jump to navigation

12 Fakta tentang Amplop 10 November 2006

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme.
trackback

Benda ini sangat dikenal masyarakat. Selain manfaatnya, dia juga memiliki beragam makna, tergantung pada konteks dan kalangan yang memakainya. Bagi petugas pos, amplop berarti surat. Namun bagi kalangan lain, amplop diartikan uang terima kasih atau uang suap. Inilah 12 fakta tentang amplop yang saya rangkum dari berbagai sumber :

1. Berwujud pipih dan datar.

Tidak ada yang berbentuk bulat seperti bola atau gilig seperti pipa.

2. Kebanyakan berbentuk persegi panjang.

Ada juga amplop yang berbentuk lingkaran, dan segitiga.

3. Mayoritas terbuat dari kertas.

Ada juga amplop yang terbuat dari plastik, kain linen atau bahan lain. Tetapi otak kita langsung mengingat secarik kertas yang dilipat sedemikian rupa bila mendengar kata amplop.

4. Umumnya berwarna putih.

Tak disangkal, mayoritas amplop dibuat dari kertas berwarna putih. Kendati ada yang berwarna lain, tetapi biasanya dipakai untuk keperluan khusus seperti tempat menyimpan berkas lamaran kerja, ucapan ulang tahun, ucapan idul fitri, ucapan natal, tanda berduka cita atau untuk diberikan kepada barongsai (amplop merah).

5. Sangat lengket dengan prangko.

Saking akrabnya ada iklan televisi yang tag-nya begini : ”….lengket kayak prangko.”

6. Jadi bagian dari alat tulis kantor.

Setiap kantor mewajibkan memiliki inventaris berupa amplop tetapi tak selalu menyediakan prangko.

7. Bisa dibuka-tutup.

Agar tak dilihat atau dibaca orang lain, salah satu sisi dari bagian belakang amplop bisa dibuka dan direkatkan dengan lem atau tali.

8. Identik dengan kantor pos dan korespondensi.

Sampai saat ini semua kantor pos menyediakan prangko dan menerima layanan pengiriman surat yang dikemas dalam amplop.

9. Bisa menjadi wahana kegiatan amal.

Amplop menjadi teman setia dan bentuk sopan-santun dalam setiap kali pemberian sumbangan berupa uang atau surat berharga.

10. Bentuk lain dari praktik kotor suap-menyuap.

Agar tak kentara dan terkesan tak menyalahi aturan, suap diberikan setelah uangnya dibungkus amplop.

11. Bahasa lain dari ucapan terima kasih.

Bila kita mengundang penceramah, modin, baik dalam seminar atau hajatan di rumah, wujud ucapan terima kasih dilambangkan dengan pemberian amplop, tentunya yang didalamnya berisi uang atau surat berharga.

12. Istilah sinis buat wartawan.

Khusus di Indonesia ada julukan wartawan amplop yang diberikan oleh masyarakat. Julukan ini mengacu pada wartawan yang suka menerima amplop berisi uang (bukan memberi amplop) dari narasumber baik terkait pemberitaan atau tidak. Amplop dalam dunia kewartawanan sudah menjadi hal biasa akibat berbagai aspek di sekeliling wartawan seperti rendahnya gaji yang diterima, budaya birokrasi yang korup sehingga mencoba menutupi aib lewat upaya “pembungkaman” terhadap pers, etika jurnalistik wartawan yang rendah, hingga keinginan dari narasumber untuk mendapatkan citra positif lewat pemberitaan media dengan cara “berbuat baik” kepada wartawan. Sudah lama disadari, budaya amplop merusak independensi wartawan dan media tempatnya bekerja. Kini ada gerakan anti-amplop yang dikampanyekan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen).

Selengkapnya tentang sejarah amplop, klik di sini

Iklan

Komentar»

1. Cole2 - 30 Desember 2006

Plodeo umgo?? Amazing.

2. izzul - 24 Januari 2007

yang ke-12 apaan tuh

3. maya - 1 Desember 2008

Benda ini sangat dikenal masyarakat. Selain manfaatnya, dia juga memiliki beragam makna, tergantung pada konteks dan kalangan yang memakainya. Bagi petugas pos, amplop berarti surat. Namun bagi kalangan lain, amplop diartikan uang terima kasih atau uang suap. Inilah 12 fakta tentang amplop yang saya rangkum dari berbagai sumber :

1. Berwujud pipih dan datar.

Tidak ada yang berbentuk bulat seperti bola atau gilig seperti pipa.

2. Kebanyakan berbentuk persegi panjang.

Ada juga amplop yang berbentuk lingkaran, dan segitiga.

3. Mayoritas terbuat dari kertas.

Ada juga amplop yang terbuat dari plastik, kain linen atau bahan lain. Tetapi otak kita langsung mengingat secarik kertas yang dilipat sedemikian rupa bila mendengar kata amplop.

4. Umumnya berwarna putih.

Tak disangkal, mayoritas amplop dibuat dari kertas berwarna putih. Kendati ada yang berwarna lain, tetapi biasanya dipakai untuk keperluan khusus seperti tempat menyimpan berkas lamaran kerja, ucapan ulang tahun, ucapan idul fitri, ucapan natal, tanda berduka cita atau untuk diberikan kepada barongsai (amplop merah).

5. Sangat lengket dengan prangko.

Saking akrabnya ada iklan televisi yang tag-nya begini : ”….lengket kayak prangko.”

6. Jadi bagian dari alat tulis kantor.

Setiap kantor mewajibkan memiliki inventaris berupa amplop tetapi tak selalu menyediakan prangko.

7. Bisa dibuka-tutup.

Agar tak dilihat atau dibaca orang lain, salah satu sisi dari bagian belakang amplop bisa dibuka dan direkatkan dengan lem atau tali.

8. Identik dengan kantor pos dan korespondensi.

Sampai saat ini semua kantor pos menyediakan prangko dan menerima layanan pengiriman surat yang dikemas dalam amplop.

9. Bisa menjadi wahana kegiatan amal.

Amplop menjadi teman setia dan bentuk sopan-santun dalam setiap kali pemberian sumbangan berupa uang atau surat berharga.

10. Bentuk lain dari praktik kotor suap-menyuap.

Agar tak kentara dan terkesan tak menyalahi aturan, suap diberikan setelah uangnya dibungkus amplop.

11. Bahasa lain dari ucapan terima kasih.

Bila kita mengundang penceramah, modin, baik dalam seminar atau hajatan di rumah, wujud ucapan terima kasih dilambangkan dengan pemberian amplop, tentunya yang didalamnya berisi uang atau surat berharga.

12. Istilah sinis buat wartawan.

Khusus di Indonesia ada julukan wartawan amplop yang diberikan oleh masyarakat. Julukan ini mengacu pada wartawan yang suka menerima amplop berisi uang (bukan memberi amplop) dari narasumber baik terkait pemberitaan atau tidak. Amplop dalam dunia kewartawanan sudah menjadi hal biasa akibat berbagai aspek di sekeliling wartawan seperti rendahnya gaji yang diterima, budaya birokrasi yang korup sehingga mencoba menutupi aib lewat upaya “pembungkaman” terhadap pers, etika jurnalistik wartawan yang rendah, hingga keinginan dari narasumber untuk mendapatkan citra positif lewat pemberitaan media dengan cara “berbuat baik” kepada wartawan. Sudah lama disadari, budaya amplop merusak independensi wartawan dan media tempatnya bekerja. Kini ada gerakan anti-amplop yang dikampanyekan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen).

4. maman - 9 Oktober 2009

????????????????????????????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: