jump to navigation

Menjadi Kaum Papa 13 September 2007

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
trackback

Lebih dari empat bulan saya absen ngeblog. Kangen juga rasanya. Kalau dulu untuk sekadar posting atau blogwalking cukup dilakukan di kantor dan yang pasti gratis, sekarang tidak lagi. Keputusan untuk memiliih menjalani hati nurani dan patuh pada keyakinan, membuat saya tak lagi menikmati saat-saat menyenangkan dengan segala kemudahan sebagai wartawan sebuah media besar. Hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Banyak yang berubah dari hidup saya yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Saat memilih untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) sebagai karyawan, saya sadar ada segudang konsekuensi yang harus ditanggungg. Tak lagi menerima gaji rutin, tak mendapat fasilitas-fasilitas, tak menikmati enaknya rutinitas yang sudah telanjur dianggap bagian dari hidup. Dan yang lebih penting, tak lagi ada pemikiran atau harapan yang bunyinya : “Besok-besok kan masih ada tunjangan yang belum turun, jadi gak papa kalau sekarang beli ini atau beli itu. Duit toh bisa datang lagi. Lha wong karyawan tetap….”

Kini setelah menyandang predikat pengangguran (soalnya masih takut menyandang predikat pengusaha), semuanya itu lenyap. Predikat wartawan yang konon disegani pejabat (dan bikin polisi tidak berani memberi tilang meski kita kedapatan melanggar lalu lintas) pun ikut saya lepas. Entah kebetulan atau tidak, semua ID card kewartawanan yang saya punya sejak pertama kali bekerja di media harian di Semarang hingga terakhir di Femina Group, hilang bersama tas kecil saat bertandang ke ibukota tempo hari.

Jadi kalau tidak bisa posting atau ngeblog secara rutin, ya mohon dimaafin aja. Boro-boro ngeblog, buat sekadar beli pulsa pun kadang ada kadang tidak ada. Penghasilan dari bisnis kecil-kecilan yang saya jalankan di Semarang masih tidak seberapa dibandingkan penghasilan saya waktu menjadi wartawan, editor bahkan pernah kepala biro. Tetapi hikmah yang saya petik rupanya berlipat-lipat. Saat kantong pas-pasan, toh Tuhan memberi jalan buat saya untuk bisa melunasi hutang-hutang saya yang dulu menumpuk gara-gara ditipu orang dan gagal dalam bisnis. Kalau dihitung-hitung, total duit saya yang menguap gara-gara ditipu atau gagal bisnis selama menjadi wartawan mencapai angka Rp 32 juta. Sungguh aneh dan tidak disangka, pertolongan Tuhan rupanya tidak seperti yang saya kira sebelumnya. Tanpa diduga, ada orang yang dengan ikhlas menawarkan bantuan, justru dari pihak-pihak yang selama ini tidak begitu saya perhatikan berpotensi “memberi bantuan”. Silakan diartikan sendiri kalimat tadi. Saya juga kadang heran tidak disangka-sangka, Tuhan memberi jalan di luar perkiraan.  Subhanallah. Justru saat tidak lagi menjadi karyawan inilah, hutang-hutang saya semuanya lunas.

Hikmah lain yang bisa dipetik adalah pelajaran hidup untuk lebih menghargai keringat, rezeki dan nilai dari ketekunan, dan kesabaran. Saya makin yakin dengan nilai keberkahan rezeki yang jumlahnya kecil namun halal dibandingkan rezeki dalam jumlah besar namun bercampur dengan sedikit keremangan dan kesamar-samaran. (bersambung)

Iklan

Komentar»

1. umardani - 26 November 2007

wuiiih naang
piyee kabareee
iseh eling karo nyong opo rak..?

umar

2. leli - 11 Desember 2007

Wiih.. Subhanalloh.. memang indah. DIA yang memberi Ujian, DIA juga yang tau batas kekuatan. akhirnya.. dia juga yang Maha Pemberi Solusi 🙂
salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: