jump to navigation

Surya dan Tukang Ojek 16 Januari 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
trackback

Sebut saja namanya Surya, lajang di rentang akhir usia dua puluhan tahun. Karirnya tergolong sukses. Cara berpikirnya maju. Tak peduli apa kata orang, apa yang diyakininya benar, akan coba diwujudkan. Sudah cukup lama dia merantau ke Jakarta, menjajal kemampuan dan mengembangkan wawasan yang menurutnya masih kurang. Hanya saja dia kadang-kadang merasa hampa. Hatinya kering. Jiwanya kosong. Sudah cukup lama jiwanya mengembara. Buku-buku filsafat, sufi, agama dilahapnya. Buku motivasi sudah masuk dalam daftar koleksinya. Film-film perjuangan pun dia miliki. Kekasih yang baik dan setia tak pernah jauh darinya. Tapi tetap saja ada belum lengkap yang dia rasakan.

Suatu malam, usai pulang kerja, Surya mengobrol tentang berbagai topik dengan teman di rumah kontrakannya. Sambil bersantai, mereka bertukar pikiran tentang soal negara, agama, cita-cita hingga soal teman wanita.

Jam menunjukkan angka 11. Hampir tengah malam. Deru sepeda motor dengan lampu yang menyorot tajam, mendekat ke kamarnya. Memang kontrakkannya dihuni banyak orang. Semuanya perantau yang mengadu nasib ke ibukota. Surya membuka pintu, melongok siapa yang datang. Rupanya seorang lelaki, tetangga-tetangganya memanggil dia Pak De.

Sosok Pak De bukan orang muda. Dia sudah renta. Usianya di atas 60 tahun. Barangkali di atas 70 tahun. Badannya kurus. Kulitnya gelap. Wajahnya sudah berkeriput. Pipinya cekung. Sinar matanya polos seperti tak menyimpan banyak cita-cita lagi. Pak De memakai celana panjang, topi hitam dan jaket kain warna coklat yang tak bisa menghapus kesan tubuhnya yang kerempeng di makan usia.

Surya terkesima. Beberapa hari sebelumnya, dia hanya bisa menyapa sekadarnya saat Pak De mengelap sepeda motornya. Semula Surya mengira Pak De bukanlah tetangga kontrakannya.

”Baru pulang kerja Pak,” tanya Surya. Pak De mengangguk.
”Dari mana?” tanya Surya lagi.
”Ngojek. Dari depan,” jawab Pak De ramah dengan wajah seperti menahan lelah.

Hati Surya mendesir. Setua ini masih saja dia menarik ojek? Bersaing dengan pengojek yang rata-rata masih mudah dan segar? Surya melihat Pak De dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dalam hatinya dia nyaris tak percaya. Setelah berbasa-basi sejenak, Pak De pun berlalu masuk ke kamarnya. Tak ada dialog lagi. Surya pun tak berani bertanya apakah Pak De punya keluarga di kampung atau punya anak. Kemana mereka? Yang dia tahu, dari cerita teman-teman di kontrakannya, Pak De tinggal sendiri. Menjadi penghuni kontrakan seperti dirinya.

Surya masuk ke kamarnya. Menutup pintu dan langsung merebahkan diri. Pikirannya teringat kembali sosok Pak De. Temannya yang tadi diajak ngobrol kini asyik bermain komputer. “Ah…Pak De…mestinya saya malu dengan semangat hidupnya”. “Saya lebih muda. Saya harusnya lebih bersemangat menghadapi hidup,” hati kecil Surya terus bersuara.

Tiba-tiba matanya berat. Kepala ditelungkupkan. Surya ingat ayah ibunya. Usia mereka hampir sama dengan Pak De. Hanya saja dia merasa ada jarak dengan mereka. Sudah cukup lama, dia tak menengok mereka di kampung. Cukup lama dia tak bercanda dan bercerita dengan ayah. Surya makin larut dalam kenangan. Dia ingat saat remaja dulu, pak ustad di mushola dekat rumahnya mengingatkan agar tak membuat orang tua kecewa. Bahkan mengucapkan kata “ah” di depan mereka pun tak diperbolehkan. ”Bisa membuat mereka sakit hati dan tersakiti,” kata-kata ustad Burhanudin terngiang-ngiang di telinganya.

Surya kembali menelungkup. Lamat-lamat suara serak Kenny Roger yang melantunkan lagu You Decorated My Live dari pemutar CD di kamarnya, menghilang dari telinganya. Dia merasa sepi ketika perlahan tapi pasti ada yang basah di kain bantalnya.

Iklan

Komentar»

1. bagonk - 17 Januari 2007

wah… renungan yang menarik…

2. las3 - 7 Februari 2007

bagus tuch…buat kita2 yang masih muda…biar ga terlalu terlena dengan keremajaan (indahnya dunia moderat)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: