jump to navigation

Shattered Glass, Kacamata yang Retak 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
trackback

Jurnalis adalah profesi bermuka ganda dalam masyarakat Indonesia. Profesi ini dibutuhkan tapi juga dibenci. Disayang tapi juga dicemooh. Ketika masyarakat mendapatkan cerita yang menarik, masyarakat mengelu-elukan mereka. Saat informasi terasa hampa dan sensor kekuasaan begitu rapat, jurnalis diharapkan menyampaikan yang tabu dan ditabukan. Mereka membawa tugas berat : menyampaikan fakta dan kebenaran yang mahal harganya.Sebaliknya, jurnalis terlanjur diidentikkan dengan amplop. Masyarakat telanjur percaya, wartawan tak akan menulis dengan “baik” kalau tak diselipi amplop. Wartawan amplop alias wartawan bodrek sudah menjadi rahasia umum. Bahkan wartawan yang bekerja di media-media ternama pun tak steril dari fenomena amplop, lapan nam alias jale. Kalau mau aman dan tak diganggu pers, amplopin saja wartawan yang datang, begitu bisik-bisik di kalangan pejabat dan pengusaha ketika menjalin hubungan harmonis dengan wartawan. Jurnalis (apa infotainment?) juga sudah dianggap kawan tapi juga duri bagi artis dan pejabat yang suka bikin skandal.

Ah, begitu parahkan jurnalis? Begitu seramkah mereka? Atau begitu muliakah mereka? Lebih banyak mana: wartawan amplop atau wartawan tanpa amplop? Wartawan jujur atau wartawan yang suka bikin berita palsu? Tak ada survei yang pernah dilakukan untuk menjawab soal ini.

Memang jurnalisme di Indonesia belum begitu matang. Sekolah-sekolah jurnalistik tak sebanyak di negara-negara maju. Media massa memang bejibun semenjak era reformasi terbit, tapi yang benar-benar serius menggarap isinya jauh lebih sedikit dibanding yang mengusung jurnalisme kuning. Yang terakhir ini isinya tak bisa dijadikan rujukan karena hanya menjual sensasi.

“…ada lubang-lubang hitam dalam dunia yang dituntut harus selalu putih itu…”

Tetapi jangan berharap media-media “serius” isinya bisa dipercaya. Banyak kasus-kasus wartawan di negara-negara lain yang rupanya suka mengarang cerita, entah sebagian atau seluruh tulisan artikelnya. Salah satu yang heboh dan menggembarkan adalah yang menimpa The New Republic, majalah politik yang terbit di Washington. Majalah yang umurnya hampir 90 tahun itu, mengklaim sebagai satu-satunya majalah yang bisa masuk ke dalam Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat. Yang menimpa majalah berpengaruh ini digambarkan gamblang dalam film Shattered Glass

Saya mendapatkan DVD film ini tak sengaja sewaktu jalan-jalan di ITC Permata Hijau. Film ini layak ditonton oleh jurnalis atau profesi yang bersinggungan dengannya. Rupanya majalah sekelas The New Republic, salah satu yang dibaca presiden Amerika dan politisi di sana, punya wartawan yang sering menulis cerita bohong. Bahkan Stephen Glass-si wartawan yang suka mengarang cerita itu-sudah diangkat menjadi associate editor. Dari 41 tulisannya, 27 (kalau tak salah) adalah dikarang sebagian atau seluruhnya.

Nama-nama dalam karakter di film itu pun asli. Kejadiannya nyata. Digambarkan pula bagaimana si Stephen Glass berhasil meyakinkan editornya karena mendapatkan liputan yang “berwarna” dan menarik hingga muncul kecurigaan dari Adam Penenberg, wartawan Forbes Digital yang tak berhasil mengkonfirmasi satupun narasumber dalam tulisan Glass. Proses investigasi internal si redaktur lewat konfirmasi cek dan ricek serta kunjungan ke lokasi kejadian pun digambarkan detil. Semua kerja jurnalistik tampak di sini.

Bagi kalangan jurnalis, film ini tidak terlalu mengejutkan. Namun bagi orang awam, film ini memberi gambaran jelas kerja jurnalistik sesungguhnya. Setidaknya masyarakat pun bisa melihat, ada lubang-lubang hitam dalam dunia yang dituntut harus selalu putih itu.

Iklan

Komentar»

1. yusuf alam romadhon - 12 Februari 2007

ilmu tentang jurnalisme saya yakin seyakinnya adalah netral… tetapi permasalahannya siapa yang menggunakannya… ia hanyalah alat untuk melipatgandakan sebuah pengaruh… nah… kalo yang menggunakannya
adalah orang baik maka tentu akan melipatgandakan pengaruh kebaikannya… tetapi kalo yang menggunakannya orang jahat maka akan melipatgandakan pengaruh kejahatannya…
salam kenal dengan diriku

2. rutche natalia - 17 Maret 2007

kiranya film ini bisa membuat para wartawan bodrek menjadi lebih sadar. ingat loyaliyas utama dari seorang wartawan adalah berpatok kpd Kebenaran. kasiaan donk sama pembacanya, masy jangan hanya dibohongin berita2 palsu. bagi para pembaca juga perlu meningkatkan kemampuan Kritis terhadap st. berita, k? salam kenal dariku…

3. chanang - 17 April 2008

selamat berjuang para wartawan sejati, wartawan yg “jihad” di jalan yg benar.
met kenal semuanya

don_pions@yahoo.com

4. fplh - 5 Agustus 2008

Film yang keren dan inspiratif, sangat detail dengan penokohan yang real dan merata. Meski permasalahan dengan wartawan kita agak berbeda….mungkin dari masyarakat kita sendiri juga sering merasa ingin berterimakasih atas suatu pemberitaan tertentu dengan memberi “amplop” lambat laun menjadi sebuah addict para jurnalis kita. Menyedihkan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: