jump to navigation

Wortel (juga) Bisa Stress 22 Februari 2008

Posted by sri nanang setiyono in Kimia.
2 comments

Sayuran wortel rupanya memiliki tabiat yang sama dengan manusia bila mengalami tekanan. Bila umumnya manusia menjadi murung, jutek, mudah tersinggung dan mengeluarkan reaksi negatif berupa ucapan atau perbuatan, wortel pun demikian. Bedanya wortel tak bisa bercakap-cakap mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk ucapan. Tetapi ia bereaksi dengan mengeluarkan zat yang membuatnya terasa pahit.

Dalam jurnal ISHS Acta Horticulturae 604 yang ditulis oleh M. Kleemann, W.J. Florkowski berjudul Bitternes of Carrot as Quality of Indicator disebutkan cita rasa pada wortel ditentukan oleh kandungan senyawa-senyawa terpena. Yaitu gula bebas, terpenoid yang mudah menguap, karbonil, fenolat, pyrazines and asam amino bebas. Senyawa-senyawa itu biasanya memberi cita rasa harum dan segar pada wortel. Tetapi pada konsentrasi tinggi, malah menyebabkan cita rasa yang tidak menyenangkan. Yang terakhir ini disebabkan oleh faktor genetika, kondisi penanaman, serangan hama dan serangga, penanganan pasca panen dan kondisi atmosfer penyimpanan.

Penelitian di Jerman baru-baru ini membuktikan hal-hal tersebut. Wortel-wortel yang memiliki rasa pahit rupanya mempunyai kandungan zat kimia bernama isocumarin atau 6-methoxymellein atau 3-methyl-6-methoxy-8-hydroxy-3,4-dihydro-isocumarin dalam konsentrasi tinggi. Zat ini diproduksi oleh wortel di kala stress.

Dalam penelitian itu, kadar isocumarin diukur dari wortel-wortel yang mendapat perlakukan pasca panen yang berbeda. Hasilnya, penanganan pasca panen yang lembut dan berhati-hati mengurangi kadar isocumarin dalam wortel. Sebaliknya wortel yang diperlakukan kasar memiliki kandungan isocumarin yang relatif lebih tinggi.

Hal ini memberi kesimpulan kepada para ilmuwan bahwa wortel juga “tidak suka” diperlakukan kasar. Wortel juga bisa stress seperti halnya pada manusia. Perlakukan kasar yang dimaksud antara lain pencabutan umbi wortel dari tanah secara kasar dan terburu-buru, pemindahan ke dalam wadah dengan cara menjatuhkan atau melemparnya dari tempat tinggi, hingga penyimpanan dalam tempat volume yang besar dan bertumpuk-tumpuk. Pendek kata, agar menghasilkan cita rasa yang wangi, manis dan menarik, wortel harus diperlakukan dengan cara-cara yang lebih santun. Soalnya kalau sudah stress, yang rugi manusia juga. Hidup wortel.

Problem Komunikasi di Lembaga Pendidikan Sain (Saran untuk FMIPA Undip) 14 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Kimia, Pendidikan, Sains.
21 comments

Tulisan ini adalah surat terbuka kepada civitas academica Fakultas MIPA Undip. Tak ada niat menghakimi atau membongkar kekurangan fakultas yang pernah saya jadikan tempat belajar beberapa tahun lalu. Dengan latar belakang saya selaku wartawan di beberapa media massa, dan pengamatan terhadap lembaga-lembaga pendidikan di dalam dan luar negeri, saya ingin berbagi usulan pengembangan fakultas yang saya cintai ini.

Garis besar dari pokok-pokok pikiran ini mencakup hal-hal mendasar yang dihadapi oleh lembaga pendidikan di Indonesia dan tantangan bangsa di tengah tren global saat ini. Masalah yang dihadapi lembaga pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah :
1. Tuntutan kualitas pendidikan
2. Tuntutan kualitas produk pendidikan (lulusan atau alumni, kepedulian sosial, dan manfaat )
Hingga saat ini formula untuk memenuhi keduanya memang masih menjadi perdebatan para ahli. Yang pertama biasanya berkait dengan sumber daya manusia (pengajar dan pengelola), prasarana dan sarana belajar, serta sistem pendidikan dan kurikulum. Sedangkan yang kedua mencakup tanggung jawab sosial lembaga terhadap output kegiatan belajar mengajarnya dan keberadaan fisiknya di suatu tempat. (lagi…)