Puisi Tanah Ini 3 Oktober 2007
Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.9 comments
Sayang…
di atas bumi yang terbelah ini
tempat kaki-kaki kita berdiri
di antara reruntuhan yang bertebaran itu
aku mulai bimbang dengan keyakinan hati
ketika tegak adalah keniscayaan
saat harapan tak layak digantungkan
pada gunung-gunung dan bukit-bukit yang berguncang
kemana lagi harus kucari
titik tinggi untuk menancapkan panji-panji?
apakah bulan yang terang benderang
atau gemintang yang tak layak diimpikan?
Sayang….
saat matahari terbit nanti
aku ingin kau saksikan
aku masih kuat berdiri
meski mendung itu tak juga pergi
dan reruntuhan ini belum pula merata bumi
Aku ingin kau ingat
saat kau pulang nanti
ada kabar yang dibawa angin
ada sejuk yang dipangku hujan
hangat yang ditawarkan mentari
dan ada kenangan yang kita sisihkan
dari indahnya hari-hari
di tanah ini
Sajak Lampu 10 April 2007
Posted by sri nanang setiyono in Puisi.2 comments
Mestinya kita malu
pada lampu-lampu
yang lebih jujur
dan berterus terang
akan kegelapan
yang kita takutkan
pada lampu
kita belajar
tentang kesungguhan
tentang semangat
dan nasihat
bahwa selalu ada terang
bila kita
mau
terus berjuang
Semarang, 090407
Lima Tahun (2) 10 April 2007
Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.add a comment
Lima tahun lalu, Dik
merah merona wajah putihmu
menyambut uluran tanganku
bibir mungilmu mengulas senyum
membiaskan pipimu yang ranum
aku ingat, Dik
ada cahaya di bola mata itu
yang jadi penanda
cerita-cerita kita
setelahnya
Malam ini
aku menggambar bayangmu
di langit-langit rumah kontrakanku
setelah tadi pagi
tak sengaja kita bertemu
……………………
masih ada bias rona merah di pipimu
meski cahaya di bola mata itu
kini bukan lagi tanda
untuk diriku
Lima Tahun (1) 10 April 2007
Posted by sri nanang setiyono in Puisi.add a comment
Lima tahun lalu, Dik
pertama kali kutemui sorot mata itu
pada dinding beku kelabu
dengan pasak paku yang berkarat
memahat senyum kecutmu yang berat
Lima tahun itu, Dik
Membuat kita lupa segala cerita
kecuali bencana-bencana
tentang hilangnya rasa percaya
atau tipisnya iba
dari orang-orang yang mengaku tahu segala
yang selalu tersenyum saat saudara-saudara kita
tak kuasa menyambung asa
apalagi bercita-cita
Tanah yang kita pijak ini, Dik
sudah penuh dengan cerita
tentang ketegaran hati dan kekuatan jiwa
juga perih pedihnya mala petaka
toh sampai kering air mata
tak juga membuat Prabu Dasamuka
menjadi lemah lembut
atau berubah wujud
menjadi Sri Kresna
Lima tahun lalu, Dik
bukan mula dari semua
bukan awal dari derita
Ia hanya kembali mengingatkan kita
semuanya masih sama saja
Pasir dan Awan 5 Agustus 2006
Posted by sri nanang setiyono in Puisi.add a comment
Pada awan aku gantungkan angan-angan
walau kutahu sebenarnya dia hampa
tak punya cantolan, tak punya pegangan
pada pasir kupijakkan langkah
sayang dia tak kukuh
akupun luruh
ketika ku sadari puncak itu tak pernah ada
seluruh tenaga menjadi pencapaian sia-sia
—-+++—
kabut itu lenyap
sisa embunnya terasa senyap
Ada berkas membias gelap
Hitam, coklat….dan pengap
Kini aku tahu nasihat dari sahabat
Jangan sesali pertemuan yang sekelebat
Tapi syukuri kesan yang dia perbuat
sementara angin terus bertiup
saatnya akal menyalakan pelita
pendarnya harus memberi warna
agar tak ada jelaga hitam di pelupuk mata
sayup-sayup angin berguman kepada pasir
“kau boleh beterbangan sesukamu dengan tenagaku
tapi jangan karena fatamorgana kau terlena”
(tersadar)….oh…itu sindiran buatku…
akhir pekan di Serang
Benarkah kau ingin tahu kekasihku, kawan? Sungguh… 21 Agustus 2004
Posted by sri nanang setiyono in Puisi.add a comment
Benarkah kau ingin tahu kekasihku, kawan?
Sungguh, ungkapanmu itu mengurai otak dan sanubariku
Bolehkah sejenak aku bertanya
Seberapa berminatnya engkau pada pertanyaan itu
Sekadar basa-basi pengisi obrolan
atau kesungguhan yang terpendam
Jangan kaget kalau aku kembali tanyakan, kawan
Karena sesungguhnya tak pantas aku katakan,
bahwa diriku sudah punya kekasih
seperti angan dan ide-ide yang pernah kau lontarkan
tentang tambatan hati dan teman sejati
yang kau tulis dalam langit-langit renungan
Tidak, tidak begitu, kawan
Dia tak memiliki semua yang kau idealkan
Tak ada kecantikan fisik atau keanggunan seorang putri
atau kelembutan dewi Kunti
yang melahirkan Pandawa dan menjadi inspirasi bagi
rakyatnya
Pun tak juga seperti RA Kartini yang selalu diingat kaumnya,
Puluhan tahun setelah ia tiada
Tidak, tidak begitu, kawan
Aku cuma yakin pada sorot matanya
Yang tak pernah berhenti berdoa :
Semoga kekasihku bukan durjana…..
Untuk Sang Batu 14 Juni 2004
Posted by sri nanang setiyono in Puisi.add a comment
Untuk Sang Batu
Bertahun aku mengenalmu
tapi cuma sekelumit yang kutahu
hitam, putih, merah, hijau atau biru
sebatas itulah warna raut mukamu
Aku tahu sedikit
Justru itu yang membuatku sakit
Karena duri yang sekelumit
dan kepengkuhanmu yang rumit
Aku tak pernah lupa
pada serpihan, pecahan, kepingan
atau apalah namanya
dari bentuk yang nyata
dan memori yang tak pernah sirna
Apapun itu
aku masih butuh kehadiranmu
walau sekadar jadi masa lalu







