jump to navigation

Menjadi Pemberi Energi 11 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Esai, Motivasi.
trackback

Apa yang Anda lakukan bila lelah, lesu, tak bergairah, malas dan lain-lain? Ada banyak pilihan tindakan yang bisa kita ambil yaitu rekreasi, refreshing, istirahat, dan mengonsumsi obat atau makanan pembangkit energi. Semua kegiatan tadi mengarah pada satu titik : mengembalikan energi.

Membicarakan energi tak melulu soal tenaga listrik dan BBM. Secara kasat mata dua hal tersebut memang yang bisa diukur dengan berbagai peralatan teknik buatan manusia. Untuk mendapatkannya orang harus mengeluarkan uang.

Dalam teori fisika kita mengenal Hukum Kekekalan Energi. Artinya jumlah energi selalu tetap. Energi, meskipun sudah terpakai, sebenarnya tidaklah hilang, tetapi berubah menjadi materi atau energi lain. Misalnya menjadi panas, menjadi getaran listrik, getaran magnet, atau radiasi.

Beberapa waktu lalu saya membaca kolom di majalah SWA yang menyinggung tentang novel berjudul The Celestine Prophecy karya James Redfield. Ada yang menarik diungkap kolom tersebut. Penulisnya, Arvan Pradiansyah—direktur pengelola ILM—mengatakan segala masalah kehidupan di dunia ini adalah soal persaingan, perebutan dan pembagian energi. Orang bekerja untuk mendapat energi, berperang untuk meraih energi, dan lain-lain.

”Bahkan bila kepemimpinan disimpulkan dalam satu kata, saya tak akan ragu-ragu mengatakan bahwa kepemimpinan adalah energi itu sendiri,” tulisnya.

Ia menyebut contoh bila sedang ditimpa masalah, seseorang akan mencari orang yang bisa membangkitkan semangatnya, memberikan optimisme, dan mengembalikan kemampuannya. Bila setelah berkonsultasi atau curhat dengan orang yang dimaksud semangat kembali penuh, vitalitas meningkat, orang tersebut bisa dipastikan adalah sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan. Dia bisa siapa saja : teman, orang tua, manajer, ulama, tokoh politik, pengusaha, seniman, wartawan atau siapa saja.

Tetapi bagaimana bila setelah bertemu ternyata kita makin lesu, tambah marah, pikiran makin kalut? Orang-orang ini jelas bukan pemimpin. Bila yang pertama mentransfer energi positif ke diri kita, yang kedua justru menyedot energi kita.
Orang-orang tipe pertama inilah yang dibutuhkan oleh lingkungan, masyarakat, dan bangsa kita. Inilah pemimpin-pemimpin yang mampu memberikan harapan dan semangat pada masyarakatnya, anggotanya dan rakyatnya. Pemimpin seperti ini memberi energi sehingga anak buah atau anggotanya bersedia dengan sadar mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bekerja dan melakukan sesuai dengan prestasi maksimal.

Sang pemimpin dengan energi positif seperti ini tidak menyebarkan ketakutan dan teror, tetapi membuat siapa saja ingin mendekat, mendapatkan kedamaian, mendapatkan pencerahan, alias mendapatkan energi. Dia mentransfer energinya lewat ucapan, gerak tubuh, pemikiran, dan tindakan. Pemimpin tipe inilah yang akan mampu mengajak anggota yang dipimpinnya menyeberangi lautan, menuruni lembah, mendaki gunung, menerobos karang, untuk mencapai tujuan. Bahkan ia bisa menggerakkan mereka menuju tempat di belakang bukit yang belum diketahui keadaannya. Tempat di belakang bukit ini ibarat tujuan yang belum dicapai, cita-cita yang ingin diwujudkan. Untuk menggapainya harus melewati tebing dan mencapai puncak bukit yang harus ditempuh dengan susah payah. Hanya pemimpin seperti inilah yang bisa menyakinkan anggotanya bahwa ada ladang emas di balik bukit, dan mengajak anggotanya menempuh tebing dan melewatinya.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: