Parfum 22 September 2007
Posted by sri nanang setiyono in Cerpen, Sastra.3 comments
Bau wangi sudah lama tak akrab dengan Pak Kemis. Pria renta ini malah tak lagi menganggap wewangian sebagai sesuatu yang enak dinikmati. Buat apa wangi-wangi kalau tak bisa memberi apa-apa, begitu kepalanya selalu berguman setiap kali berpapasan dengan pria atau wanita yang memakai parfum wangi. ¨Nanti kalau jadi mayat juga busuk….,¨
Ini adalah tahun ke-36 Pak Kemis tak bertemu wewangian. Lebih tepatnya, memakai wewangian di tubuhnya. Toh bukan berarti ia tak pernah mandi. Minimal sekali sehari, ia selalu mandi untuk menyegarkan tubuh dengan sabun mandi. Sabun yang tentu saja wangi meski aromanya cepat pudar begitu peluh mengguyur tubuhnya lagi. Maklum bukan sabun terkenal yang iklannya kerap muncul di televisi, melainkan sabun batangan yang dibelinya di pasar dalam bentuk potongan-potongan kecil bekas irisan golok.
Bukan tanpa alasan Kemis cuek pada wewangian. Lebih dari seperempat abad ini, ia hidup dari memunguti sampah. Rejekinya dikais di antara timbunan sampah yang berjejer di depan rumah-rumah penduduk, atau di tempat sampah sekitar pasar, kampus atau terminal. Kadang-kadang ia pergi ke tanah lapang atau ke kawasan perkantoran bila ada peringatan hari raya atau resepsi di salah satu instansi. ¨Kertas-kertas yang dibuang di sana masih bagus. Harganya juga lumayan¨.
Sore itu, ada sebuah botol parfum yang dia dapati dari tong sampah di depan rumah megah di pinggiran kota. Kemis tertarik pada kemasannya yang bentuknya unik. Botol transparan berwarna ungu berlekuk-lekuk yang dicetak menyerupai kepala seorang perempuan cantik. Botol ini masih terdapat di dalam kotak kardus kecil pelindungannya. Di sisi-sisinya terdapat aksara-aksara latin dalam bahasa asing yang tak ia mengerti. Lama ia memandangi botol itu. Apalagi bentuk kepala itu mengingatkannya pada Sumi, almarhum istrinya. Ia lantas menyimpan botol di saku celananya dan kembali sibuk mengais tumpukan sampah.
Selepas maghrib, sambil duduk di bangku rumahnya, Kemis mengamati botol parfum berbentuk kepala perempuan itu. Cairan di dalamnya ternyata masih lumayan banyak. Lebih dari separuh. Kemis yakin, si empunya botol itu pasti bosan dengan parfum ini atau sudah membeli yang lebih baru. Yang dia tahu, sebotol parfum dengan bahasa asing itu tak bisa ditukar dengan beberapa lembar uang ribuan.
¨Kalau Sumi masih hidup, pasti dia suka botol ini,¨ hatinya berbisik sambil menimang-nimang si botol. Sesekali wajahnya tergurat senyum. Beberapa saat kemudian matanya berkaca-kaca. Namun tak berapa lama mukanya kembali cerah sambil menggangguk-angguk seperti sepakat dengan sesuatu.
Azan Isya membuat Kemis bangkit dan bergegas mengambil air wudu. Ia berjalan kaki ke mushola yang sama seperti yang dilakukannya berpuluh tahun lalu. Usai solat, warung Mbak Jaroh adalah tujuan berikutnya : mengisi perut, pulang dan tidur. Tapi malam ini, Kemis merasa matanya susah ditutup. Ia teringat kembali pada botol parfum itu. Sambil rebahan di kasur tanpa sprei, ia pandangi benda bulat yang wangi itu. Lagi-lagi wajah Sumi terbayang.
—–*****——-
Tiga puluh enam tahun lalu, Kemis bertemu Sumi. Saat itu ia masih muda dan gagah. Gadis ini ditemui pada hari pertama ia mulai terlibat dengan sampah. Sumilah, nama lengkapnya. Mereka bertemu di warung nasi dekat pasar. Sumi adalah pelayan warung nasi, sedangkan Kemis petugas kebersihan sampah di pasar ini. Sejak itu, Kemis jatuh cinta pada Sumi, dan selalu mampir bila perutnya makan selepas memungut sampah. Mereka lantas menikah dan tinggal mengontrak kamar tak jauh dari warung nasi tempat Sumi bekerja.
Masih menggengam botol itu, Kemis terbayang masa lalu. Ia mengalami banyak kejadian menyenangkan maupun menyakitkan sebagai pemulung. Pernah tiba-tiba ada polisi datang ke rumahnya dan menangkap Kemis. Ia dituduh mencuri sepatu dari rumah seorang pejabat kota. Gara-garanya, istri si pejabat kehilangan sepatu mahal yang dibelinya dari luar negeri. Konon sepatu itu dipasangi berlian dan harganya cukup untuk membeli sebuah mobil. Karena Kemis sering melintas di depan rumah si pejabat dan mengais sampah dari depan rumah itu, ia pun kecipratan getah. Hampir satu minggu Kemis di-bon tanpa pemeriksaan yang jelas. Tapi karena tak ada bukti cukup, ia pun dilepas meski dengan tubuh lebam-lebam bekas ¨pijatan¨ interogasi. Saat itu, Kemis sudah dipecat sebagai pegawai pasar karena ada pengurangan karyawan. Belakangan ia mendengar, satpam si pejabatlah yang akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara. Meski geram, Kemis merasa bahagia karena selama dalam tahanan selalu dijenguk Sumi.
Tak lama setelah kejadian itu, lagi-lagi ia berurusan dengan polisi. Kali ini bukan sebagai tersangka. Kemis jadi saksi karena menemukan seonggok orok bayi yang masih hidup di timbunan sampah. Ia pun kehilangan satu hari waktunya mencari nafkah karena dimintai keterangan polisi. Kejadian ini bukanlah yang terakhir, beberapa tahun lalu saat Sumi sakit-sakitan, ia kembali menemukan mayat orok bayi. Baunya sudah menyengat. Orok ini ditemui di tempat sampah tak jauh dari kampus perguruan tinggi terkenal di kota ini. Orok yang dibungkus kertas koran ini bentuknya sudah membusuk. Ada bercak-bercak darah di sekitarnya. Tampaknya ia baru saja dilahirkan lantas dibunuh oleh orang tuanya, tampak dari ari-ari yang masih melekat.
Mengingat masa lalu selalu membawa rasa getir bagi Kemis. Selama bergaul dengan sampah, ia kerap mengelus dada mengetahui perilaku para mantan pemilik sampah. Berkali-kali Kemis mendapati sisa kondom dan pil anti hamil bila mengais sampah di sekitar kos-kosan mahasiswa, selain pembalut wanita, kertas-kertas fotokopi atau pembungkus makanan. Ada pula bekas bong, sisa daun ganja atau sampul VCD porno di sana. Kemis paham fungsi benda-benda itu setelah diberitahu rekannya sesama pemulung. Tetapi bukan itu sebenarnya yang paling membuatnya sedih. Tiga puluh tahun menikahi Sumi, seorang buah hati pun tak pernah lahir ke dunia. Hingga maut menjemput Sumi empat tahun lalu, mereka hanya hidup berdua. Namun Kemis tak pernah menuntut atau menyalahkan Sumi, begitupun sebaliknya. Lewat bahasa mata dan hati, mereka seperti sepakat ada hal-hal yang kurang pada diri mereka. Kesetiaan Sumi pula yang membuat Kemis tak sampai hati untuk menikah lagi bahkan tatkala istrinya itu sudah mangkat.
Senyum Sumi yang mengembang adalah obat hati bagi Kemis. Suatu hari, Kemis menemukan dompet kulit berwarna coklat keemasan di tumpukan sampah di seberang jembatan besi, tak jauh dari halte bis dalam kota. Memang tak ada uang di dalamnya. Hanya ada beberapa kartu nama, KTP, dan sebuah anak kunci model lama yang sudah berkarat. Tadinya Kemis bermaksud membawa dompet itu untuk hadiah Sumi. Tapi setelah melihat KTP itu masih berlaku, sang istri menyarankan untuk mengembalikan dompet ke si empunya. Dompet berikut isinya itu pun dikembalikan. Namun mereka tak bisa bertemu pemiliknya dan hanya dititipkan ke satpam. Dari satpam ini pula, Kemis mendengar tentang nasib si tuan rumah yang beberapa hari lalu terkena gendam saat berbelanja di mal. Semua perhiasan dan uangnya raib dibawa kabur pelaku gendam, termasuk dompet yang belakangan ditemui Kemis itu.
Dua hari kemudian, satpam itu datang ke rumah Kemis dan memintanya datang. Katanya tuannya ingin berterima kasih. Kali ini Kemis menolak. ¨Tak usah pak. Saya tak mau dianggap ada apa-apanya,¨. Satpam itu mahfum dan beberapa jam kemudian datang lagi. Kali ini bersama wanita setengah baya yang diantar mobil mewah mengkilat.
¨Kalau bukan Pak Kemis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Kunci di dompet itu adalah satu-satunya kunci untuk membuka kotak penyimpanan perhiasan, uang dan surat-surat berharga. Saya sudah cemas karena takut terlambat membayar gaji karyawan hanya gara-gara tak bisa membuka kotak itu. Sebenarnya suami saya juga punya kuncinya, tapi dia lagi di luar negeri. Saya mohon Pak Kemis tak keberatan menerima sedikit ucapan terima kasih ini dari saya,¨ ucap Ibu Rahmadi yang ternyata pemilik toko kue terkenal di kota ini.
Sebenarnya Kemis menolak menerima amplop coklat yang lumayan tebal itu. Dia berkali-kali beralasan tindakannya tanpa pamrih. Ikhlas. Tetapi tatapan Ibu Rahmadi yang ramah dan sikapnya yang hormat, membuat Kemis tak bisa lagi menolak. Uang itu akhirnya ia belikan almari dan meja rias sebagai hadiah untuk Sumi yang kini masih tersimpan di rumahnya. Sisanya disedekahkan ke mushola dan sebagian ditabung.
—–*****——
¨Kang, sudah makan belum? Jangan memaksa untuk cari duit. Badan kan udah tua, kurang apa lagi sih kita. Mending waktunya kita pakai untuk beribadah,¨ kata Sumi. Wajahnya berseri-seri. Kulitnya bersinar terang. Tidak seperti biasanya, Sumi mengenakan pakaian yang bagus, bersih dan tampak anggun seperti bidadari. Parasnya tampak cantik dan lebih muda. Kemis sendiri heran, istrinya itu memakai pakaian yang ia sendiri tak mampu membelikannya. Yang lebih membuatnya heran, Sumi sangat wangi. Mereka seperti bercakap-cakap di kebun bunga yang segar dengan aroma yang membuat siapa saja senang berlama-lama di sana. Melihat istrinya seperti itu, Kemis merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia menunduk tersipu. Saat melirik istrinya itu lagi, Kemis kaget. Sumi tak lagi di hadapannya.
¨Oh…sudah subuh,¨. Kemis tersadar kalau yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. Ia pun bangkit dan merasakan tangan kanannya memegang benda keras. Botol parfum. Oh..rupanya selama tidur, botol itu tak lepas dari genggamannya.
Pagi ini, Kemis merasa bersemangat. Wajahnya sumringah. Setiap kali bertemu tetangga atau orang yang dikenalnya selalu menyapa atau mengucap salam. Para tetangga tak heran dengan sikap Kemis ini, karena mereka mengenal Kemis sebagai tetangga yang ramah. Namun penampilan Kemis kali ini benar-benar membuat tetangga-tetangganya heran. Bahkan orang-orang yang melihatnya pun heran. Kemis berbeda dari hari-hari biasanya. Penampilannya lebih rapi. Ia tak memakai pakaian kotor atau compang-camping meski sedang mengais sampah. Tetapi yang paling beda adalah bau tubuhnya. Tubuhnya menebar bau harum yang segar. Wangi. Ya…Kemis memakai parfum yang ditemukannya kemarin.
Sudah seminggu ini Kemis jadi pusat perhatian. Para tetangga pun jadi sering memuji sekaligus bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dengan Kemis. Seperti tak terganggu, Kemis tetap saja bersikap ramah.
¨Wah kemajuan nih, sudah tampil beda,¨ puji Yatmo.
¨Gitu dong Kang. Kan dapat pahala bikin orang lain senang. Mbok saya dibagi itu minyak wanginya,” kata mbok Darti.
¨Jangan-jangan Pak Kemis jatuh cinta lagi ya,” ledek Pak RT.
Semuanya diladeni oleh Kemis dengan sabar.
¨Saya cuma nemu parfum bekas. Daripada dibuang kan lebih baik dipakai sendiri,¨ ungkapnya sopan.
¨Kalau semua pemulung wangi kayak Pak Kemis, bisa-bisa orang-orang kantoran bakal susah dibedakan dari pemulung..hahahaha…,” gurau Parno, rekan seperjuangan Kemis sesama pemulung.
Lagi-lagi Kemis jadi bahan omongan. Tapi kini gara-gara bau tubuhnya yang wangi itu tak lagi dihirup para tetangga. Mereka heran karena sudah dua hari ini Kemis tak kelihatan. Jamaah mushola pun tak melihat sosok Kemis yang biasa ditemui saat Subuh dan Isya. Rumahnya juga gelap. Warga mengira Kemis pergi pulang kampung. Biasanya satu minggu ia di sana. Tetapi Parno, temannya sesama pemulung, malah menghadap Pak RT mencari tahu keberadaan lelaki tua ini.
¨Saya dari kampung pak. Kalau Pak Kemis pulang, pasti saya ketemu,¨ ucapnya kepada Pak RT.
Segera saja warga menggelar rapat dipimpin RT. Mereka sepakat mencari tahu keberadaan Kemis. Sebagian berinisiatif mendobrak rumah Kemis. Sisanya melapor ke polisi. Hari itu juga, dengan diawasi polisi, warga mendatangi ke rumah Kemis yang terletak di ujung gang. Mereka yakin pria ini ada di dalam sana. Bau wangi yang menyerbak menambah keyakinan itu. Berkali-kali dipanggil, tak ada balasan. Akhirnya pintu rumah sederhana itu didobrak. Hanya saja, Kemis tak ada. Rumahnya kosong. Mereka hanya menemukan tumpukan kardus bekas, kertas bekas, botol-botol air mineral dan aneka macam logam dan barang bekas. Botol parfum itu pun mereka dapati di atas meja rias. Isinya masih seperempat.
¨Aneh, rumahnya bersih dan rapi sekali. Biasanya Pak Kemis tak serapi ini menata barang-barangnya. Tapi kemana dia ya,¨ guman pak RT.
Pencarian diteruskan. Sebagian warga menghubungi rekan-rekan Kemis. Pak RT bahkan mengadakan doa bersama demi keselamatan Kemis. Tapi hasilnya tetap nihil. Seminggu sejak ia menghilang, tetap tak ada kabar berita tentang dirinya. Ia seperti menguap menjadi asap dan menghilang ditiup angin.
Jam 5 sore, ponsel pak RT berbunyi. ¨Pak RT, saya Brigadir Mualim dari Polsek. Kami menemukan jenazah yang mirip ciri-ciri Pak Kemis. Bapak diminta hadir ke kamar mayat untuk melakukan identifikasi segera¨. Pembicaraan ditutup. Berita penemuan ini segera menyebar. Beberapa warga dengan kendaraan seadanya bergegas ke kamar mayat. Beberapa polisi sudah ada di sana. Warga diajak masuk ke ruang pemulasaraan jenazah dan dihadapkan pada lemari-lemari mayat yang berjejer pada salah satu sisi dinding.
¨Nomor 9,¨kata seorang petugas rumah sakit didampingi polisi. Pintu lemari bernomor 9 itu dibuka, dan handle laci di baliknya ditarik keluar.
¨Ïnalillahi waina ilaihi rojiun,¨ kata pak RT. ¨Ini memang Pak Kemis, warga saya,¨ lanjutnya. Tubuh itu membujur masih mengenakan celana pendek setinggi lutut dan kaos warna merah. Ada kertas label diikatkan ke jempol kaki kanannya dengan tulisan ¨tak dikenal¨.
¨Seorang warga melihat dia tertimbun tumpukan sampah di TPS seminggu lalu, tapi baru berani melapor kemarin. Yang mengherankan badannya tidak membusuk meskipun sudah meninggal satu minggu. Malah baunya harum dan wajahnya seperti orang tersenyum, ¨ terang Brigadir Mualim yang tiba-tiba muncul di ruang itu.
Semua yang hadir di ruang itu mendadak pucat. Ada hawa kengerian yang tiba-tiba menyelinap. Tapi tak sedikit yang justru lega……
Semarang, 21 September 2007
Sahabat 3 Maret 2007
Posted by sri nanang setiyono in Cerpen.2 comments
Tidak seperti biasanya, Vera merasa tak betah di kantor. Sejak pagi hingga siang ini, semangat kerjanya lunglai. Otaknya berbisik mengajak segera pulang ke rumah atau keluar nongkrong di kafe di mal dekat kantornya. Tak ada aktivitas penting yang dia lakukan. Berkas-berkas proposal yang butuh approval dari atasannya, dibiarkan menumpuk di atas meja. Kebetulan sang bos yang konsultan manajemen, tak datang karena sedang mengikuti seminar di luar kota. Vera bisa sedikit bernafas lega.Masih dengan muka masam, Vera mencoba mengurangi rasa bete-nya sambil memainkan jemarinya di atas keyboard komputer. Chatting adalah favoritnya, meski harus dilakukan sembunyi-sembunyi bila sedang tak ada bos.
“Sar, gue bingung harus gimana. Gue pengen datang tapi juga males ketemu mereka,” tulis Vera di jendela Yahoo Messenger. (lagi…)
Wajah Tanpa Rupa 21 Oktober 2006
Posted by sri nanang setiyono in Cerpen.2 comments
Wajah Tanpa Rupa
Aku baru saja tidur. Bangun. Mataku masih terkatup. Kelopak mata berat rasanya untuk dibuka. Tetapi, dorongan itu begitu kuat. Tak bisa ditahan. Aku harus terjaga. Mimpi-mimpi itu datang lagi. Aku tak bisa menolak apalagi mengelak. “Kalau aku terjaga, aku bisa lari darinya,” pikirku. Bukan. Bukanya aku taku. Bukan karena pengecut. Bila aku sadar, aku yakin mampu melawan mimpi-mimpi itu. Mimpi yang selalu datang menemui ruang tidurku belakangan ini.
Melawan, lagi-lagi aku ingin melawan. Tapi….tidak, aku tidak melawannya. Aku tidak mengenalnya. Bagaimana aku melawannya? Bosan rasanya menyebutkan istilah itu. Aku sebenarnya mulai menikmati datangnya mimpi-mimpi yang aku benci itu. Ada perasaan lain. Pengalaman yang belum pernah aku alami. Sensasi tak terukur. Entah apa namanya. Tapi sejujurnya, aku agak takut menghadapinya.
Wajah. Wajah dalam mimpi itu…kosong, hampa. Wajah-wajah kosong tanpa muka. Tanpa mata. Datar seperti lantai porselen tempat aku berdiri sekarang. Kosong tapi bersuara. Suara-suara aneh. Suara yang membawaku melayang ke masa kecil. Mengingatkan hantu-hantu seperti dalam film-film nasional dulu yang kadang-kadang masih di putar di stasiun tv.
Bukan. Bukan wajah kosong itu sebenarnya yang membuatku berkeringat. Nafasku berpacu atau otakku pusing dibuatnya. Tapi jeritannya. Teriakannya. Wajah tanpa rupa, selalu berteriak, menjerit, merintih dalam mimpi-mimpiku. “Aku, aku, aku adalah engkau,” teriaknya dalam mimpi. Suaranya melengking. Seperti orang kesakitan. Melolong. Gambaran kepedihan yang mendalam. Kesakitan yang berlapis-lapis. Perih tanpa ujung. Tapi mengapa aku, mengapa menuju diriku. Wajah tanpa rupa itu….
Aku takut. Tapi ini lain. Pisau berkilat atau pelor yang berdesingan tak pernah bisa menyentuh syarat ketakutanku. Bahkan terali besi penjara atau sipir-sipirnya yang kejam. Tapi, wajah tanpa rupa itu. Ah…aku begitu nervous dibuatnya. Dia datang tanpa aku minta.
Pelor atau pisau, bisa aku takar akibatnya. Penjara atau sipir, mampu aku redam ganasnya. Tapi, wajah tanpa rupa itu….bagaimana aku menaklukannnya ? Aku benar-benar bingung. Gugup. Otakku sudah lelah berputar. Pengalaman berhadapan dengan mautpun tak bisa aku pakai menghadapinya. Apalagi cuma sekeping pisau yang selalu aku simpan di bawah ranjang. Atau puluhan kawan-kawan yang selalu manut bila aku aku gerakkan kapan saja. Bangsat. Bajingan. Tak ada yang bisa aku andalkan melawan setan tanpa rupa ini. Atau…..?, pergi ke paranormal. Ahh…..sejak dulu aku tak suka istilah itu. Manusia-manusia yang pantasnya hidup dalam dongeng itu.
Malam ini, hari ke sembilan kedatangan mimpi itu lagi. Aku belum temukan cara menaklukan wajah tanpa rupa itu.
“Kamu memang hebat, Mas,”. Ucapan Siswoto, petinggi kota ini, terngiang-ngiang kembali di telingaku. Ia memang sangat kagum dengan caraku menaklukan para preman di wilayah-wilayah slum kota ini. Aku sendiri biasa-biasa saja dengan pujian itu. Sungguh, aku tidak GR. Bagiku preman-preman itu kalau dimanusiakan, tidak akan jadi masalah. Yang penting, jangan anggap mereka sampah yang harus disingkirkan. Anggap saja mereka orang sakit yang butuh obat. Obat atau tepatnya alat. Benda yang juga aku butuhkan melawan datangnya mimpi-mimpi itu. Dulu aku yang memberi obat pada para preman itu. Saking manjurnya, aku dipanggil Walikota dan dijadikan penasehatnya. Aku sendiri malu, aku cuma seorang pedagang buah-buahan di pasar yang kebetulan pernah jadi preman tempo hari.
Walau tergolong kaum marjinal, aku cukup beruntung dibanding lainnya. Aku pernah kuliah. Kendati cuma sampai semester lima. Hanya gara-gara terlalu sering keluyuran, aku jadi tak semangat belajar. SPP nunggak. Terpaksa aku usaha ini itu. Sabet sana sabet sini. Semua polisi di kota kenal siapa aku. Masih mending aku tak pernah kena pelor panas. Gara-gara berurusan dengan aparat negara ini pula aku terpaksa drop out dari kuliah. Tapi aku sadar, tujuanku kuliah tak senada dengan gelarku sebagai preman. Daripada aku munafik, sekalian saja aku keluar. Aku bukan oportunis. Aku memang preman. Tapi itu dulu. Aku kini pedagang buah. Punya istri dan sebentar lagi punya anak. Dina istriku, lagi mengandung. Aku tak ingin anak-anakku kelak meniru masa mudaku. Ah.. melamun jadinya.
Oh…aku ingat sekarang. Wajah tanpa rupa itu, aku ingat, dia …ah…siapa ya. Aku pernah ingat. Aku ingat suaranya. Ah…..aku pernah dengar suara-suranya. Tapi siapa……Rasa takutku mulai lenyap. Aku lebih tenang karena merasa menemukan jawabannya sekarang.
—##—
“Ini bu, semuanya Rp 13 ribu,” kataku seraya menyerahkan kantong plastik berisi jeruk kepada seorang pembeli. “Terima kasih, pak,” balasnya sambil menyodorkan lembaran uang sepuluh ribu dan tiga lembar ribuan. Alhamdulillah, semoga Allah menjadikan rejeki ini barokah buat keluargaku. Aku terdiam. Tiba-tiba, telepon di kios ku menjerit. Dengan tangan kanan aku angkat. “Hallo, dengan pak Dimas ?,” suara lelaki di seberang sana. “Ada apa Mo,” balasku kepada Atmo, tetangga sebelah rumah yang sudah kuhapal suaranya. “Ibu, pak. Ibu dibawa ke rumah sakit. Katanya mau melahirkan. Bapak diminta nyusul ke sana,” katanya sedikit gagap. Cemas bercampur gembira, aku tanyakan nama rumah sakit dan ruang tempat istriku dibawa. Saat itu juga, kios aku serahkan kepada Joko, satu-satunya karyawanku untuk menungguinya.
Dengan menumpang sepeda motor butut, aku melaju ke rumah sakit. Tak sampai setengah jam aku sampai. Ruang persalinan, lantai dua. Blok F. Aku ingat-ingat nama yang diberikan Atmo kepadaku. Ketika sampai, aku lihat Atmo bersama istrinya duduk di ruang tunggu. “Mana Dina. Bagaimana anakku,” ucapku cemas. Entah mengapa, ketika menginjakkan kaki di rumah sakit, aku makin cemas. Jantungku lebih cepat berdenyut.
“Ada di dalam, anakmu sudah lahir kok, Dina selamat,” ujar Atmo. Ucapannya meredakan keteganganku. Ada kebahagiaan mengalir dibenakku. “Tapi saya belum lihat, belum diperbolehkan. Kata suster, harus bapaknya dulu yang lihat,” ujar Darsi, istri Atmo. Akupun segera melangkah masuk ke ruangan menemui istriku yang terbaring pucat. Wajahnya menyungging senyuman walau tampak lelah.
“Mas, bilang dong sama suster, aku pengen lihat anak kita,” bujuk Dina padaku. Segera aku suster diruangnya dan aku utarakan maksudku. Namun, tingkah suster tersebut agak aneh. Ia tak menjawab permintaanku, malah memintaku menanyakan langsung pada dokter di ruang sebelahnya. Kutemui dokter Dadang yang sedang memeriksa pasien yang juga tengah hamil. Agak terkejut dia, ketika aku datangi dan kusampaikan keinginan istriku. “Ee…anu…gimana ya….”, ucapnya gugup. Jawaban yang tak jelas itu, sontak menghidupkan syarat kecemasanku. Aku nervous. Aku rasakan, otot-otot mukaku berkerut. “Silahkan, di ruang bayi, kotak incubator nomor empat,” ujarnya sedikit pucat. Raut mukanya makin menambah tinggi tensi ketakutanku.
Aku berjalan cepat menuju ruang incubator. Di belakangku, Atmo dan Darsi membuntuti. Aku sudah tak sabar melihat anakku. Ingin rasanya memeluknya cepat-cepat. Tapi, makin dekat ruang incubator, suara-suara itu, ya…suara suara dari mimpi aneh itu muncul di kepalaku. Ah….nafasku memburu. Aku berhenti melangkah. Persetan dengan suara- suara bangsat itu. Persetan dengan semuanya, aku ingin menggendong buah hatiku. Keturunanku. Aku tidak ingin menimangnya.
Aku masuk dan berhenti di depan incubator nomor empat. Hah….aku terlonjak. Ya….ampun. Ya Alllah. “Ada apa,” ujar Atmo yang langsung melongok kedalam incubator. “Kenapa….kok….,” suara Atmo terputus. Oh….Tuhan, apa dosaku. Apa salahku. Anakku, anakku. Wajahnya , wajahnya itu….
Anakku lahir tanpa rupa. Ya Allah….Aku lemas. Aku melayang-layang. Aku seperti memasuki pusaran arus tak berujung. Aku tak ingat apa-apa lagi. Gelap. Semuanya gelap. Hitam. Aku tak melihat apa-apa lagi. Aku….aku….Oh…..
“Mas,….mas,” lamat-lamat kudengar suara istriku. Mataku terbuka. “Oh…Dinaa…,” gumanku pelan. “Mas gimana sih, kalau jualan jangan tidur dong. Tadi ada yang mau beli lho. Makanya kalau malam jangan sering-sering nonton bola,” katanya cemberut. Aku cuma celingungkan. Bingung.
Bukit Tembalang, jelang tengah malam.
05062001







