jump to navigation

Kantong Mataku Berat 23 September 2006

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback

Memasuki bulan Ramadan adalah mengingat haru. Haru karena mengingat kepedihan, kekecewaan dan ketidakberdayaan yang terlambat. Bulan Ramadan adalah bulan haru. Bulan ketika emosi dan nalar kita diaduk-aduk oleh nurani yang sekalian lama dikucilkan. Ego yang sudah telanjur arogan tiba-tiba saja harus tunduk pada panggilan hati. Mengingat semuanya adalah mengenang haru biru, mengenang kekalahan-kekalahan sekaligus mengharap kemenangan.

Aku selalu ingat, setahun terakhir ini hanya sedikit sekali menangis. Ya, kalau dihitung, jumlah jari tangan dan kaki pun lebih dari cukup. Bahkan jari dari sebelah telapak tangan pun masih bersisa. Aku cuma ingat ada dua kali. Sekali kala lebaran, sekali sesudahnya.

Yang pertama adalah ketika bertemu orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Saat itu, Ramadan makin tipis dan Lebara melamba-lambai. Itu adalah pertemuan pertamaku dengan keluarga usai melewati titik nadir karena impian, cita-cita, harapan dan masa depan yang ada di depan mataku, lepas, atau dalam kata yang lebih perih, dibuang. Lebaran itulah, aku kembali membangun harapan. Aku temukan kembali semangat. Aku dapatkan lagi merahnya merah, hijaunya hijau dan putihnya putih. Semua itu muncul berkat peluk cium ibu, nasihat bapak, kritikan kakak, dan gurauan saudara-saudara. Aku menangis. Mataku berat. Basah.

Haru berikutnya adalah mengalahkan ego. Mengalahkan rasa malu dan keangkuhan. Mengalahkan kekerdilan sebagai lelaki. Aku lagi-lagi bersimpuh di depan lutut lelaki tua yang kuanggap orang tuaku sendiri. Aku menangis. Aku katakan kalau kedatanganku untuk meminta maaf atas janji dan amanah yang gagal kuemban. Atas kesalahan yang separuhnya kutimbulkan. Atas situasi yang sebagian kuciptakan. Aku terharu karena maaf itu diberikan.  Karena masih ada kebesaran hati yang ditawarkan. Aku betul-betul terharu.

Kini ketika Ramadan mendekat, semuanya membayang kembali. Aku ingin menikmati saat-saat mengharukan itu. Aku ingin merasakan lagi saat-saat jiwaku rapuh dan dipupuk oleh semangat, nasihat dan maaf dari orang-orang tuaku. Hari ini, saat Ramadan kembali mendekat, aku merasakan rasa itu lagi. Kantong mataku berat. Aku ingin mengenang saat-saat mengharukan itu. Aku ingin menangis.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: