jump to navigation

Cemburu di Tanah Pasundan 5 Juni 2004

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback

Aku cemburu, betul-betul cemburu pada tanah ini. Pasundan namanya. Bandung ibukotanya. Aku cemburu karena tak pernah menemukan harmoni antara lama dan baru dalam setarikan nafas yang menyejukkan. Cemburu karena kota tempat aku tinggal kini, tak lebih sebuah wilayah tanpa roh. Roh masa lalu yang perlahan tergerus keserakahan kapitalisme. Naluri pribuminya untuk bersenggama dengan alam telah sengaja disingkirkan oleh mesin-mesin kapitalisme dan peradaban bertitel modernisasi.

Terang saja aku cemburu karena justru di tanah Pasundan, di sinilah harmoni antara alam dan manusia menemukan sintesisnya yang nyata. Tak susah melihat budaya pop bersanding dengan budaya asli. Tak sulit menyaksikan perkawinan yang barat dan timur di sini. Tak perlu sengsara untuk menghirup kesejukan alam di tengah kota sekalipun.

Barangkali bila warga Jakarta bisa nyaman berjalan-jalan di pinggir jalan protokol, tak perlu ada boulevard tiruan di Dharmawangsa Square atau Cilandak Town Square. Sungguh….aku cemburu..

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: