jump to navigation

Menempuh Malam, Mencapai Fajar 4 Maret 2007

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback
Kamu tak akan bisa mencapai fajar tanpa menempuh malam…….

Kalimat di atas tiba-tiba saja menjadi sangat intim di kepala saya. Deretan kata itu seperti perangko yang melekat ke amplop karena sifat adhesive lem yang melapisi salah satu permukaannya.  

Seorang kawan yang dulu pernah satu kantor menyebut pepatah itu di awal emailnya. Sebetulnya ia hanya mengutip isi email saya namun menambahinya dengan pertanyaan lain yang tak lebih dari pada basa-basi agar pantas dan sedap dibaca. Saya juga asal comot dari sebuah buku kata-kata mutiara yang dibawa rekan kantor tempo hari.  

Tetapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya bahas di sini. Hari ini tiga kali saya mendapatkan kecelakaan kecil—untuk tak mengatakan cengeng—sejak siang hingga malam harinya. Pertama saya terjatuh dari motor ketika pulang dari Serpong karena menyerempet trotoar dan tak mempu mengendalikan lajunya, kedua ditabrak sepeda motor lain saat hendak belanja ke ITC Permata Hijau, dan terakhir, jempol kaki kiri saya terinjak besi standar sepeda motor—cukup membuatnya menjadi biru dan bengkak sesaat.

Saya berpikir, apakah ini bentuk lain dari ungkapan “menempuh malam” yang tengah saya alami sebelum “mencapai fajar” yang sesungguhnya? Sesederhana itukah? Dalam tataran mikro, saya bisa menjawab ya. Setidaknya “fajar” yang saya dapatkan adalah lebih berhati-hati berkendara. Saya juga diingatkan tentang bahayanya bertindak ceroboh, gegabah atau semacamnya yang selama ini melekat dalam benak dan alam berpikir saya. “Jalani dulu toh nanti ketahuan kekurangannya?” begitu kira-kira alam pikir si ceroboh memotivasi. 

Saat ini saya tengah menggagas rencana untuk terjun ke dunia wirausaha. Bahasa kerennya entrepreneurship. Saya bosan dan banyak kecewa menjadi karyawan dan ingin mengubah hidup lewat jalur bisnis. Untuk memulainya, tentu saya tak mau ceroboh. Saya tak ingin menempuh malam yang seram, berkabut, hujan, seram, ada angin topan atau lain-lain yang membuat saya lunglai dan sakit. Saya ingin malam-malam saya damai, tenang, aman, nyaman dan lancar saat berjalan menuju fajar.

Namun bukan berarti saya takut menempuhnya. Saya ingin memastikan risiko yang akan saya terima minimal karena saya sudah siap menanggungnya. Makannya, saya perlu mempersiapkan bekal untuk “menempuh malam” yang saya sendiri tak mengerti bagaimana keadaannya. Yang saya tahu, malam-malam itu bakal dingin, sepi, gelap, dan barangkali banyak setan dan hantu bergentayangan. Perjalanan malam itu juga akan menjadi siksaan karena kebanyakan orang memilih tidur daripada terjaga pada waktu itu. Tak aneh bila lebih sedikit orang yang bekerja malam daripada yang bekerja siang. Alias lebih banyak orang yang mencari aman di tempat yang terang-benderang (baca : siang hari) dengan menjadi karyawan yang penghasilannya pasti daripada bersusah-susah menjadi entrepreneur yang hasilnya pun belum bisa diperkirakan.  

Karena tak mau gegabah (bisa-bisa terperosok ke jurang atau tersesat di tengah gelap), saya pun mencari senter dan peta navigasi untuk panduan. Senternya tentu saya informasi sebanyak-banyaknya tentang dunia wirausaha. Peta navigasinya adalah ilmu dan sokongan teman-teman yang sudah atau sedang ada di sana. Saya tahu tak ada peta navigasi di dunia ini yang bisa dipakai semua orang. Karena jalannya yang luas dan banyaknya jebakan, tiap orang punya cara sendiri dalam menempuh malam. Bisa jadi dia akan lari kencang, jalan santai, merangkak terseok-seok atau barangkali mati di tengah jalan—masih mending daripada balik kucing karena ketakutan. Kita tahu yang terakhir ini banyak contohnya.

Ah…kok jadi ngelantur sih. Saya saja belum berada di garis start dan masih mencari senter dan peta yang sampai sekarang belum juga mengisi ransel perjalanan saya. Saya bingung, di mana ya yang jualan senter dan peta gratisan.

powered by performancing firefox

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: