jump to navigation

Sahabat 3 Maret 2007

Posted by sri nanang setiyono in Cerpen.
trackback

Tidak seperti biasanya, Vera merasa tak betah di kantor. Sejak pagi hingga siang ini, semangat kerjanya lunglai. Otaknya berbisik mengajak segera pulang ke rumah atau keluar nongkrong di kafe di mal dekat kantornya. Tak ada aktivitas penting yang dia lakukan. Berkas-berkas proposal yang butuh approval dari atasannya, dibiarkan menumpuk di atas meja. Kebetulan sang bos yang konsultan manajemen, tak datang karena sedang mengikuti seminar di luar kota. Vera bisa sedikit bernafas lega.Masih dengan muka masam, Vera mencoba mengurangi rasa bete-nya sambil memainkan jemarinya di atas keyboard komputer. Chatting adalah favoritnya, meski harus dilakukan sembunyi-sembunyi bila sedang tak ada bos.
“Sar, gue bingung harus gimana. Gue pengen datang tapi juga males ketemu mereka,” tulis Vera di jendela Yahoo Messenger.

Sebaris kata-kata berwarna pink muncul dengan ukuran huruf yang lebih besar dalam font Arial. Di depannya tertulis identitas si pengirim : Sarah.
”Lu boleh engga datang, tapi gue saranin elu nongol di sana. Daripada elu nyesel seumur hidup,”
Sarah adalah sahabat yang dikenalnya sejak bekerja di kantor ini. Mereka kerap bertemu di lift saat berangkat, istirahat atau pun pulang kerja. Walau berbeda lantai dan beda perusahaan, Sarah adalah orang pertama yang membuat Vera merasa nyaman di gedung perkantoran 18 lantai di Jakarta Selatan itu.
”Iya sih. Tapi gue kan juga malu,” kembali Vera menulis.
”Don’t be sad, bu. Be strong, ok? Masih ada waktu kok, pikir-pikir aja dulu,” kembali Sarah memberi saran. Tak lupa Sarah mengirim icon smiley bulat berwarna kuning dengan orang tersenyum di belakang pesan itu.

”Ok deh. Gue pikirin dulu. Masih ada dua minggu kok. Thank ya Sar. Ntar dilanjutin ya, ada kerjaan nih”.

Usai menekan tombol SENT, Vera segera mengubah statusnya menjadi offline dan menutup jendela Yahoo Messenger.

##

Semuanya berawal sehari sebelumnya. Saat naik angkot dalam perjalanan pulang dari kantor, Vera merasakan ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan pendek masuk. Senyumnya langsung merekah. Rupanya si pengirim adalah Martha, teman kuliahnya saat masih sama-sama menimba ilmu di Jogjakarta, setahun lalu.

”Udah nyampe rumah belum, bu? Ada yang pengen aku omongin”. Vera sudah hapal gaya sapaan Martha. Selain relasinya, hanya Martha yang memanggilnya dengan sebutan Ibu. Konon sapaan itu diucapkan karena kala dirinya jadian dengan Mas Handoko, mantan kekasihnya, yang juga dipanggil Pak teman-temannya di kampus. Ah….Mas Handoko…..bagaimana kabarnya dia? Sejak putus, Vera hanya tiga kali mereka bertegur sapa dengan Mas Han. Itupun cuma basa-basi lewat SMS yaitu saat tahun baru, saat dia berulang tahun, terakhir saat Lebaran lalu.

”Kemana aja bu. Kok ga pernah ngasih kabar. Gue masih di angkot?” balas Vera sambil memberi tanda J di akhir pesannya.

”Entar aja deh kalau udah nyampe rumah, aku telepon ya. Jangan tidur dulu ya,”
”Oke”. Vera kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.

Tiba di rumah, Vera bergegas ke kamar, mandi, sholat, dan makan malam. Saat itulah ponselnya bergetar. Nama Martha kembali muncul di monitor, mengajaknya berbicara. Sahabatnya itu benar-benar menepati janji.
”Hei, apaan sih. Kayaknya serius banget,” Vera langsung memberondong pertanyaan lewat ponselnya.
”Ver, kamu harus sabar ya. Ada kabar penting. Mas Han dua minggu lagi married, kamu diundang”

Hah….Mas Han menikah? Sungguh? Sejenak Vera terdiam. Dia menahan perasaan yang berkecambuk. Kendati sudah putus, Vera tetap saja kaget. Hati kecilnya menolak berita itu. Secepat inikah Mas Han mendahuluinya? Bahkan kala ruang hatinya masih kosong dan belum mendapat pengisi sejak ditinggal Handoko?

”Ver…Vera, kamu masih di situ kan ….”
”Dapat orang mana dia?” Kali ini Vera sudah bisa mengusai diri. Dia mencoba tegar.
”Sebenarnya aku engga tega ngomongnya, Ver. Calonnya teman kita kok. Si Santi….”. Martha tak meneruskan kalimatnya.

Beberapa saat mereka tak bersuara. Ada keheningan aneh di ujung-ujung saluran telepon itu. Jantung Vera berdetak kencang. Ada yang ingin diungkapkannya, tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Hatinya berkecambuk. Hanya tarikan nafas dan bunyi sesenggukan yang sengaja ditahan yang sampai ke telinga Martha.

Santi bukan orang lain bagi Vera. Malah Santi adalah orang yang dulu menjadi mak comblang kala Mas Han-nama panggilan Handoko-mendekati Vera. Kepada Santi-lah, Vera curhat tentang Handoko. Vera menumpahkan perasaannya, kegembiraannya, kekesalannya, kecemburuannya, dan kesedihannya kepada Santi. Malah saat hubungan Handoko dan Vera bubar, Santi-lah yang pertama didatangi Vera.

”Ver….kamu harus tabah ya. Kalau kamu mau datang, nanti aku temenin. Resepsinya di Bandung. Aku juga diundang kok. Mungkin Mas Handoko dan Santi engga enak ngomong langsung ke kamu, makanya dia minta aku yang ngomong. Undanganmu masih aku bawa,”. Suara Martha menyadarkan lamunan Vera.
Saat itu, Vera merasa tenggorokannya terasa serak. Kelopak matanya basah. Dia segera mengambil tisu dari meja, meletakkan sendok, bangkit dari kursi, dan berlari ke kamarnya. Mama yang memperhatikan polah anak semata wayangnya itu, mencoba menyusul. Namun langkahnya tertahan pintu yang dikunci si empunya kamar.

”Ada apa Ver…kamu menangis?” tanya sang mama dari balik pintu.
”Ga ada apa-apa Ma,”
Untuk sesaat suara mamanya tak lagi dihiraukan.

”Ver….kalau kamu engga datang, aku maklum kok…” suara Martha kembali terdengar dari ponsel.
”Entahlah….gue engga tahu gue siap apa engga. Gue tahu ini berat, tapi gue bukan apa-apanya Mas Han lagi. Mereka berhak bahagia. Iya kan Tha?”.
”Ya sudah…yang tabah ya Ver. Jangan merasa sendiri, aku siap kok kapan saja kamu mau ngobrol,” Martha mencoba menghibur.
”Terima kasih Tha. Gue ga papa kok. Thanks,”
”Oke deh. Udahan dulu ya. Aku dipanggil mama,”. Sambungan pun terputus. Vera masih sempat mendengar bunyi tut..tut..tut dari ponselnya.

Sambil rebahan dan memeluk bantal dengan tangan kiri, Vera memainkan tombol jogdial, membuka phonebook dan berhenti pada nama Santi. Sejenak terlintas pikiran untuk memencet tombol dan berbicara dengan sahabatnya itu.
Tapi hati Vera bimbang. Mau ngomong apa? Memberi selamat? Bagaimana kalau dirinya justru tak bisa mengontrol emosi dan menuding Santi munafik dan memanfaatkan situasi? Bagaimana kalau justru dirinya ditertawakan atau dianggap kekanak-kanakan karena ternyata Santi bisa menerima kekurangan Mas Han, bahkan mereka kini mau menikah?
Ah…tak mungkin, Santi tak bakal bersikap seperti itu. Sisi malaikat Vera menolak bisikan sesat tersebut. Atau jangan-jangan Santi hamil sehingga Mas Han tak bisa mengelak dari tanggung jawab? Lagi-lagi bisikan sesat masuk ke otaknya.
Vera kembali termenung. Dia bimbang. Lantas, secepat kilat, dia mengambil keputusan : menekan tombol Cancel berwarna merah hingga 5 detik. Ponsel pun turn off. Vera lega

”Vera, mama tahu kamu nangis. Ayo cerita ke mama”. Rupanya mama, sosok wanita yang paling dicintainya, belum beranjak dari balik pintu.
”Engga ada apa-apa Ma, Vera cuma pengen sendirian dulu. Vera pengen tiduran”. Untuk sementara, sang mama lega. Dia sangat mengenal sifat putri semata wayangnya itu dan harus menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan satu-satunya anak perempuan di keluarga ini. Perempuan tua ini pun beranjak. Kembali ke dapur.

Di dalam kamar, Vera masih menerawang. Bayang-bayang masa lalu yang sempat bisa dia lupakan, kini muncul lagi. Bahkan dalam bentuk yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Mas Han dan Santi menikah….? Kenapa Mas Han? Kenapa Santi?

Sambil mengingat-ingat masa lalu, tangan kirinya meraih remote control pemutar CD dari atas meja rias. Jempolnya menekan tombol On/Off dan kemudian Play. Kali ini Vera merasa tak sendiri. Jewel yang melantunkan Goodbye Alice in Wonderland, seperti ada di dekatnya. Vera kembali memeluk bantal. Jewel mengajaknya untuk tak melawan perasaannya. Vera ingin menikmati ‘kekalahan’. Dia ingin menikmati perasaan itu. Dia ingin bersedih….

###

Tiga tahun lalu, Handoko adalah salah satu cowok yang jadi perhatian gadis-gadis di Fakultas Ekonomi di kampusnya. Namanya cukup popular di telinga penghuni kampus.. Vera semula tak begitu menghiraukan Handoko, kakak kelasnya satu tingkat lebih tinggi. Dalam pandangannya, Handoko-yang juga aktivis kampus–tak lebih dari seorang buaya darat yang pintar memanfaatkan ketampanan wajahnya untuk menggaet cewek-cewek kampus.

”Hei, aku dapat nomormu dari Santi. Salam kenal. Ini nomorku,” sebuah pesan pendek dari Handoko tiba-tiba sudah masuk ke dalam ponsel Vera. Itulah awal perkenalan mereka. SMS pun berbalas. Perkenalan via ponsel itu lambat-laun menjadi saling saling kirim salam dan obrolan-obrolan ringan di kafe kampus. Namun Vera tak pernah menanggapi serius, hingga suatu hari Santi memberitahunya kalau Handoko mengaku naksir ke Vera.
”Jangan disia-siakan Ver, jarang ada cowok seganteng dia di kampus kita lho,” kata Santi saat itu.

Sebulan kemudian, Santi pun tahu sahabatnya yang berwajah melankolis itu sudah kerap mengadakan kencan kecil dengan Handoko. Mereka jadian. Setiap kali ada masalah, Santi menjadi tempat curhat Vera. Sesekali Martha mengganti posisi Santi bila dia sedang sibuk dengan kegiatan organisasinya. Handoko pun memanfaatkan kedekatan Santi untuk membujuk kekasihnya itu kalau sedang ngambek.

Usai KKN, Vera kembali bertemu Santi. Saat itu Santi melihat raut muka Vera paling kusut dari yang pernah dilihatnya. Santi sudah menduga, Vera akan curhat tentang Handoko. Tentang cinta. Tentang kekecewaan. Juga tentang ketidakpercayaan.

”Mas Han sekarang aneh San. Dia engga mau terbuka lagi” keluhnya saat itu.
Keluhan-keluhan itu terus berlanjut. Malah makin sering. Setiap kali Vera bertemu Santi, keluh kesah tentang Handoko selalu menjadi topik utama. Kadang-kadang Santi yang merelakan datang menemui Vera mengabarkan jawaban Handoko.

”Gue lihat sendiri dia mesra banget sama Ratih, pake gandengan tangan lah. Bisa-bisanya dia bilang engga ada apa-apa sama Ratih. Gue udah engga tahan San. Gue pengen putus. It’s over….” kata Vera lirih. Santi hanya diam mencoba memahami hati sahabatnya itu.

Seminggu kemudian Vera dan Handoko putus. Santi kini tak lagi mendengar curhat-curhat Vera. Di antara dua sahabat ini seperti ada kesepakatan untuk tak membuka luka lama. Handoko nyaris tak pernah menjadi bahan obrolan dalam pembicaraan mereka. Apalagi Vera makin sibuk mengurusi skripsinya, sedangkan Santi tetap seorang aktivis yang jarang nongol di rumah kos. Empat bulan kemudian, Vera diwisuda dan kembali ke Jakarta.

Di ibukota pun, Vera masih menghubungi Santi via SMS, telepon maupun chatting di yahoo messenger. Obrolannya pun beragam dari soal mencari pekerjaan, suasana kantor, kabar teman-teman mereka di kampus dahulu hingga karir Santi yang kini bekerja di sebuah LSM internasional tentang pelestarian lingkungan hidup dan membuka cabang di Jogja. Soal Handoko? Baik Vera maupun Santi tak pernah menyinggungnya. Namun lima bulan terakhir, Santi tak lagi bisa dihubungi. Dia seperti hilang di telan bumi. Dari Martha, Vera mendapat kabar, Santi ikut penelitian di pedalaman Kalimantan.

###
”Tha, gue jadi datang tapi temenin gue ya. Gue nginep di rumah Budhe di Lembang. Temen gue juga mau ikut, namanya Sarah” bunyi pesan pendek Vera ke Martha.
”Gue ingin nunjukkin kalau gue ingin terus bersahabat sama mereka” kembali Vera mengirim SMS.
”Sounds good. Ok, hari Sabtu kita ketemuan di rumah Budhe kamu. Kasih alamatnya ya, sama nomor teleponnya. Aku naik kereta dari sini,” balas Martha.

##
Minggu pagi, tiga gadis dalam rentang tengah usia dua puluhan duduk di bangku belakang taksi di tengah lalu lintas kota Bandung. Tujuannya gedung PGRI, tempat resepsi Santi dan Mas Handoko digelar. Vera tampak paling nervous dibanding Martha maupun Sarah yang mengapitnya.

”Tenang ya Ver. Kamu dandan cantik kok, Mas Han pasti nyesel begitu lihat kamu. Iya engga Sar,” goda Martha. Sarah yang diajak bicara pun menyahut.
”Entar habis dari resepsi, kita jalan-jalan ke Ciwalk. Kita engga mau elu bete abis liat Santi dan Mas Han bersanding” balas Sarah.
”Tapi kalian jangan jauh-jauh ya. Gue gugup” kata Vera cemas. Seperti memberi jawaban, Sarah dan Martha masing-masing meremas tangan Vera, menenangkan kegundahan hati sahabat mereka itu.
”Thanks Tha, Sar. Kalian baik sekali,” lanjut Vera.
”Ga papa kok. Tapi janji ya, jangan malu-maluin di sana,” pinta Sarah.

Taksi terus melaju hingga memasuki halaman gedung resepsi. Ada rangkaian sepasang janur kuning melengkung di sisi kanan dan kiri gerbang masuk. Mobil-mobil undangan sudah berjejer memenuhi sebagian halaman parkir yang luas. Ada hansip yang berjaga-jaga. Tampak hilir mudik tamu yang terus berdatangan mengantri mengisi buku tamu.

Vera, Martha dan Sarah, berjalan perlahan ke meja resepsionis yang dari ditunggui gadis-gadis cantik dengan baju kebaya khas Sunda. Vera tampak ragu-ragu. Langkahnya terhenti.
”Ayo lah…sudah sampai di sini. Masak harus nyesel seumur hidup,” ajak Sarah.
Segera semangatnya bangkit dan kembali berjalan. Di seberang meja resepsionis, foto pre-wedding seukuran poster Mas Han dan Santi menyambut ketiganya. Vera kembali tertegun. Ada rasa ragu untuk memasuki ruang resepsi. Martha tanggap situasi ini. Ia segera mengisi buku tamu atas nama tiga orang dan menyerahkan kado ke resepsionis.

”Kita di belakang aja ya. Gue malu kalau ketemu temen-temen gue,” pinta Vera. Hati Vera kembali teraduk-aduk. Apalagi pengeras suara di ruangan itu melantunkan vokal penyanyi yang mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Ingatannya kembali lagi ke Mas Han, Santi, dan masa-masa kuliah. Belum lagi ada rasa khawatir bila bertemu teman-teman Handoko maupun teman-teman kuliahnya dahulu yang tentu yang akan menggodanya. Beruntung, di ruangan itu, sangat sedikit wajah yang dikenalnya. Mereka hanya menyapa sekadarnya dan seperti tahu diri, tak menyinggung masa lalu Vera dan Handoko.

Di tengah kerumunan itu, Vera bisa mengintip Handoko dan Santi yang sedang sibuk menerima ucapan dari para tamu. Bergantian mereka berfoto bersama mempelai. Hati Vera kembali berkecambuk. Akhirnya dia putuskan untuk tak berlama-lama di tempat itu.

”Ayo kasih ucapan ke pengantinnya. Terus kita pulang,” ajak Vera. Martha dan Sarah saling pandang seolah tak percaya sahabatnya akan begitu pede.

Kurang dari sepuluh meter dari tempat mempelai, Handoko dan Santi melihat sosok Vera. Raut muka keduanya berubah. Begitu pula dengan Santi, yang tak pernah bersiap untuk momen seperti itu.

”Selamat…”tangan Vera menjabat tangan Handoko.
”Terima kasih…”balas Handoko tak berani menatap wajah mantan kekasihnya itu.
Kini giliran Santi yang dihadapinya. Ia ingin memeluk, namun ada keraguan yang menyelimuti dadanya. Dia memilih menahan diri. Vera hanya tersenyum kecil sedangkan Santi tampak pucat dan gugup, meski mencoba tersenyum.
”Selamat San…,” kata Vera lirih sambil mengulurkan tangan. Santi membalas sambil mengucapkan terima kasih. Untuk sesaat, mereka saling bertatap mata seperti mencari jawaban satu sama lain. Tiba-tiba, secara reflek, mereka pun berpelukan. Nyaris tak ada kata-kata yang terucap saat itu. Mereka seakan tahu situasi sulit yang dihadapi masing-masing.

”Kamu lebih putih sekarang,” kali ini Santi membuka kata-kata. Matanya berkaca-kaca. Ia tak juga melepaskan genggaman tangan Vera. Malah Vera merasa, genggaman tanggan sahabatnya itu makin erat karena tangan kiri Santi ikut juga menggenggam tangannya. Vera menunggu kalimat berikutnya dari Santi, namun tak kunjung muncul. Hanya genggaman tangan yang tetap erat seolah mewakili perasaan dan pikiran Santi. Ia pun mahfum dengan isyarat sahabatnya itu.
”Kamu cantik, San,” kali ini Vera yang membuka mulut. Lantas tangan kirinya yang dari tadi menggantung, kini ikut bergabung dengan tiga tangan yang sudah berpegangan itu. Mata mereka kembali beradu. Kali ini tak tampak lagi kekikukan di mata Santi maupun Vera. Handoko yang berdiri di samping Santi hanya bisa diam memperhatikan dua wanita yang dikenalnya ini. Lidahnya kelu. Dia kikuk. Matanya berkaca-kaca. Namun sekilas senyum terbias di bibirnya.

”Selamat San…You are perfect couple,” kata Vera sambil meregangkan genggaman tangan Santi dan melirik Handoko. “Terima kasih Ver,” balas Santi. Merasa bendungan air matanya akan jebol, Vera beranjak. Ia melangkah mundur dan merasakan tangan Santi seakan tak rela dilepaskan. Keduanya masih sempat berpandangan sebelum Santi bergegas menuruni tangga tempat pelaminan digelar. Vera tak lagi menghiraukan tawaran fotografer untuk berfoto bersama pengantin. Ia langsung bergegas keluar. Sementara Martha dan Sarah masih sempat basa-basi dengan pengantin sebelum berpamitan.

”Kita langsung pulang yuk. Please….” rengek Vera pada Sarah di luar gedung. Martha pun tanggap dan mencegat taksi. Di atas pangkuan sahabat-sahabatnya, Vera menangis sesenggukan.
”Sudahlah Ver, engga usah sedih….,” bujuk Martha.
”Gue engga sedih kok, gue lega…,” jawab Vera sambil menyeka air mata.
Martha dan Sarah tersenyum. Keduanya lantas tertawa. Vera juga tertawa. Sopir taksi yang turut mendengar percakapan tiga wanita itu pun ikut tertawa dalam hati.

”Nah, gitu dong. Bikin orang bete aja. Untung elo kagak pingsan di sana kayak di sinetron-sinetron kacangan itu,”. Kali ini Sarah yang banyak bicara.
”Welcome back Vera,” sahut Martha. Vera mengangguk. Dia tersenyum. Dia ingat peristiwa yang baru saja dialaminya. Dia ingat betapa orang-orang memperhatikan tingkahnya saat itu. Dia ingat Mas Han. Dia ingat Santi. Dia tak akan pernah lupa gengaman tangan sahabatnya itu.

Rawabelong, 27 Januari 2007

powered by performancing firefox

Iklan

Komentar»

1. pipit - 29 Mei 2007

ihhh !!! gak seru lah masak punya kawan di ambil … ihhh munafikkkkkkkk jijaiiiiiiiiii !! benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

2. Mr B - 21 Juni 2008

Namanya juga blm jodoh.. Tuhan punya kehendak lain, mencarikan yg terbaik utk vera mungkin.. Who knows.. Coz selalu hanya waktu yang akan membuktikannya.. Keep smile..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: