Mecah Telor Buku Pertama 26 Maret 2008
Posted by sri nanang setiyono in Esai.1 comment so far
Memiliki buku pertama ternyata sangat membahagiakan. Setelah enam tahun lebih berkutat di dunia jurnalistik, akhirnya niat untuk menulis buku kesampaian juga. Buku, kata CEO Kompas Gramedia, buku ibarat mahkota bagi wartawan. Ucapan itu memang tidak keliru. Memiliki buku dengan nama terpampang di dalamnya–meski masih dengan embel-embel editor–tetaplah suatu kebanggaan.
Setelah dua bulan lebih berkutat dengan buku referensi, laptop dan wawancara, buku pertama saya berjudul KH. Mahrus Amin : Dakwah Melalui Pondok Pesantren, Pengalaman Merintis dan Memimpin Darunnajah Jakarta terbit di bawah bendera penerbit Grup Dana. Memang buku ini belumlah final dan belum dijual di toko buku karena masih dipakai untuk keperluan internal Pondok Pesantren Darunnajah. Toh berkah dari penulisan ini sudah terasa. Setidaknya kini dua buku lagi menunggu untuk diselesaikan. Keduanya masih seputar Pondok Pesantren Darunnajah. Belum lagi sebuah buku tentang kesehatan, sudah siap untuk ditulis (maksudnya tinggal diketik karena materi dan bahan-bahannya sudah terkumpul semua).
Memang ada kebiasaan yang berbeda ketika menjadi wartawan aktif dan menjadi penulis buku. Menulis buku membutuhkan stamina yang lebih tinggi daripada melakukan reportase langsung. Butuh betah berlama-lama di depan komputer, membaca buku dan duduk berjam-jam mengetik tulisan. Hal-hal itu tidak terjadi ketika menjadi wartawan. Sebagain waktu justru habis untuk memburu narasumber. Dengan pola dan model penulisan yang sudah hapal di luar kepala, menulis berita cukup dilakukan dalam waktu 30 menit per berita. Kesuntukan mengejar berita segera hilang dengan menghirup udara bebas saat berkendara menuju TKP atau tempat pertemuan dengan narasumber.
Sebagai penulis, saya kini mengerti musuh paling besar yang menghalangi ide untuk disalurkan dalam bentuk rangkaian huruf di layar komputer. Musuh itu bukan amplop, bukan deadline, bukan pula redaktur yang menuntut berita terbaik. Musuh itu adalah rasa bosan.
Powered by ScribeFire.
Ada Apa dengan MetroTV 22 Februari 2008
Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Lingkungan hidup.6 comments
Bila anda cermati pemberitaan sejumlah media akhir-akhir ini, Anda bakal tercengang karenanya. Setelah perihal kematian mantan Presiden Soeharto yang pemberitaannya tidak proporsional–hanya mengangkat sisi positif sang jendral besar dan mengaburkan kasus-kasus pelanggaran HAM dan dugaan korupsi–ada media yang jelas-jelas mencoba mengaburkan kasus semburan lumpur di Sidoarjo Jawa Timur. Kasus lumpur Lapindo yang beberapa hari lalu dibawa ke Rapat Paripurna DPR, Selasa (18/2), rupanya sudah dicoba dikaburkan oleh MetroTV dengan mengubah istilah Lumpur Lapindo dengan istilah Lumpur Porong. Lucunya hal ini tidak dilakukan sejak semburan lumpur terjadi dan kasusnya menjadi perhatian masyarakat.
Sebagai media yang mengklaim dirinya unggul dalam penyajian liputan berita, agak aneh bila MetroTV bermain mata dengan mencoba membelokkan opini publik. Televisi yang selalu mengumumkan dalam running text bahwa wartawannya tidak menerima pemberian dalam bentuk barang atau uang dalam menjalankan tugas jurnalistik, jelas-jelas tengah bermain mata dengan pihak lain. Tujuannya menggiring opini publik agar memisahkan masalah semburan lumpur dari nama Lapindo, perusahaan perminyakan yang semula dimiliki grup Bakrie yang melakukan pengeboran hingga menyebabkan terjadinya semburan lumpur pada Mei 2006.
Perubahan penyebutan–dari lumpur Lapindo menjadi Lumpur Porong–tampaknya sengaja dibuat menjelang rapat Paripurna DPR yang memutuskan untuk menindaklanjuti masalah itu dengan mengajukan interpelasi ke Pemerintah. Sebelumnya TP2LS mengeluarkan rekomendasi bahwa penyebab luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas Inc akibat bencana alam dan bukan karena kecerobohan manusia.
Bila rekomendasi ini yang jadi rujukan pemerintah, maka biaya ganti rugi dan tanggung jawab penanganan para korban akan dialihkan kepada negara. Dengan kata lain, pihak Lapindo yang diwakili manajemen PT Minarak Lapindo Jaya (sengaja dibentuk untuk membayar kompensasi korban lumpur), bakal lepas tangan terbebas dari kewajiban hukum. Efeknya pun luar biasa. dana pertanggungan itu bakal dibebankan kepada pemerintah yang tentu saja memakai uang APBN yang notabene adalah uang rakyat. Bayangkan, kesalahan dari segelintir pengusaha kok ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia lewat APBN?
Dalam buku Konspirasi Di Balik Lumpur LAPINDO : Dari Aktor Hingga Strategi Kotor (Galang Press, Jogjakarta) karangan Ali Azhar Akbar sebenarnya sudah diungkap adanya upaya-upaya terselubung untuk membungkam opini publik melalui strategi kehumasan. Selain dengan memasang iklan, juga dengan menggunakan istilah Lumpur Porong hingga Lumpur Sidoarjo (yang terakhir ini dipakai oleh TP2LS).
Tapi rupanya MetroTV tidak sendirian. Sebuah grup perusahaan media besar juga bermain mata dengan menutup-nutupi kasus ini. Laporan majalah National Geographic edisi Januari 2008 berjudul The Unstoppable Mud konon (saya belum mengeceknya) tidak diturunkan dalam edisi bahasa Indonesia dari majalah yang sama. Sengaja atau lalai?
Wortel (juga) Bisa Stress 22 Februari 2008
Posted by sri nanang setiyono in Kimia.2 comments
Sayuran wortel rupanya memiliki tabiat yang sama dengan manusia bila mengalami tekanan. Bila umumnya manusia menjadi murung, jutek, mudah tersinggung dan mengeluarkan reaksi negatif berupa ucapan atau perbuatan, wortel pun demikian. Bedanya wortel tak bisa bercakap-cakap mengungkapkan isi hatinya dalam bentuk ucapan. Tetapi ia bereaksi dengan mengeluarkan zat yang membuatnya terasa pahit.
Dalam jurnal ISHS Acta Horticulturae 604 yang ditulis oleh M. Kleemann, W.J. Florkowski berjudul Bitternes of Carrot as Quality of Indicator disebutkan cita rasa pada wortel ditentukan oleh kandungan senyawa-senyawa terpena. Yaitu gula bebas, terpenoid yang mudah menguap, karbonil, fenolat, pyrazines and asam amino bebas. Senyawa-senyawa itu biasanya memberi cita rasa harum dan segar pada wortel. Tetapi pada konsentrasi tinggi, malah menyebabkan cita rasa yang tidak menyenangkan. Yang terakhir ini disebabkan oleh faktor genetika, kondisi penanaman, serangan hama dan serangga, penanganan pasca panen dan kondisi atmosfer penyimpanan.
Penelitian di Jerman baru-baru ini membuktikan hal-hal tersebut. Wortel-wortel yang memiliki rasa pahit rupanya mempunyai kandungan zat kimia bernama isocumarin atau 6-methoxymellein atau 3-methyl-6-methoxy-8-hydroxy-3,4-dihydro-isocumarin dalam konsentrasi tinggi. Zat ini diproduksi oleh wortel di kala stress.
Dalam penelitian itu, kadar isocumarin diukur dari wortel-wortel yang mendapat perlakukan pasca panen yang berbeda. Hasilnya, penanganan pasca panen yang lembut dan berhati-hati mengurangi kadar isocumarin dalam wortel. Sebaliknya wortel yang diperlakukan kasar memiliki kandungan isocumarin yang relatif lebih tinggi.
Hal ini memberi kesimpulan kepada para ilmuwan bahwa wortel juga “tidak suka” diperlakukan kasar. Wortel juga bisa stress seperti halnya pada manusia. Perlakukan kasar yang dimaksud antara lain pencabutan umbi wortel dari tanah secara kasar dan terburu-buru, pemindahan ke dalam wadah dengan cara menjatuhkan atau melemparnya dari tempat tinggi, hingga penyimpanan dalam tempat volume yang besar dan bertumpuk-tumpuk. Pendek kata, agar menghasilkan cita rasa yang wangi, manis dan menarik, wortel harus diperlakukan dengan cara-cara yang lebih santun. Soalnya kalau sudah stress, yang rugi manusia juga. Hidup wortel.
Puisi Tanah Ini 3 Oktober 2007
Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.9 comments
Sayang…
di atas bumi yang terbelah ini
tempat kaki-kaki kita berdiri
di antara reruntuhan yang bertebaran itu
aku mulai bimbang dengan keyakinan hati
ketika tegak adalah keniscayaan
saat harapan tak layak digantungkan
pada gunung-gunung dan bukit-bukit yang berguncang
kemana lagi harus kucari
titik tinggi untuk menancapkan panji-panji?
apakah bulan yang terang benderang
atau gemintang yang tak layak diimpikan?
Sayang….
saat matahari terbit nanti
aku ingin kau saksikan
aku masih kuat berdiri
meski mendung itu tak juga pergi
dan reruntuhan ini belum pula merata bumi
Aku ingin kau ingat
saat kau pulang nanti
ada kabar yang dibawa angin
ada sejuk yang dipangku hujan
hangat yang ditawarkan mentari
dan ada kenangan yang kita sisihkan
dari indahnya hari-hari
di tanah ini
Parfum 22 September 2007
Posted by sri nanang setiyono in Cerpen, Sastra.3 comments
Bau wangi sudah lama tak akrab dengan Pak Kemis. Pria renta ini malah tak lagi menganggap wewangian sebagai sesuatu yang enak dinikmati. Buat apa wangi-wangi kalau tak bisa memberi apa-apa, begitu kepalanya selalu berguman setiap kali berpapasan dengan pria atau wanita yang memakai parfum wangi. ¨Nanti kalau jadi mayat juga busuk….,¨
Ini adalah tahun ke-36 Pak Kemis tak bertemu wewangian. Lebih tepatnya, memakai wewangian di tubuhnya. Toh bukan berarti ia tak pernah mandi. Minimal sekali sehari, ia selalu mandi untuk menyegarkan tubuh dengan sabun mandi. Sabun yang tentu saja wangi meski aromanya cepat pudar begitu peluh mengguyur tubuhnya lagi. Maklum bukan sabun terkenal yang iklannya kerap muncul di televisi, melainkan sabun batangan yang dibelinya di pasar dalam bentuk potongan-potongan kecil bekas irisan golok.
Bukan tanpa alasan Kemis cuek pada wewangian. Lebih dari seperempat abad ini, ia hidup dari memunguti sampah. Rejekinya dikais di antara timbunan sampah yang berjejer di depan rumah-rumah penduduk, atau di tempat sampah sekitar pasar, kampus atau terminal. Kadang-kadang ia pergi ke tanah lapang atau ke kawasan perkantoran bila ada peringatan hari raya atau resepsi di salah satu instansi. ¨Kertas-kertas yang dibuang di sana masih bagus. Harganya juga lumayan¨.
Sore itu, ada sebuah botol parfum yang dia dapati dari tong sampah di depan rumah megah di pinggiran kota. Kemis tertarik pada kemasannya yang bentuknya unik. Botol transparan berwarna ungu berlekuk-lekuk yang dicetak menyerupai kepala seorang perempuan cantik. Botol ini masih terdapat di dalam kotak kardus kecil pelindungannya. Di sisi-sisinya terdapat aksara-aksara latin dalam bahasa asing yang tak ia mengerti. Lama ia memandangi botol itu. Apalagi bentuk kepala itu mengingatkannya pada Sumi, almarhum istrinya. Ia lantas menyimpan botol di saku celananya dan kembali sibuk mengais tumpukan sampah.
Selepas maghrib, sambil duduk di bangku rumahnya, Kemis mengamati botol parfum berbentuk kepala perempuan itu. Cairan di dalamnya ternyata masih lumayan banyak. Lebih dari separuh. Kemis yakin, si empunya botol itu pasti bosan dengan parfum ini atau sudah membeli yang lebih baru. Yang dia tahu, sebotol parfum dengan bahasa asing itu tak bisa ditukar dengan beberapa lembar uang ribuan.
¨Kalau Sumi masih hidup, pasti dia suka botol ini,¨ hatinya berbisik sambil menimang-nimang si botol. Sesekali wajahnya tergurat senyum. Beberapa saat kemudian matanya berkaca-kaca. Namun tak berapa lama mukanya kembali cerah sambil menggangguk-angguk seperti sepakat dengan sesuatu.
Azan Isya membuat Kemis bangkit dan bergegas mengambil air wudu. Ia berjalan kaki ke mushola yang sama seperti yang dilakukannya berpuluh tahun lalu. Usai solat, warung Mbak Jaroh adalah tujuan berikutnya : mengisi perut, pulang dan tidur. Tapi malam ini, Kemis merasa matanya susah ditutup. Ia teringat kembali pada botol parfum itu. Sambil rebahan di kasur tanpa sprei, ia pandangi benda bulat yang wangi itu. Lagi-lagi wajah Sumi terbayang.
—–*****——-
Tiga puluh enam tahun lalu, Kemis bertemu Sumi. Saat itu ia masih muda dan gagah. Gadis ini ditemui pada hari pertama ia mulai terlibat dengan sampah. Sumilah, nama lengkapnya. Mereka bertemu di warung nasi dekat pasar. Sumi adalah pelayan warung nasi, sedangkan Kemis petugas kebersihan sampah di pasar ini. Sejak itu, Kemis jatuh cinta pada Sumi, dan selalu mampir bila perutnya makan selepas memungut sampah. Mereka lantas menikah dan tinggal mengontrak kamar tak jauh dari warung nasi tempat Sumi bekerja.
Masih menggengam botol itu, Kemis terbayang masa lalu. Ia mengalami banyak kejadian menyenangkan maupun menyakitkan sebagai pemulung. Pernah tiba-tiba ada polisi datang ke rumahnya dan menangkap Kemis. Ia dituduh mencuri sepatu dari rumah seorang pejabat kota. Gara-garanya, istri si pejabat kehilangan sepatu mahal yang dibelinya dari luar negeri. Konon sepatu itu dipasangi berlian dan harganya cukup untuk membeli sebuah mobil. Karena Kemis sering melintas di depan rumah si pejabat dan mengais sampah dari depan rumah itu, ia pun kecipratan getah. Hampir satu minggu Kemis di-bon tanpa pemeriksaan yang jelas. Tapi karena tak ada bukti cukup, ia pun dilepas meski dengan tubuh lebam-lebam bekas ¨pijatan¨ interogasi. Saat itu, Kemis sudah dipecat sebagai pegawai pasar karena ada pengurangan karyawan. Belakangan ia mendengar, satpam si pejabatlah yang akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara. Meski geram, Kemis merasa bahagia karena selama dalam tahanan selalu dijenguk Sumi.
Tak lama setelah kejadian itu, lagi-lagi ia berurusan dengan polisi. Kali ini bukan sebagai tersangka. Kemis jadi saksi karena menemukan seonggok orok bayi yang masih hidup di timbunan sampah. Ia pun kehilangan satu hari waktunya mencari nafkah karena dimintai keterangan polisi. Kejadian ini bukanlah yang terakhir, beberapa tahun lalu saat Sumi sakit-sakitan, ia kembali menemukan mayat orok bayi. Baunya sudah menyengat. Orok ini ditemui di tempat sampah tak jauh dari kampus perguruan tinggi terkenal di kota ini. Orok yang dibungkus kertas koran ini bentuknya sudah membusuk. Ada bercak-bercak darah di sekitarnya. Tampaknya ia baru saja dilahirkan lantas dibunuh oleh orang tuanya, tampak dari ari-ari yang masih melekat.
Mengingat masa lalu selalu membawa rasa getir bagi Kemis. Selama bergaul dengan sampah, ia kerap mengelus dada mengetahui perilaku para mantan pemilik sampah. Berkali-kali Kemis mendapati sisa kondom dan pil anti hamil bila mengais sampah di sekitar kos-kosan mahasiswa, selain pembalut wanita, kertas-kertas fotokopi atau pembungkus makanan. Ada pula bekas bong, sisa daun ganja atau sampul VCD porno di sana. Kemis paham fungsi benda-benda itu setelah diberitahu rekannya sesama pemulung. Tetapi bukan itu sebenarnya yang paling membuatnya sedih. Tiga puluh tahun menikahi Sumi, seorang buah hati pun tak pernah lahir ke dunia. Hingga maut menjemput Sumi empat tahun lalu, mereka hanya hidup berdua. Namun Kemis tak pernah menuntut atau menyalahkan Sumi, begitupun sebaliknya. Lewat bahasa mata dan hati, mereka seperti sepakat ada hal-hal yang kurang pada diri mereka. Kesetiaan Sumi pula yang membuat Kemis tak sampai hati untuk menikah lagi bahkan tatkala istrinya itu sudah mangkat.
Senyum Sumi yang mengembang adalah obat hati bagi Kemis. Suatu hari, Kemis menemukan dompet kulit berwarna coklat keemasan di tumpukan sampah di seberang jembatan besi, tak jauh dari halte bis dalam kota. Memang tak ada uang di dalamnya. Hanya ada beberapa kartu nama, KTP, dan sebuah anak kunci model lama yang sudah berkarat. Tadinya Kemis bermaksud membawa dompet itu untuk hadiah Sumi. Tapi setelah melihat KTP itu masih berlaku, sang istri menyarankan untuk mengembalikan dompet ke si empunya. Dompet berikut isinya itu pun dikembalikan. Namun mereka tak bisa bertemu pemiliknya dan hanya dititipkan ke satpam. Dari satpam ini pula, Kemis mendengar tentang nasib si tuan rumah yang beberapa hari lalu terkena gendam saat berbelanja di mal. Semua perhiasan dan uangnya raib dibawa kabur pelaku gendam, termasuk dompet yang belakangan ditemui Kemis itu.
Dua hari kemudian, satpam itu datang ke rumah Kemis dan memintanya datang. Katanya tuannya ingin berterima kasih. Kali ini Kemis menolak. ¨Tak usah pak. Saya tak mau dianggap ada apa-apanya,¨. Satpam itu mahfum dan beberapa jam kemudian datang lagi. Kali ini bersama wanita setengah baya yang diantar mobil mewah mengkilat.
¨Kalau bukan Pak Kemis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Kunci di dompet itu adalah satu-satunya kunci untuk membuka kotak penyimpanan perhiasan, uang dan surat-surat berharga. Saya sudah cemas karena takut terlambat membayar gaji karyawan hanya gara-gara tak bisa membuka kotak itu. Sebenarnya suami saya juga punya kuncinya, tapi dia lagi di luar negeri. Saya mohon Pak Kemis tak keberatan menerima sedikit ucapan terima kasih ini dari saya,¨ ucap Ibu Rahmadi yang ternyata pemilik toko kue terkenal di kota ini.
Sebenarnya Kemis menolak menerima amplop coklat yang lumayan tebal itu. Dia berkali-kali beralasan tindakannya tanpa pamrih. Ikhlas. Tetapi tatapan Ibu Rahmadi yang ramah dan sikapnya yang hormat, membuat Kemis tak bisa lagi menolak. Uang itu akhirnya ia belikan almari dan meja rias sebagai hadiah untuk Sumi yang kini masih tersimpan di rumahnya. Sisanya disedekahkan ke mushola dan sebagian ditabung.
—–*****——
¨Kang, sudah makan belum? Jangan memaksa untuk cari duit. Badan kan udah tua, kurang apa lagi sih kita. Mending waktunya kita pakai untuk beribadah,¨ kata Sumi. Wajahnya berseri-seri. Kulitnya bersinar terang. Tidak seperti biasanya, Sumi mengenakan pakaian yang bagus, bersih dan tampak anggun seperti bidadari. Parasnya tampak cantik dan lebih muda. Kemis sendiri heran, istrinya itu memakai pakaian yang ia sendiri tak mampu membelikannya. Yang lebih membuatnya heran, Sumi sangat wangi. Mereka seperti bercakap-cakap di kebun bunga yang segar dengan aroma yang membuat siapa saja senang berlama-lama di sana. Melihat istrinya seperti itu, Kemis merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia menunduk tersipu. Saat melirik istrinya itu lagi, Kemis kaget. Sumi tak lagi di hadapannya.
¨Oh…sudah subuh,¨. Kemis tersadar kalau yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. Ia pun bangkit dan merasakan tangan kanannya memegang benda keras. Botol parfum. Oh..rupanya selama tidur, botol itu tak lepas dari genggamannya.
Pagi ini, Kemis merasa bersemangat. Wajahnya sumringah. Setiap kali bertemu tetangga atau orang yang dikenalnya selalu menyapa atau mengucap salam. Para tetangga tak heran dengan sikap Kemis ini, karena mereka mengenal Kemis sebagai tetangga yang ramah. Namun penampilan Kemis kali ini benar-benar membuat tetangga-tetangganya heran. Bahkan orang-orang yang melihatnya pun heran. Kemis berbeda dari hari-hari biasanya. Penampilannya lebih rapi. Ia tak memakai pakaian kotor atau compang-camping meski sedang mengais sampah. Tetapi yang paling beda adalah bau tubuhnya. Tubuhnya menebar bau harum yang segar. Wangi. Ya…Kemis memakai parfum yang ditemukannya kemarin.
Sudah seminggu ini Kemis jadi pusat perhatian. Para tetangga pun jadi sering memuji sekaligus bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dengan Kemis. Seperti tak terganggu, Kemis tetap saja bersikap ramah.
¨Wah kemajuan nih, sudah tampil beda,¨ puji Yatmo.
¨Gitu dong Kang. Kan dapat pahala bikin orang lain senang. Mbok saya dibagi itu minyak wanginya,” kata mbok Darti.
¨Jangan-jangan Pak Kemis jatuh cinta lagi ya,” ledek Pak RT.
Semuanya diladeni oleh Kemis dengan sabar.
¨Saya cuma nemu parfum bekas. Daripada dibuang kan lebih baik dipakai sendiri,¨ ungkapnya sopan.
¨Kalau semua pemulung wangi kayak Pak Kemis, bisa-bisa orang-orang kantoran bakal susah dibedakan dari pemulung..hahahaha…,” gurau Parno, rekan seperjuangan Kemis sesama pemulung.
Lagi-lagi Kemis jadi bahan omongan. Tapi kini gara-gara bau tubuhnya yang wangi itu tak lagi dihirup para tetangga. Mereka heran karena sudah dua hari ini Kemis tak kelihatan. Jamaah mushola pun tak melihat sosok Kemis yang biasa ditemui saat Subuh dan Isya. Rumahnya juga gelap. Warga mengira Kemis pergi pulang kampung. Biasanya satu minggu ia di sana. Tetapi Parno, temannya sesama pemulung, malah menghadap Pak RT mencari tahu keberadaan lelaki tua ini.
¨Saya dari kampung pak. Kalau Pak Kemis pulang, pasti saya ketemu,¨ ucapnya kepada Pak RT.
Segera saja warga menggelar rapat dipimpin RT. Mereka sepakat mencari tahu keberadaan Kemis. Sebagian berinisiatif mendobrak rumah Kemis. Sisanya melapor ke polisi. Hari itu juga, dengan diawasi polisi, warga mendatangi ke rumah Kemis yang terletak di ujung gang. Mereka yakin pria ini ada di dalam sana. Bau wangi yang menyerbak menambah keyakinan itu. Berkali-kali dipanggil, tak ada balasan. Akhirnya pintu rumah sederhana itu didobrak. Hanya saja, Kemis tak ada. Rumahnya kosong. Mereka hanya menemukan tumpukan kardus bekas, kertas bekas, botol-botol air mineral dan aneka macam logam dan barang bekas. Botol parfum itu pun mereka dapati di atas meja rias. Isinya masih seperempat.
¨Aneh, rumahnya bersih dan rapi sekali. Biasanya Pak Kemis tak serapi ini menata barang-barangnya. Tapi kemana dia ya,¨ guman pak RT.
Pencarian diteruskan. Sebagian warga menghubungi rekan-rekan Kemis. Pak RT bahkan mengadakan doa bersama demi keselamatan Kemis. Tapi hasilnya tetap nihil. Seminggu sejak ia menghilang, tetap tak ada kabar berita tentang dirinya. Ia seperti menguap menjadi asap dan menghilang ditiup angin.
Jam 5 sore, ponsel pak RT berbunyi. ¨Pak RT, saya Brigadir Mualim dari Polsek. Kami menemukan jenazah yang mirip ciri-ciri Pak Kemis. Bapak diminta hadir ke kamar mayat untuk melakukan identifikasi segera¨. Pembicaraan ditutup. Berita penemuan ini segera menyebar. Beberapa warga dengan kendaraan seadanya bergegas ke kamar mayat. Beberapa polisi sudah ada di sana. Warga diajak masuk ke ruang pemulasaraan jenazah dan dihadapkan pada lemari-lemari mayat yang berjejer pada salah satu sisi dinding.
¨Nomor 9,¨kata seorang petugas rumah sakit didampingi polisi. Pintu lemari bernomor 9 itu dibuka, dan handle laci di baliknya ditarik keluar.
¨Ïnalillahi waina ilaihi rojiun,¨ kata pak RT. ¨Ini memang Pak Kemis, warga saya,¨ lanjutnya. Tubuh itu membujur masih mengenakan celana pendek setinggi lutut dan kaos warna merah. Ada kertas label diikatkan ke jempol kaki kanannya dengan tulisan ¨tak dikenal¨.
¨Seorang warga melihat dia tertimbun tumpukan sampah di TPS seminggu lalu, tapi baru berani melapor kemarin. Yang mengherankan badannya tidak membusuk meskipun sudah meninggal satu minggu. Malah baunya harum dan wajahnya seperti orang tersenyum, ¨ terang Brigadir Mualim yang tiba-tiba muncul di ruang itu.
Semua yang hadir di ruang itu mendadak pucat. Ada hawa kengerian yang tiba-tiba menyelinap. Tapi tak sedikit yang justru lega……
Semarang, 21 September 2007
N-Ach in Our Books 21 September 2007
Posted by sri nanang setiyono in English, Esai, Pendidikan.2 comments
Following my prior article titled ¨Is blogging really helping our writing ability?¨ which published in the this site, a comment from Jennie S Bev, Indonesian writer who live in America, encouraged me to elaborate another work about blogging and writing. Jennie who has been living in America since 1997 ( I am not sure about this number), has published a lot of works varying from articles in newspapers and magazine, website and hard copy books in both two countries. The most popular book distributed in this country is Sukses Luar Biasa, printed by Jakartaś big media and book printing company Gramedia Pustaka Utama.
I will not talk about Jennieś books in this session. What I want to say is Jennie has reached a such of success by working on words and writing. Indeed, she is getting lucky and is felling to learn intellectual and cultural Western scholar activity directly from the heart of western civilization : the United States. Jennie knows literacy activities get high position among the various multicultural society in developed countries like America. But, it does not mean that living in developing country like Indonesia could not gain the same grade as developed ones do.
One of basic problem in third world country like Indonesia is the low of n-ach factor in the society. N-ach, abbreviation of needs of achievement, is contents of published material distributed in the society that filled with messages to get better, motivation to move forward, and others positive messages carrying by authors and writers in their works. If the n-ach is high, the society will face brighter future in the next generation. This could be described gently because of author and writers works affect the peopleś mind and increases the people’s faith to build their own society. The ages of Islamic Chalipes and the Western’s Renaissance are a few examples of the influence of n-ach.
I think Indonesia also have own version about its experience related to n-ach. When Boedi Utomo, the first national modern movement organization establised in 1908, the common unconscious mind of Indonesian was not familiar with the word of self-determination. Activists across the country knew they could reached and shared their thoughts and idea about self determination and importance being free, only by building mass communication. And the effective way to do it was enlarging the literacy activities and increased amount of published material among the people. History cites Indonesia has a lot of emerging newspapers during its movement age. Balai Pustaka, the first publishing book body created by Dutch Colonial Administration, was established in this era. Although at the early years the body only printed local literary works (such as fairy tale and romance stories) but using of Bahasa Melayu had broadened nationality pride among people across the archipelago. People became awarer and smarter about their condition. The meaning of freedom and the awareness of self determination constantly grew up as time went by.
History also cites British’s achievement in economics, politics, and science in the 19th century as a result of industrial revolution following James Wattś steam machine invention in the second half of the prior century. At the period, the kingdom produced a large scale of published material such as books, research journals, author´s works and etc.
And now, when many bookstores across our archipelago are filled with the motivational books written by local and foreign author, will the giant awake from its long sleeping beauty situation? Will Indonesia achieve its greatness in future as other elder great nations had possed in the past?
To Feel and To be Poor 21 September 2007
Posted by sri nanang setiyono in Curhat, Esai.2 comments
Poor is always considered as a condition for human being who have less money or others things so that he or she could not fulfill his/her needs properly. It also identified with the small and bad home, bad vehicles, low amount of money in bank account or bad sanitation and educational environment. Poverty has a thin border and very close to the crime. That’s why poverty always to be the common enemy to all governments around the world and to be used as political issues for politicians.
Actually the existence of poverty is a bless to whom who understand it. I convince you, poverty is not created to be rubbish of society. It has a such of lesson people should pick up from. Like others things and creatures around us, it´s existence could benefit our life. Not only because poverty gives difference to the rich, it exactly has disguessing bless to improve our quality of life. How?
If you feel your life stands up in stuck, no challenge, lack of spirit and meaningless, why don´t you try this receipt to renew and return your faith back? I suggest you to feel and or to be poor. For you who are still in poverty, I have no comment about it. But if you have been being rich or has a capacity to live in comfort, poverty is a good medicine you are needed to upgrade your quality of life.
I am not saying you have to give all your money to others or quit from your current job to be a beggar. What you only do is feel the poverty in yourself. You act as a poor and hold yourself not to use all your good facilities you have for a moment. Start with not eating for a while. You know what I mean. Yes, fasting is good way to feel the poverty. But if you think this why is not enough for your thirstiness , I suggest you totally free your life and trie to be poor in real condition. Stop using your car when you go to your office. Try buses or other mass transportations. Avoid a luxury and expensive restaurants every time you go lunch or dinner. Try a cheap food stall and go to the low cost hotel if you do travel.
Unfortunately, those suggestion will not complete if you still interact and live in the wealthy environment. Go out and find a poor community near your home. Being a friend of them. If it is possible, live among them. Once you feel you have sympathy to their suffering life, you will recognize what is the truly meaning of your life. And when you back to your prior life which full of comfort, the experience will help you to commemorate of the importance of solidarity and the brotherhood of mankind. Insya Allah.
Menjadi Kaum Papa 13 September 2007
Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.2 comments
Lebih dari empat bulan saya absen ngeblog. Kangen juga rasanya. Kalau dulu untuk sekadar posting atau blogwalking cukup dilakukan di kantor dan yang pasti gratis, sekarang tidak lagi. Keputusan untuk memiliih menjalani hati nurani dan patuh pada keyakinan, membuat saya tak lagi menikmati saat-saat menyenangkan dengan segala kemudahan sebagai wartawan sebuah media besar. Hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Banyak yang berubah dari hidup saya yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
Saat memilih untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) sebagai karyawan, saya sadar ada segudang konsekuensi yang harus ditanggungg. Tak lagi menerima gaji rutin, tak mendapat fasilitas-fasilitas, tak menikmati enaknya rutinitas yang sudah telanjur dianggap bagian dari hidup. Dan yang lebih penting, tak lagi ada pemikiran atau harapan yang bunyinya : “Besok-besok kan masih ada tunjangan yang belum turun, jadi gak papa kalau sekarang beli ini atau beli itu. Duit toh bisa datang lagi. Lha wong karyawan tetap….”
Kini setelah menyandang predikat pengangguran (soalnya masih takut menyandang predikat pengusaha), semuanya itu lenyap. Predikat wartawan yang konon disegani pejabat (dan bikin polisi tidak berani memberi tilang meski kita kedapatan melanggar lalu lintas) pun ikut saya lepas. Entah kebetulan atau tidak, semua ID card kewartawanan yang saya punya sejak pertama kali bekerja di media harian di Semarang hingga terakhir di Femina Group, hilang bersama tas kecil saat bertandang ke ibukota tempo hari.
Jadi kalau tidak bisa posting atau ngeblog secara rutin, ya mohon dimaafin aja. Boro-boro ngeblog, buat sekadar beli pulsa pun kadang ada kadang tidak ada. Penghasilan dari bisnis kecil-kecilan yang saya jalankan di Semarang masih tidak seberapa dibandingkan penghasilan saya waktu menjadi wartawan, editor bahkan pernah kepala biro. Tetapi hikmah yang saya petik rupanya berlipat-lipat. Saat kantong pas-pasan, toh Tuhan memberi jalan buat saya untuk bisa melunasi hutang-hutang saya yang dulu menumpuk gara-gara ditipu orang dan gagal dalam bisnis. Kalau dihitung-hitung, total duit saya yang menguap gara-gara ditipu atau gagal bisnis selama menjadi wartawan mencapai angka Rp 32 juta. Sungguh aneh dan tidak disangka, pertolongan Tuhan rupanya tidak seperti yang saya kira sebelumnya. Tanpa diduga, ada orang yang dengan ikhlas menawarkan bantuan, justru dari pihak-pihak yang selama ini tidak begitu saya perhatikan berpotensi “memberi bantuan”. Silakan diartikan sendiri kalimat tadi. Saya juga kadang heran tidak disangka-sangka, Tuhan memberi jalan di luar perkiraan. Subhanallah. Justru saat tidak lagi menjadi karyawan inilah, hutang-hutang saya semuanya lunas.
Hikmah lain yang bisa dipetik adalah pelajaran hidup untuk lebih menghargai keringat, rezeki dan nilai dari ketekunan, dan kesabaran. Saya makin yakin dengan nilai keberkahan rezeki yang jumlahnya kecil namun halal dibandingkan rezeki dalam jumlah besar namun bercampur dengan sedikit keremangan dan kesamar-samaran. (bersambung)
Tak Ada Rugi Bershodaqoh 1 Mei 2007
Posted by sri nanang setiyono in Buku, Islam.8 comments

Judul : Shodaqoh Memang Ajaib, Pengalaman Menakjubkan Para Pelaku Shodaqoh
Judul Asli : Min ‘Ajaibi ^sh Shodaqoh
Penulis : Kholid bin Sulaiman Ar-Robi
Penerjemah : Abu Hanan Dzakiyya
Penerbit : Wahana Ilmiah Press (WIP) Solo
Tahun : 2006
Halaman : x+126; 120×180 mm
Banyaknya buku-buku Islam bertema bertema fiksi, syariah, dan tema-tema praktis lain, kadang-kadang membuat calon pembaca menjadi jengah. Pembaca kesulitan menemukan buku yang temanya ringan tapi berbobot. Tengoklah setiap kali digelar pemeran buku Islam, tampak lebih banyak buku dengan tema fiksi, syariah, siyasah, ekonomi atau filsafat. Untungnya, suksesnya buku La Tahzan karya Said Al Qorni beberapa waktu lalu, memberi angin sejuk dengan bermunculannya buku-buku motivasi semacam chicken soup. Buku-buku ini umumnya terjemahan dari penulis Timur Tengah.
Buku Shodaqoh Memang Ajaib adalah salah satu kategori yang terakhir. Penulisnya–Kholid bin Sulaiman Ar-Robi—tak mengajak pembacanya untuk berkerut keningnya memahami ayat-ayat tentang syariah atau perdebatan tentang penegakan syariat Islam. Lewat buku yang diedit dengan bagus ini, pembaca diajak merenung tentang manfaat bersedekah atau bershodaqoh. Tiap bab menjelaskan tentang manfaat dan keutamaan bershodaqoh.
Memang seperti umumnya chicken soup, tak ada aspek sosial, ekonomi, budaya atau politik yang disinggung. Penulis menggunakan pendekatan personal ke hati pembacanya dengan membagi buku dalam tiga bagian yaitu dalil-dalil Al Quran dan Hadist tentang shodaqoh, komentar ulama dan kisah orang-orang yang bershodaqoh. Tak ada konsep pembangunan masyarakat seperti dalam konsep filantropi (kedermawanan sosial ala Barat) atau corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan) yang kini tengah ngetren dilakukan perusahaan-perusahaan besar di negeri ini.
Semuanya yang tercantum dalam buku ini benar-benar personal. Dijelaskan, bila bershodaqoh—tentu dengan ikhlas—Anda akan mendapat pahala yang berlipat-lipat dan manfaat lain yaitu membersihkan hati dan membersihkan harta. Malah di bagian akhir (kisah orang-orang yang bershodaqoh) diceritakan tentang hikmah dan balasan orang yang bershodaqoh karena iklas. Seperti kesembuhan dari penyakit, hutang yang terbayar lunas, rejeki nomplok, dan tentunya kedamaian hati dan ketenangan. Kesimpulannya, tak ada ruginya bershodaqoh!
”Sungguh, shodaqoh memiliki pengaruh yang ajaib untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zholim, atau bahkan orang kafir, karena Allah swt akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shodaqoh tersebut”. (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah)
Jadi, masih ragu-ragu untuk bershodaqoh?
powered by performancing firefox








