jump to navigation

The Road To Guantanamo 28 September 2006

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback

The Road to Guantanamo

Bagi orang awam, membaca judul di atas akan memunculkan pertanyaan di manakah Guantanamo? Dengan membuka peta, jawaban itu segera ditemukan. Guantanamo adalah sebuah kamp instalasi militer Amerika Serikat di Kuba. Walau Amerika adalah musuh utamanya, Pemerintah Kuba tak bisa berkutik dengan keberadaan instalasi militer itu karena terikat perjanjian sewa wilayah dengan Amerika puluhan tahun lalu. Eit, tulisan ini bukan hendak membeber soal hubungan Amerika Serikat dan Kuba. Saya justru hendak membedah tentang Guantanamo-Guantanamo di Indonesia. Kok?

Judul di atas adalah sebuah film terbaru karya sutradara Michael Winterbottom yang meraih penghargaan Silver Bear di Berlin Film Festival 2006. Film ini dibuat dengan pola doku-drama yaitu memadukan cuplikan dokumenter dan rekaan berdasar penuturan langsung tokoh-tokoh utamanya. Kisahnya tentang tiga pemuda muslim-Ruhal Ahmed, Asif Iqbal dan Shafiq Rasul-warga Inggris asal Pakistan yang terjebak di Afghanistas kala terjadi huru-hara menjelang jatuhnya rezim Taliban yang tengah digempur tentara AS karena dituduh melindungi Usamah bin Laden. Tiga pemuda yang oleh media Barat disebut “Tipton Three”, merujuk asal mereka di Inggris, ditangkap tentara Aliansi Utara yang lantas diserahkan ke pasukan Amerika. Di sinilah jalan hidup mereka berubah. Ketiganya dimasukkan penjara karena dicurigai anggota Al Qaeda oleh AS dan diterbangkan ke kamp X-Ray di Guantanamo dan kemudian dipindah ke kamp Delta, juga di Guantanamo. Kebetulan seorang teman di Serpong membeli versi DVD-nya dan saya ikut menontonnya tempo hari.

Hanya berbekal kecurigaan dan “kesalahan” karena berbicara bahasa Inggris ketiganya menjalani kehidupan penjara yang sungguh tak manusiawi. Ditendang, dipukul, ditelanjangi, dilarang berbicara dengan sesama tahanan, bahkan ketika menjalankan salat pun sambil diintimidasi. Semuanya digambarkan secara gamblang di film tersebut. Seperti sering dilansir media di tanah air tentang perlakuan penegak hukum yang bermain rekayasa, ditampakkan pula polah agen-agen intelejen militer, CIA, MI5 dan FBI yang berkali-kali melakukan intimidasi agar “mainan” nya mengaku sebagai anggota Al Qaeda.

”Look at him. If you move, he will shoot you,” kata seorang interagor kepada salah salah satu dari Tipton Three ketika interogasi di bawah todongan senjata yang terkokang yang dibawa prajurit penjaga. Padahal si tahanan sudah diborgol tangan dan kakinya. Saking seringnya interogasi seperti ini, ketiganya hapal dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan interogator. Bila interogasi buntu, sudah disiapkan “hukuman” tambahan yaitu ruang isolasi. Di ruang ini, tahanan ditempatkan sendirian dalam ruangan gelap total tanpa cahaya dengan kaki dan tangan terborgol yang terikat rantai ke lantai. Itupun dengan posisi jongkok dengan tangan di bawah pantat karena rantainya sangat pendek. Praktis tak ada posisi lain bisa “dinikmati” tahanan bila disiksa dalam kondisi ini. Digambarkan juga tahanan dalam ruang isolasi yang ditemani musik yang disetel sangat keras. Bila tak tahan, bisa dipastikan tahanan bakal stres atau depresi dan menyerah kepada si interogator. Ada juga tahanan yang selnya diacak-acak dan kitab suci Al Quran yang ada di ruang itu ditendang oleh sipir.

”They said they were going to destroy me but the fact I became stronger and stronger everyday,” kata Ashif, salah seorang Tipton Three.
Akhirnya setelah tiga tahun ditahan tanpa tuduhan resmi dan tak ada bukti sebagai anggota Al Qaeda, ketiganya dilepas dan dikembalikan ke Inggris pada pertengahan 2005 lalu.

Sikap sipir-sipir penjara seperti itu bukan trademark tentara AS saja yang lagi getol memburu Usamah dan kelompoknya. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga menceritakan perilaku serdadu-serdadu TNI yang lebih bengis ketika dia dibuang ke pulau Buru karena dituduh sebagai PKI selama 14 tahun. Sama seperti Tipton Three, Pram juga tak pernah menerima tuduhan resmi terkait penangkapan dan penahanannya. Juga mantan ketua DPR RI, AM Fatwa, yang dalam biografinya mengaku mendapat perlakukan buruk dari aparat TNI yang menciduknya setelah peristiwa Tanjung Priuk meletus. AM Fatwa lebih “beruntung” karena disidangkan di pengadilan walaupun tuntutan yang diajukan jaksa disebutnya rekayasa. Belum lagi testimoni beberapa aktivis yang diculik anggota Tim Mawar Kopassus yang kala itu dipimpin Letjen Prabowo Subianto, di senja kala kekuasaan Soeharto. Semuanya menceritakan hal sama : perlakuan tidak manusiawi di tahanan oleh kaki tangan penguasa yang zalim. Bahkan rezim Soeharto pernah menciptakan kamp Guantanamo maya di republik ini. Para tahanannya adalah rakyat. Rezim Soeharto menciptakan atmosfer ketakutan dengan memberikan cap PKI, ET (eks tapol) di KTP, diskriminasi rasial bagi warga Tionghoa, cap Islam garis keras, dan mengobarkan perang di Timor Timur, Papua dan Aceh bertahun-tahun.

Sudahkah Guantanamo-Guantanamo di Republik ini hilang? Dengan menyesal saya menyebut bullshit. Tengok saja perlakukan tahanan di kantor-kantor polisi. Berapa kali kita mendengar polisi salah tangkap dan melepasnya kembali dalam kondisi babak belur? Terakhir kasus ini terjadi di Polres Bekasi. Saya melihat sendiri beberapa tahun lalu di kantor-kantor polisi di Jawa Tengah, ada tahanan-tahanan yang ‘di-bon” dan diinterogasi dengan pukulan, sengatan listrik, muka babak belur, jempol kaki diinjak kaki meja yang diduduki dan lain-lain. Barangkali kita masih bisa memaklumi kalau yang diperlakukan demikian adalah pelaku kriminal setarap pembunuh, pemerkosa, perampok dan lain-lain. Tetapi bila yang “di-bon” adalah orang yang salah tangkap, apa tanggung jawab polisi? Bagaimana dengan namanya yang sudah telanjur tercemar, tetangga yang mencemooh, luka fisik dan mental yang bakal melekat bertahun-tahun?

Sesungguhnya Guantanamo tak sekadar tempat yang dibatasi jeruji besi, kawat berduri dan penjaga-penjaga yang galak dan kasar. Guantanamo adalah sistem otoriter yang memonopoli kebenaran dan memaksakannya. Persis sikap kita bila tak bisa menenggang terhadap perbedaan dan bersikukuh bahwa pendapat dan sikap kita adalah yang paling benar. Karena kebenaran yang dimonopoli bukanlah kebenaran.

Iklan

Komentar»

1. louisharolds3950166349 - 5 Oktober 2006

hey, I just got a free $500.00 Gift Card. you can redeem yours at Abercrombie & Fitch All you have to do to get yours is Click Here to get a $500 free gift card for your backtoschool wardrobe

2. Bowo' - 15 November 2011

Mengerikan!. Yang penting sekarang sudah merdeka!.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: