jump to navigation

Wajah Tanpa Rupa 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Cerpen.
trackback
Ini adalah cerpen pertama yang pernah aku tulis. Cerpen ini pernah hilang beberapa waktu lalu karena kukira lenyap waktu laptopku diformat ulang, kurang lebih dua tahun lalu. Padahal aku tak pernah menyimpannya dalam bentuk cetakan. Secara tak sengaja, aku menemukan lagi di dalam briefcase.yahoo.com yang lama tak pernah kubuka. Judulnya Wajah Tanpa Rupa. Thanks ya yahoo.

Wajah Tanpa Rupa

Aku baru saja tidur. Bangun. Mataku masih terkatup. Kelopak mata berat rasanya untuk dibuka. Tetapi, dorongan itu begitu kuat. Tak bisa ditahan. Aku harus terjaga. Mimpi-mimpi itu datang lagi. Aku tak bisa menolak apalagi mengelak. “Kalau aku terjaga, aku bisa lari darinya,” pikirku. Bukan. Bukanya aku taku. Bukan karena pengecut. Bila aku sadar, aku yakin mampu melawan mimpi-mimpi itu. Mimpi yang selalu datang menemui ruang tidurku belakangan ini.

Melawan, lagi-lagi aku ingin melawan. Tapi….tidak, aku tidak melawannya. Aku tidak mengenalnya. Bagaimana aku melawannya? Bosan rasanya menyebutkan istilah itu. Aku sebenarnya mulai menikmati datangnya mimpi-mimpi yang aku benci itu. Ada perasaan lain. Pengalaman yang belum pernah aku alami. Sensasi tak terukur. Entah apa namanya. Tapi sejujurnya, aku agak takut menghadapinya.

Wajah. Wajah dalam mimpi itu…kosong, hampa. Wajah-wajah kosong tanpa muka. Tanpa mata. Datar seperti lantai porselen tempat aku berdiri sekarang. Kosong tapi bersuara. Suara-suara aneh. Suara yang membawaku melayang ke masa kecil. Mengingatkan hantu-hantu seperti dalam film-film nasional dulu yang kadang-kadang masih di putar di stasiun tv.

Bukan. Bukan wajah kosong itu sebenarnya yang membuatku berkeringat. Nafasku berpacu atau otakku pusing dibuatnya. Tapi jeritannya. Teriakannya. Wajah tanpa rupa, selalu berteriak, menjerit, merintih dalam mimpi-mimpiku. “Aku, aku, aku adalah engkau,” teriaknya dalam mimpi. Suaranya melengking. Seperti orang kesakitan. Melolong. Gambaran kepedihan yang mendalam.  Kesakitan yang berlapis-lapis. Perih tanpa ujung. Tapi mengapa aku, mengapa menuju diriku. Wajah tanpa rupa itu….

Aku takut. Tapi ini lain. Pisau berkilat atau pelor yang berdesingan tak pernah bisa menyentuh syarat ketakutanku. Bahkan terali besi penjara atau sipir-sipirnya yang kejam. Tapi, wajah tanpa rupa itu. Ah…aku begitu nervous dibuatnya. Dia datang tanpa aku minta.

Pelor atau pisau, bisa aku takar akibatnya. Penjara atau sipir, mampu aku redam ganasnya. Tapi, wajah tanpa rupa itu….bagaimana aku menaklukannnya ?  Aku benar-benar bingung. Gugup. Otakku sudah lelah berputar.  Pengalaman berhadapan dengan mautpun tak bisa aku pakai menghadapinya. Apalagi cuma sekeping pisau yang selalu aku simpan di bawah ranjang. Atau puluhan kawan-kawan yang selalu manut bila aku aku gerakkan kapan saja. Bangsat. Bajingan. Tak ada yang bisa aku andalkan melawan setan tanpa rupa ini. Atau…..?, pergi ke paranormal. Ahh…..sejak dulu aku tak suka istilah itu. Manusia-manusia yang pantasnya hidup dalam dongeng itu.

Malam ini, hari ke sembilan kedatangan mimpi itu lagi. Aku belum temukan cara menaklukan wajah tanpa rupa itu.

“Kamu memang hebat, Mas,”. Ucapan Siswoto, petinggi kota ini, terngiang-ngiang kembali di telingaku. Ia memang sangat kagum dengan caraku menaklukan para preman di wilayah-wilayah slum kota ini. Aku sendiri biasa-biasa saja dengan pujian itu. Sungguh, aku tidak GR. Bagiku preman-preman itu kalau dimanusiakan, tidak akan jadi masalah. Yang penting, jangan anggap mereka sampah yang harus disingkirkan. Anggap saja mereka orang sakit yang butuh obat. Obat atau tepatnya alat. Benda yang juga aku butuhkan melawan datangnya mimpi-mimpi itu. Dulu aku yang memberi obat pada para preman itu. Saking manjurnya, aku dipanggil Walikota dan dijadikan penasehatnya. Aku sendiri malu, aku cuma seorang pedagang buah-buahan di pasar yang kebetulan pernah jadi preman tempo hari.

Walau tergolong kaum marjinal, aku cukup beruntung dibanding lainnya. Aku pernah kuliah. Kendati cuma sampai semester lima. Hanya gara-gara terlalu sering keluyuran, aku jadi tak semangat belajar. SPP nunggak. Terpaksa aku usaha ini itu. Sabet sana sabet sini. Semua polisi di kota kenal siapa aku. Masih mending aku tak pernah kena pelor panas. Gara-gara berurusan dengan aparat negara ini pula aku terpaksa drop out dari kuliah. Tapi aku sadar, tujuanku kuliah tak senada dengan gelarku sebagai preman. Daripada aku munafik, sekalian saja aku keluar. Aku bukan oportunis. Aku memang preman. Tapi itu dulu. Aku kini pedagang buah. Punya istri dan sebentar lagi punya anak. Dina istriku, lagi mengandung. Aku tak ingin anak-anakku kelak meniru masa mudaku. Ah.. melamun jadinya.

Oh…aku ingat sekarang. Wajah tanpa rupa itu, aku ingat, dia …ah…siapa ya. Aku pernah ingat. Aku ingat suaranya. Ah…..aku pernah dengar suara-suranya. Tapi siapa……Rasa takutku mulai lenyap. Aku lebih tenang karena merasa menemukan jawabannya sekarang.

—##—

“Ini bu, semuanya Rp 13 ribu,” kataku seraya menyerahkan kantong plastik berisi jeruk kepada seorang pembeli. “Terima kasih, pak,” balasnya sambil menyodorkan lembaran uang sepuluh ribu dan tiga lembar ribuan. Alhamdulillah, semoga Allah menjadikan rejeki ini barokah buat keluargaku. Aku terdiam. Tiba-tiba, telepon di kios ku menjerit. Dengan tangan kanan aku angkat. “Hallo, dengan pak Dimas ?,” suara lelaki di seberang sana. “Ada apa Mo,” balasku kepada Atmo, tetangga sebelah rumah yang sudah kuhapal suaranya. “Ibu, pak. Ibu dibawa ke rumah sakit. Katanya mau melahirkan. Bapak diminta nyusul ke sana,” katanya sedikit gagap. Cemas bercampur gembira, aku tanyakan nama rumah sakit dan ruang tempat istriku dibawa. Saat itu juga, kios aku serahkan kepada Joko, satu-satunya karyawanku untuk menungguinya.

Dengan menumpang sepeda motor butut, aku melaju ke rumah sakit. Tak sampai setengah jam aku sampai. Ruang persalinan, lantai dua. Blok F. Aku ingat-ingat nama yang diberikan Atmo kepadaku. Ketika sampai, aku lihat Atmo bersama istrinya duduk di ruang tunggu. “Mana Dina. Bagaimana anakku,” ucapku cemas. Entah mengapa, ketika menginjakkan kaki di rumah sakit, aku makin cemas. Jantungku lebih cepat berdenyut.

“Ada di dalam, anakmu sudah lahir kok, Dina selamat,” ujar Atmo. Ucapannya meredakan keteganganku. Ada kebahagiaan mengalir dibenakku. “Tapi saya belum lihat, belum diperbolehkan. Kata suster, harus bapaknya dulu yang lihat,” ujar Darsi, istri Atmo.  Akupun segera melangkah masuk ke ruangan menemui istriku yang terbaring pucat. Wajahnya menyungging senyuman walau tampak lelah.

“Mas, bilang dong sama suster, aku pengen lihat anak kita,” bujuk Dina padaku. Segera aku suster diruangnya dan aku utarakan maksudku. Namun, tingkah suster tersebut agak aneh. Ia tak menjawab permintaanku, malah memintaku menanyakan langsung pada dokter di ruang sebelahnya. Kutemui dokter Dadang yang sedang memeriksa pasien yang juga tengah hamil. Agak terkejut dia, ketika aku datangi dan kusampaikan keinginan istriku. “Ee…anu…gimana ya….”, ucapnya gugup. Jawaban yang tak jelas itu, sontak menghidupkan syarat kecemasanku. Aku nervous. Aku rasakan, otot-otot mukaku berkerut. “Silahkan, di ruang bayi, kotak incubator nomor empat,” ujarnya sedikit pucat. Raut mukanya makin menambah tinggi tensi ketakutanku.

Aku berjalan cepat menuju ruang incubator. Di belakangku, Atmo dan Darsi membuntuti. Aku sudah tak sabar melihat anakku. Ingin rasanya memeluknya cepat-cepat. Tapi, makin dekat ruang incubator, suara-suara itu, ya…suara suara dari mimpi aneh itu muncul di kepalaku. Ah….nafasku memburu. Aku berhenti melangkah. Persetan dengan suara- suara bangsat itu. Persetan dengan semuanya, aku ingin menggendong buah hatiku. Keturunanku. Aku tidak ingin menimangnya.

Aku masuk dan berhenti di depan incubator nomor empat. Hah….aku terlonjak. Ya….ampun. Ya Alllah. “Ada apa,” ujar Atmo yang langsung melongok kedalam incubator. “Kenapa….kok….,” suara Atmo terputus. Oh….Tuhan, apa dosaku. Apa salahku. Anakku, anakku.  Wajahnya , wajahnya itu….
Anakku lahir tanpa rupa. Ya Allah….Aku lemas. Aku melayang-layang. Aku seperti memasuki pusaran arus tak berujung. Aku tak ingat apa-apa lagi. Gelap. Semuanya gelap. Hitam. Aku tak melihat apa-apa lagi. Aku….aku….Oh…..

“Mas,….mas,” lamat-lamat kudengar suara istriku. Mataku terbuka. “Oh…Dinaa…,” gumanku pelan. “Mas gimana sih, kalau jualan jangan tidur dong. Tadi ada yang mau beli lho. Makanya kalau malam jangan sering-sering nonton bola,” katanya cemberut. Aku cuma celingungkan. Bingung.

Bukit Tembalang, jelang tengah malam.
05062001

Iklan

Komentar»

1. hanny - 27 Februari 2007

Eh Mas Nanang, kalo seneng nulis cerpen coba gabung di kemudian.com deh, hehehe ini situs buat orang-orang yang suka nulis cerpen/prosa dan di situs ini semua orang bisa ngomentarin karya yang sudah diposting di sana 🙂 coba aja, siapa tau bisa jadi mainan baru setelah nge-blog 🙂

2. nicko - 5 Januari 2008

hai angel karamoy aku ngefens ama qamu boleh minta photonya nggak!!!.kirim langsung ke no.hp koe….081374614249


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: