jump to navigation

Membalas Kelakuan Raja 5 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Humor.
trackback
Kisah ini disadur bebas dari buku Abu Nawas yang saya beli di Masjid Agung Rangkasbitung, Lebak, Rabu 4 Oktober 2006 lalu, usai salat zuhur. Buku ini sangat lumayan karena mengupas kepintaran, kecerdasan, kekonyolan, kegilaan dan kearifan seorang Abu Nawas. Tokoh yang hidup semasa Khalifah Harun Al Rasyid ini sangat pintar berkelit dari masalah-masalah yang dihadapinya. Kadang-kadang dengan cara aneh dan penuh humor, tapi kadang-kadang nakal dan “keterlaluan”. Salah satunya kisah berikut:

Suatu hari khalifah Harus Al Rasyid tiba-tiba menyuruh tentara membongkar rumah Abu Nawas. penyebabnya, khalifah bermimpi di bawah rumah itu ada timbungan emas sangat banyak. Tanpa izin dari empunya rumah, tentara langsung menggali tanah. Namun meski sudah dalam, emas yang dikira ada itu ternyata tak juga diketemukan. Lantas para tentara itu pulang dan menimbulkkan kerusakan di rumah Abu Nawas.

Tentu saja Abu Nawas sangat geram diperlakukan demikian. Apalagi tak ada kata maaf dari khalifah. namun untuk membalas pun, Abu Nawas tak bisa secara langsung. Berhari-hari dia berpikir. Akhirnya pada hari ketujuh, muka Abu Nawas yang sejak pembongkaran rumahnya itu kecut, langsung berubah berseri-seri.

Segera dia menghadap ke istana. Khalifah pun mau menerima karena sudah yakin Abu Nawas akan datang. Selain itu, keduanya pun kerap bertemu. Di depan khalifah, dia mengutarakan maksud kedatangannya.

“Paduka, saya dan istri saya merasa tidak nyaman akhir-akhir ini,” kata dia seraya membawa wadah yang ditutup kain dan berisi lalat.

“Kenapa,” tanya khalifah.

”Setiap hari saya diganggu lalat-lalat. Saya ingin membasmi lalat dan membunuhnya tapi hamba mohon diberi ‘surat kuasa” yang ditandatangani paduka.

Tanpa banyak bicara, khalifah segera menandatangani surat tersebut dan diberikan kepada Abu Nawas. Begitu yakin telah mendapat mandat, Abu Nawas pun membuka wadah yang dibawanya dan sekejap saja lalat-lalat berterbangan di ruangan khalifah.

Abu Nawas yang memang sudah mempersiapkan rencananya untuk membalas kelakuan khalifah tempo hari segera berlarian mengejar lalat-lalat tersebut. Dengan memegang tongkat kayu, dipukulah lalat-lalat yang beterbangan itu. Ketika lalat menempel di kaca, Abu Nawas pun tak ragu menghantamnya. Tentu saja kaca itu hancur. Lalat yang hingga di lampu dan perabotan pun dihajarnya walau pun tak kena, namun merusak perkakas di ruang tersebut. Bahkan tempayan kesayangan khalifah pun dia hantam hingga hancur gara-gara dihinggapi lalat.

Setelah ruangan itu berantakan, Abu Nawas pun pamit pulang dengan rasa puas karena dendamnya terbalas. Sedangkan khalifah yang menyadari kesalahannya tempo hari tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dia sudah memberikan surat kuasa kepada Abu Nawas.

Sayangnya, buku yang saya beli cuma Rp 5000 itu tertinggal di ponpes Al Mubasyirin, Sajira Mekar, Sajira, Lebak, ketika datang memberikan ceramah tentang peranan pemuda Banten untuk mewujudkan Banten Cerdas. Untung saja, buku itu sudah saya baca seluruhnya.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: