Air 4 April 2008
Posted by sri nanang setiyono in Hikmah, Lingkungan hidup.1 comment so far
Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau pun mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma, secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.
Emoto menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.
Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikankalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.
Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.
“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.
Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima olehyang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain dan makhluk hidup lain.
Powered by ScribeFire.
Ada Apa dengan MetroTV 22 Februari 2008
Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Lingkungan hidup.6 comments
Bila anda cermati pemberitaan sejumlah media akhir-akhir ini, Anda bakal tercengang karenanya. Setelah perihal kematian mantan Presiden Soeharto yang pemberitaannya tidak proporsional–hanya mengangkat sisi positif sang jendral besar dan mengaburkan kasus-kasus pelanggaran HAM dan dugaan korupsi–ada media yang jelas-jelas mencoba mengaburkan kasus semburan lumpur di Sidoarjo Jawa Timur. Kasus lumpur Lapindo yang beberapa hari lalu dibawa ke Rapat Paripurna DPR, Selasa (18/2), rupanya sudah dicoba dikaburkan oleh MetroTV dengan mengubah istilah Lumpur Lapindo dengan istilah Lumpur Porong. Lucunya hal ini tidak dilakukan sejak semburan lumpur terjadi dan kasusnya menjadi perhatian masyarakat.
Sebagai media yang mengklaim dirinya unggul dalam penyajian liputan berita, agak aneh bila MetroTV bermain mata dengan mencoba membelokkan opini publik. Televisi yang selalu mengumumkan dalam running text bahwa wartawannya tidak menerima pemberian dalam bentuk barang atau uang dalam menjalankan tugas jurnalistik, jelas-jelas tengah bermain mata dengan pihak lain. Tujuannya menggiring opini publik agar memisahkan masalah semburan lumpur dari nama Lapindo, perusahaan perminyakan yang semula dimiliki grup Bakrie yang melakukan pengeboran hingga menyebabkan terjadinya semburan lumpur pada Mei 2006.
Perubahan penyebutan–dari lumpur Lapindo menjadi Lumpur Porong–tampaknya sengaja dibuat menjelang rapat Paripurna DPR yang memutuskan untuk menindaklanjuti masalah itu dengan mengajukan interpelasi ke Pemerintah. Sebelumnya TP2LS mengeluarkan rekomendasi bahwa penyebab luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas Inc akibat bencana alam dan bukan karena kecerobohan manusia.
Bila rekomendasi ini yang jadi rujukan pemerintah, maka biaya ganti rugi dan tanggung jawab penanganan para korban akan dialihkan kepada negara. Dengan kata lain, pihak Lapindo yang diwakili manajemen PT Minarak Lapindo Jaya (sengaja dibentuk untuk membayar kompensasi korban lumpur), bakal lepas tangan terbebas dari kewajiban hukum. Efeknya pun luar biasa. dana pertanggungan itu bakal dibebankan kepada pemerintah yang tentu saja memakai uang APBN yang notabene adalah uang rakyat. Bayangkan, kesalahan dari segelintir pengusaha kok ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia lewat APBN?
Dalam buku Konspirasi Di Balik Lumpur LAPINDO : Dari Aktor Hingga Strategi Kotor (Galang Press, Jogjakarta) karangan Ali Azhar Akbar sebenarnya sudah diungkap adanya upaya-upaya terselubung untuk membungkam opini publik melalui strategi kehumasan. Selain dengan memasang iklan, juga dengan menggunakan istilah Lumpur Porong hingga Lumpur Sidoarjo (yang terakhir ini dipakai oleh TP2LS).
Tapi rupanya MetroTV tidak sendirian. Sebuah grup perusahaan media besar juga bermain mata dengan menutup-nutupi kasus ini. Laporan majalah National Geographic edisi Januari 2008 berjudul The Unstoppable Mud konon (saya belum mengeceknya) tidak diturunkan dalam edisi bahasa Indonesia dari majalah yang sama. Sengaja atau lalai?







