jump to navigation

Televisi dan Ponsel 1 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback

”Kehidupan memang tak selamanya berpihak pada kebahagiaan. Susah dan senang datang silih berganti….,” begitu kata-kata bijak dari mulut presenter program infotainmen yang tampil seksi. Lawan bicaranya yang berada di samping menimpali dengan nada tak kalah bijak.

Sebetulnya saya jengah dengan tontonan model beginian. Para pembawa acara tampil seperti seorang hakim menilai kehidupan seseorang. Mereka mengungkap sisi baik dan buruk dari pribadi sang artis yang sedang dirundung masalah atau kebagiaan. Seolah-olah mereka adalah malaikat suci yang berdiri di luar kehidupan dan menjadi penjaga moral masyarakat. Padahal kegiatan mereka sebetulnya tak lebih dari rerasan, bergunjing, bergosip dan memberitakan hal-hal yang tak bermanfaat.

Tak cuma saya yang mengganggap program infotainmen tak lebih dari sampah. Rekan saya yang produser program tersebut di salah satu televisi pun setali tiga uang dengan saya. ”Gue kayak orang bener aja,” begitu keluhannya saat singgah di kontrakan rumah saya beberapa hari lalu. Dia ingin mendapat program yang lebih bernilai dan berbobot atau pindah ke stasiun lain. Hanya saja karena alasan belum mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik, membuatnya masih bertahan.

”Itulah bisnis. Ini justru yang disukai pemirsa. Mas bisa saja idealis, tapi televisi kan lembaga yang nyari untung, bukan lembaga dakwah yang berorientasi surga,” begitu kata seorang teman lain. Saya tak bisa mengelak atau membantah.
Toh meski saya tahu suguhan ini tak lebih dari sampah, saya tak tahu lagi harus bagaimana menyiasati suguhan dari kotak bernama televisi. Bangun tidur hingga beranjak tidur, selalu ada televisi yang menyala. Saya agak beruntung karena kini tak ada lagi pesawat tivi di kamar kontrakan saya karena sudah dijual untuk menebus hutang. Beruntung lagi, kini ada program talk show Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana yang lebih saya pilih daripada infotainmen. Kendati untuk menontonnya saya mampir ke rumah tetangga atau warung terdekat.

Tukul memang perkecualian. Saat program lain menawarkan informasi high profile, justru ia menghadirkan sosok low profile. Barangkali ini pula yang membuat rating programnya selalu tinggi. Tukul menawarkan bahasa awam yang dimengerti semua kalangan. Dia mewakili alam bawah sadar masyarakat yang ingin menertawakan kebodohan dirinya tanpa merasa malu atau sungkan. Jadinya, masyarakat pun selalu menunggu di depan televisi tiap malam. Tukul adalah representasi suara hati masyarakat yang bosan dengan kamuflase dan topeng sosial yang sudah sedemikian menggejala dalam budaya pop masyarakat kita. ”Bintang tamunya siapa? Lucu engga?,” begitu ungkapan sehari-hari yang saya temui dari orang-orang di sekitar saya.

Lepas dari infotainmen atau fenomena Tukul, sejak televisi swasta menyerbu masyarakat, sebenarnya telah terjadi perubahan sosial yang dahsyat. Televisi menjadi barang yang lebih akrab daripada apapun. Dia adalah pengajar, penghujat, penghiburan, pewarta, pendakwah tapi juga penganjur dosa. Masyarakat sebenarnya sudah sadar ada hal-hal buruk dari televisi, demikian juga hal positifnya. Tetapi membuangnya sama sekali atau memelototinya sepanjang hari bukan pilihan bijak.

”Televisi sudah menjadi agama baru bagi masyarakat,” ujar seorang pakar komunikasi dari Amerika Serikat. Saya tak ingat namanya. Ucapannya saya baca dari artikel di koran nasional beberapa tahun lalu.

Selain televisi, telepon selular adalah hal lain yang menjadi merevolusi masyarakat. Dia ibarat benda ajaib yang lebih berharga dari dompet atau yang lain. Sehari saja tak memencet-mencet keypad-nya, seperti ada ritual yang hilang. Tak peduli pulsanya masih tersisa atau malah kosong, memencet keypad adalah bentuk manifestasi dari ritual itu. Sehari tanpa ponsel, maka hidup menjadi hambar. Bangun pagi, berangkat kerja, istirahat, duduk, habis mandi, nongkrong di WC, merokok, baca koran, menonton televisi atau bercanda dengan kawan selalu ditemani ponsel.

”Gue kayak orang ilang kalo sehari aja ga megang handphone,” seorang rekan berujar. Duh…hebatnya ponsel. Barangkali daya magis ponsel setara dengan pistol atau senjata bagi seorang prajurit. Mereka akan jadi ciut nyali kalau jauh dari senjata. Mereka adalah pelarian dari ruang hati yang kosong. Kebutuhan akan rasa nyaman. Kebutuhan akan ketentraman.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: