemberian amplop, tentunya yang didalamnya berisi uang atau surat berharga.

12. Istilah sinis buat wartawan.

Khusus di Indonesia ada julukan wartawan amplop yang diberikan oleh masyarakat. Julukan ini mengacu pada wartawan yang suka menerima amplop berisi uang (bukan memberi amplop) dari narasumber baik terkait pemberitaan atau tidak. Amplop dalam dunia kewartawanan sudah menjadi hal biasa akibat berbagai aspek di sekeliling wartawan seperti rendahnya gaji yang diterima, budaya birokrasi yang korup sehingga mencoba menutupi aib lewat upaya “pembungkaman” terhadap pers, etika jurnalistik wartawan yang rendah, hingga keinginan dari narasumber untuk mendapatkan citra positif lewat pemberitaan media dengan cara “berbuat baik” kepada wartawan. Sudah lama disadari, budaya amplop merusak independensi wartawan dan media tempatnya bekerja. Kini ada gerakan anti-amplop yang dikampanyekan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen).

Selengkapnya tentang sejarah amplop, klik di sini

Teori Matematika dalam Jurnalisme 30 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
24 comments
Jurnalisme walau diakui sebagai cabang ilmu komunikasi, sebenarnya justru penganut kaidah-kaidah matematika yang taat. Bukan omong kosong bila jurnalisme selalu menuntut adanya transparansi, akuntabilitas, validitas, dan kepastian fakta. Seperti matematika, jurnalisme pun mengharamkan terjadinya kekacauan data, kesuraman (ketidakjelasan) narasumber, mencampurkan opini dalam reportase, dan mengarang atau memalsukan data. Pendeknya, jurnalisme yang bagian dari ranah ilmu sosial, berjalan beriring dan segendang sepenarian dengan matematika yang berada di wilayah ilmu-ilmu eksakta.

Bila dikaji lebih dalam, tampak jelas bahwa jurnalisme menerapkan prinsip-prinsip matematika secara ketat. Salah satunya adalah teori probabilitas (peluang/kemungkinan) yang dikenal luas dalam statistika – salah satu anak cabang matematika. Teori ini bertujuan mendapatkan data seakurat mungkin agar diketahui jarak pasti dari kondisi ideal. Dalam jurnalisme, kondisi ideal itu adalah fakta seakurat mungkin dan kebenaran sebenar-benarnya. Namun untuk mendapatkan fakta seakurat mungkin tidaklah mudah dan kebenaran sendiri memiliki banyak klaim. Oleh karena itu, diperlukan metode yang diterima semua pihak untuk mendekati kondisi ideal alias fakta yang 100 persen akurat.

Dalam teori probabilitas disebutkan nilai probabilitas (peluang) adalah jumlah peluang yang tersedia dibagi jumlah yang memperebutkan. Secara matematis rumusnya sbb:

        p = x / n

(dengan p nilai probabilitas, x jumlah peluang yang tersedia, n jumlah yang memperebutkan peluang)

Sebagai ilustasi adalah peluang mendapatkan kursi PNS dalam tes CPNS. Misalnya ada 100 peserta CPNS dan hanya 5 posisi yang diperebutkan, maka peluang tiap peserta adalah 5/100 atau 1/20. Dengan kata lain, agar bisa diterima menjadi PNS, tiap peserta CPNS harus bisa menyisihkan 19 saingannya.

Teori peluang ini diterapkan dalam mendapatkan fakta dari narasumber. Agar data yang digali dari narasumber adalah fakta (bukan rekayasa atau opini narasumber) maka kehati-hatian saat wawancara mutlak diperlukan. Harus disadari, tiap narasumber memiliki agenda tersembunyi saat berbicara kepada wartawan. Ada yang karena ingin dipuji, ingin mendapat simpati, ingin menyerang pihak lain, atau ingin menyembunyikan sesuatu. Di sisi lain, wartawan sejak pertama kali datang juga memiliki modal pemahaman yang bias terhadap suatu peristiwa. Penyebabnya karena memiliki keyakinan politik berbeda, latar belakang budaya dan pendidikan, interes pribadi, kebijakan media tempatnya bernaung, tekanan pihak lain, atau ketidaktahuan terhadap suatu masalah.

Misalkan kita mewawancarai tokoh A. Jumlah kemungkinan jawaban yang diberikan hanyalah dua yaitu benar atau salah. Artinya peluang mendapatkan informasi benar adalah ½. Begitupun peluang mendapat informasi salah adalah ½. Dari tiap pertanyaan yang diajukan pun peluang mendapat informasi benar adalah ½. Misalkan ada 10 pertanyaan yang diajukan, maka peluang mendapatkan informasi yang benar adalah 5/10 atau ½. Artinya ada peluang 5 jawaban yang diajukan tokoh A adalah benar dan 5 jawaban yang lain salah.

Alasan ini pula yang menyebabkan, narasumber tunggal dalam reportase jurnalistik sangat tidak dianjurkan. Wartawan yang hanya bisa mendapat satu narasumber dianggap sebagai wartawan tak profesional dan sering terjadi pada wartawan pemula. Editor atau redaktur selalu menekankan agar wartawan memperbesar peluang meraih informasi yang benar yaitu bergeser dari ½ ke arah angka 1 alias 100 persen. Caranya dengan memperbanyak narasumber dalam satu laporan jurnalistik. Makin banyak narasumber, peluang mendapat fakta dan kebenaran makin besar, itupun dengan catatan narasumber yang diwawancarai adalah yang kompeten. Pada saat yang sama memperkecil peluang terjadinya bias atau kesalahan data.

Sebagai contoh, bila kita mendapat 5 narasumber kompeten dan 2 narasumber tak berkompeten, maka peluang mendapat informasi akurat lebih besar dibanding peluang mendapat informasi salah.
Dalam jurnalisme memperkecil kesalahan data dilakukan dengan teknik cek dan ricek. Yaitu melakukan pemeriksaan ulang terhadap informasi yang diperoleh wartawan dari narasumber atau dari pihak lain. Pemeriksaan bisa menggunakan pembanding referensi, menanyakan ulang ke narasumber, mendatangi lokasi peristiwa, memutar balik pita rekaman (bila informasi direkam tape recorder), memeriksa foto dan lain-lain.

Teknik lain yang dipakai adalah cover both story (liputan dari dua sisi). Biasanya teknik ini dipakai untuk reportase terhadap konflik antara dua pihak. Kedua pihak harus diwawancarai dan disajikan dalam reportase yang berimbang. Lagi-lagi bertujuan agar mendapatkan data seakurat mungkin yaitu memperkecil peluang timbulnya informasi yang keliru. Namun teknik ini pun belum cukup karena terkesan menyuguhkan konflik semata. Pihak ketiga yang netral layak menjadi narasumber untuk menilai konflik yang terjadi dan tentu saja mengurangi terjadinya bias.

Sesungguhnya masih banyak teori matematika menjelaskan prinsip-prinsip jurnalisme. Seperti aljabar Boolean, persamaan Shannon, teori deret hitung dan lain-lain yang akan saya tulis di kesempatan berikutnya.

Shattered Glass, Kacamata yang Retak 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
4 comments

Jurnalis adalah profesi bermuka ganda dalam masyarakat Indonesia. Profesi ini dibutuhkan tapi juga dibenci. Disayang tapi juga dicemooh. Ketika masyarakat mendapatkan cerita yang menarik, masyarakat mengelu-elukan mereka. Saat informasi terasa hampa dan sensor kekuasaan begitu rapat, jurnalis diharapkan menyampaikan yang tabu dan ditabukan. Mereka membawa tugas berat : menyampaikan fakta dan kebenaran yang mahal harganya.Sebaliknya, jurnalis terlanjur diidentikkan dengan amplop. Masyarakat telanjur percaya, wartawan tak akan menulis dengan “baik” kalau tak diselipi amplop. Wartawan amplop alias wartawan bodrek sudah menjadi rahasia umum. Bahkan wartawan yang bekerja di media-media ternama pun tak steril dari fenomena amplop, lapan nam alias jale. Kalau mau aman dan tak diganggu pers, amplopin saja wartawan yang datang, begitu bisik-bisik di kalangan pejabat dan pengusaha ketika menjalin hubungan harmonis dengan wartawan. Jurnalis (apa infotainment?) juga sudah dianggap kawan tapi juga duri bagi artis dan pejabat yang suka bikin skandal.

Ah, begitu parahkan jurnalis? Begitu seramkah mereka? Atau begitu muliakah mereka? Lebih banyak mana: wartawan amplop atau wartawan tanpa amplop? Wartawan jujur atau wartawan yang suka bikin berita palsu? Tak ada survei yang pernah dilakukan untuk menjawab soal ini.

Memang jurnalisme di Indonesia belum begitu matang. Sekolah-sekolah jurnalistik tak sebanyak di negara-negara maju. Media massa memang bejibun semenjak era reformasi terbit, tapi yang benar-benar serius menggarap isinya jauh lebih sedikit dibanding yang mengusung jurnalisme kuning. Yang terakhir ini isinya tak bisa dijadikan rujukan karena hanya menjual sensasi.

“…ada lubang-lubang hitam dalam dunia yang dituntut harus selalu putih itu…”

Tetapi jangan berharap media-media “serius” isinya bisa dipercaya. Banyak kasus-kasus wartawan di negara-negara lain yang rupanya suka mengarang cerita, entah sebagian atau seluruh tulisan artikelnya. Salah satu yang heboh dan menggembarkan adalah yang menimpa The New Republic, majalah politik yang terbit di Washington. Majalah yang umurnya hampir 90 tahun itu, mengklaim sebagai satu-satunya majalah yang bisa masuk ke dalam Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat. Yang menimpa majalah berpengaruh ini digambarkan gamblang dalam film Shattered Glass

Saya mendapatkan DVD film ini tak sengaja sewaktu jalan-jalan di ITC Permata Hijau. Film ini layak ditonton oleh jurnalis atau profesi yang bersinggungan dengannya. Rupanya majalah sekelas The New Republic, salah satu yang dibaca presiden Amerika dan politisi di sana, punya wartawan yang sering menulis cerita bohong. Bahkan Stephen Glass-si wartawan yang suka mengarang cerita itu-sudah diangkat menjadi associate editor. Dari 41 tulisannya, 27 (kalau tak salah) adalah dikarang sebagian atau seluruhnya.

Nama-nama dalam karakter di film itu pun asli. Kejadiannya nyata. Digambarkan pula bagaimana si Stephen Glass berhasil meyakinkan editornya karena mendapatkan liputan yang “berwarna” dan menarik hingga muncul kecurigaan dari Adam Penenberg, wartawan Forbes Digital yang tak berhasil mengkonfirmasi satupun narasumber dalam tulisan Glass. Proses investigasi internal si redaktur lewat konfirmasi cek dan ricek serta kunjungan ke lokasi kejadian pun digambarkan detil. Semua kerja jurnalistik tampak di sini.

(lagi…)