jump to navigation

Menjadi Pemberi Energi 11 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Esai, Motivasi.
add a comment

Apa yang Anda lakukan bila lelah, lesu, tak bergairah, malas dan lain-lain? Ada banyak pilihan tindakan yang bisa kita ambil yaitu rekreasi, refreshing, istirahat, dan mengonsumsi obat atau makanan pembangkit energi. Semua kegiatan tadi mengarah pada satu titik : mengembalikan energi.

Membicarakan energi tak melulu soal tenaga listrik dan BBM. Secara kasat mata dua hal tersebut memang yang bisa diukur dengan berbagai peralatan teknik buatan manusia. Untuk mendapatkannya orang harus mengeluarkan uang.

Dalam teori fisika kita mengenal Hukum Kekekalan Energi. Artinya jumlah energi selalu tetap. Energi, meskipun sudah terpakai, sebenarnya tidaklah hilang, tetapi berubah menjadi materi atau energi lain. Misalnya menjadi panas, menjadi getaran listrik, getaran magnet, atau radiasi. (lagi…)

Jangan Bilang Ah…. 13 Maret 2007

Posted by sri nanang setiyono in Motivasi.
6 comments

Saat masih kuliah beberapa tahun dulu, dosen agama Islam saya pernah mengutip ucapan Nurcholis Madjid yang tidak pernah bisa saya lupakan hingga saat ini. Konon Nurcholis Madjid berkata begini : “Satu kali saja kita berkata ah….sama artinya membunuh separuh potensi diri kita.” 

Cak Nur tentu tak asal bicara. Ilmu yang dimiliki dan lingkungan sekitarnya memberinya kesimpulan tersebut. Tak usah jauh-jauh kita berkaca pada Cak Nur, tokoh yang tak diragukan lagi intelektualitasnya. Kalau diperhatikan, berapa kali sehari kita bertemu dengan orang-orang yang berkata ah? Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus? 

Hampir setiap orang yang kita temui di sekeliling kita, selalu menyisipkan kata ah dalam dalam perbendaharaan bahasa mereka. Dalam obrolan keluarga, bercakap-cakap dengan teman, diskusi di kantor, di tempat kerja, bahkan di sekolah-sekolah. Saya berani jamin, sangat sedikit kenalan kita yang tak pernah mengucapkan kata tersebut. 

Tanpa sadar, bila kita mengucapkan kata ah sekali saja, sebenarnya kita sedang menguatkan pondasi pesimisme ke dalam jiwa. Kita memupuk rasa tak percaya diri. Kata ah menjadi pembenar kepada karakter ke-pengecut-an dan ke-pencundang-an kita. Ia membuka peluang lebih lebar hati untuk menjadi penakut. Satu saja kata ini bisa memerosotkan semangat hidup, harapan, dan menjadikan kita manusia yang lebih kerdil dari sebelumnya. 

Tentu saja tak semua kata ah, masuk kategori ini. Ada banyak makna kata ah, tapi yang paling sering kita temui adalah kata ah yang melambangkan penolakan, keluhan, ketidaksetujuan, penyepelean (dari kata dasar sepele), ketidakpercayaan diri, pesimisme dan sejenisnya. 

Entah benar atau salah, bila diperhatikan, sangat jarang film-film asing yang menampilkan kata ini (atau sejenisnya) dalam dialog-dialog para pemainnya. Bandingkan dengan sinetron-sinetron kita. Atau lihat pula isi media massa di negeri ini. Sebuah harian ibukota hampir setiap minggu menurunkan laporan khusus tentang berbagai isu penting yang dihadapi bangsa. Anehnya, entah disadari oleh awak redaksinya atau tidak, topik yang dibicarakan selalu soal-soal yang berkaitan dengan problem yang kunjung usai. Jarang sekali diangkat tema-tema optimisme yang bisa menggugah kesadaran pembaca untuk berjuang. Bahkan komentar-komentar atau kolom yang ditulis para pengamat juga penuh dengan nada pesimisme. Walau barangkali tujuannya untuk menyadarkan pembaca, namun hal sebaliknya bisa saja terjadi. Pembaca keliru menangkap pesan dan merekam sinyal-sinyal pesimisme itu dalam alam bawah sadar mereka ! 

Mari berandai-andai. Bila dari 10 orang-orang dekat Anda, satu orang di antaranya tak lagi mengucap kata ah dan selalu penuh pesimisme, tidakkah Anda merasakan manfaatnya? Pasti kita ikut penasaran dan ingin bersemangat seperti dia, bukan? Andaikata pula, satu dari anggota keluarga kita selalu optimistis dalam hidup dan tak pernah berkata ah, saya yakin hidup kita akan lebih bahagia. Bagaimana pula bila hal itu dilakukan para pemimpin kita? Meminjam jargon iklan rokok, saya yakin akan terjadi suasana “bikin hidup lebih hidup”.  Seorang tokoh pernah ditanya oleh wartawan tentang tindakan apa yang akan dilakukan bila di depannya ada granat yang akan meledak. Si tokoh dengan mantap menjawab,” Saya akan tetap berdiri.” 

Ok, Anda tak perlu meniru tokoh tersebut. Cukup hapus kata ah dari kamus hidup Anda dan rasakan hasilnya.  Bersedia? Ingat baik-baik kata bijak berikut. If you could not change the world, at least you could make a difference.