jump to navigation

Kisah Wartawan Perempuan 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Film, Jurnalisme.
trackback

A career is a kind of work that you want more than anything. And you give up everything to get it and when you get it, you realize that it is not that great and you have no life.(Jennifer Lopez as Lauren in Bordertown)

Kisah tentang wartawan tak pernah habis menjadi inspirasi bagi sutradara dan penulis skenario film di Hollywood. Sebut saja All President’s Men, The Year of Living Dangerously, Live from Bagdad dan lain-lain (baca posting Belajar Jurnalisme dari Film). Interaksi profesi jurnalis dengan berbagai peristiwa dan kalangan masyarakat membuatnya selalu menarik untuk menjadi bahan cerita. Bisa dibilang setiap hari membuat cerita tentang kehidupan jurnalis pun tak akan pernah kehabisan ide.

Namun profesi yang tak mengenal waktu ini tak dipungkiri mengikis kehidupan pribadi pelakunya. Wartawan dengan jam terbang tinggi dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah sangat rentan kehilangan kehidupan pribadi.
“when you get it, you realize that it is not that great and you have no life,” demikian ucapan Jennifer Lopez yang berperan sebagai Lauren saat berbincang dengan narasumber yang ditolongnya.

Film juga dibintangi Antonio Banderas dan Martin Sheen ini tak melulu bercerita tentang sepenggal hidup Lauren, wartawati koran Chicago Sentinel yang tengah menginvestigasi pembunuhan pekerja perempuan di Juarez, kota perbatasan Meksiko-AS. Cerita sesungguhnya adalah lika-liku mengungkap tabir pembunuhan yang tak dibongkar oleh aparat hukum dan pemerintah setempat.

Lauren yang datang dari negara besar (AS) mengajak teman lamanya, seorang wartawan lokal di Juarez-diperankan sangat bagus oleh Antonio Banderas, untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan dan perkosaan yang sering terjadi. Korbannya adalah buruh-buruh pabrik yang bertebaran di kota tersebut. Ia pun harus terlibat menyelamatkan salah satu korban yang berhasil lolos dari pembunuhan dan kucing-kucingan dengan aparat dan pelaku.

Di sinilah tampak bagaimana Antonio Banderas bimbang dengan ajakan tersebut mengingat begitu besarnya taruhan yang harus dipilihnya. Dia tahu ada tangan tak terlihat yang terlibat pembunuhan-pembunuhan ini dan tak ingin masalah ini mencuat dan memberi nama buruk bagi ekonomi Mexico yang sudah bergabung dengan NAFTA. Mereka justru menciptkan kambing hitam seorang keturunan Arab, tanpa membuka akses informasi bagi wartawan.

Walau akhirnya membantu, toh tokoh Antonio Banderas dan Lauren pun harus menghadapi teror-teror dari berbagai pihak. Belum lagi aparat polisi yang menghalang-halangi peliputan dan menggeledah kantor redaksi (semoga tak terjadi di negeri ini).

Kegigihan Lauren nyatanya menemui tembok besar. Liputannya tak dimuat oleh redaksi dengan alasan sensitif karena bisa menyebabkan jatuhnya kepercayaan investor dan program NAFTA yang digagas AS, Kanada dan Mexico. Padahal Lauren sudah berjanji pada narasumbernya kalau tulisannya bakal membuat perubahan bagi situasi di Juarez dan membantu para korban dan keluarganya mendapatkan keadilan. Digambarkan pula solusi klasik dari perusahaan media terhadap masalah ini dengan memberi pos penugasan lain asal Lauren tak berkeras meneruskan liputannya.

Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata (based on true story) ini, layak untuk ditonton siapa saja, apalagi bagi para jurnalis. Relasi antara investor, birokrat dan penegak hukum dalam jaring-jaring tersembunyi sehingga mengorbankan keadilan masyarakat adalah realita nyata yang juga terjadi di Indonesia. Adalah kenyataan bahwa pabrik-pabrik besar di sekitar Jakarta mendapat perlindungan istimewa dari polisi/militer dan birokrat bila mengalami kasus hukum, sebaliknya aparat hukum dan birokrat mendapatkan uang setoran yang tak legal asal melacurkan pasal-pasal hukum demi kepentingan bisnis investor. Sebuah relasi tak kasat mata yang sudah berlangsung puluhan tahun bahkan sejak jaman VOC. Inilah relasi yang menyuburkan korupsi dan merugikan pencari keadilan dan rakyat kecil pada umumnya.

Toh di luar bingkai eratnya kekuatan kapitalisme dan birokrasi memanipulasi kekuasaan atas nama pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, ada pelajaran yang patut dibuka oleh sineas di Indonesia. Cerita tentang polisi, birokrat atau militer korup sangat jarang (barangkali tak pernah ada?) dalam film-film Indonesia. Untuk yang satu ini kita kalah dengan sineas dari India, Hongkong apalagi Hollywood.

Bagi rekan-rekan jurnalis atau yang berniat menerjuni dunia jurnalistik, risiko dan integritas adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Keduanya berbanding lurus walau tak setara satu sama lain. Lebih dari itu, menjadi jurnalis adalah menjadi pengawal hati nurani. Meski untuk mencapainya terkadang harus mengorbankan kehidupan pribadi.

Iklan

Komentar»

1. stania - 14 April 2007

Tanggal 19 April ini rencananya bakal tayang film terbaru Joko Anwar, “Kala”, yang bercerita ttg dunia jurnalis dan polisi.

Lengkapnya bisa dilihat disini:
http://deadtimethemovie.blogspot.com

Ayo nonton-nonton….
Hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: