jump to navigation

Parfum 22 September 2007

Posted by sri nanang setiyono in Cerpen, Sastra.
trackback

Bau wangi sudah lama tak akrab dengan Pak Kemis. Pria renta ini malah tak lagi menganggap wewangian sebagai sesuatu yang enak dinikmati. Buat apa wangi-wangi kalau tak bisa memberi apa-apa, begitu kepalanya selalu berguman setiap kali berpapasan dengan pria atau wanita yang memakai parfum wangi. ¨Nanti kalau jadi mayat juga busuk….,¨

Ini adalah tahun ke-36 Pak Kemis tak bertemu wewangian. Lebih tepatnya, memakai wewangian di tubuhnya. Toh bukan berarti ia tak pernah mandi. Minimal sekali sehari, ia selalu mandi untuk menyegarkan tubuh dengan sabun mandi. Sabun yang tentu saja wangi meski aromanya cepat pudar begitu peluh mengguyur tubuhnya lagi. Maklum bukan sabun terkenal yang iklannya kerap muncul di televisi, melainkan sabun batangan yang dibelinya di pasar dalam bentuk potongan-potongan kecil bekas irisan golok.


Bukan tanpa alasan Kemis cuek pada wewangian. Lebih dari seperempat abad ini, ia hidup dari memunguti sampah. Rejekinya dikais di antara timbunan sampah yang berjejer di depan rumah-rumah penduduk, atau di tempat sampah sekitar pasar, kampus atau terminal. Kadang-kadang ia pergi ke tanah lapang atau ke kawasan perkantoran bila ada peringatan hari raya atau resepsi di salah satu instansi. ¨Kertas-kertas yang dibuang di sana masih bagus. Harganya juga lumayan¨.

Sore itu, ada sebuah botol parfum yang dia dapati dari tong sampah di depan rumah megah di pinggiran kota. Kemis tertarik pada kemasannya yang bentuknya unik. Botol transparan berwarna ungu berlekuk-lekuk yang dicetak menyerupai kepala seorang perempuan cantik. Botol ini masih terdapat di dalam kotak kardus kecil pelindungannya. Di sisi-sisinya terdapat aksara-aksara latin dalam bahasa asing yang tak ia mengerti. Lama ia memandangi botol itu. Apalagi bentuk kepala itu mengingatkannya pada Sumi, almarhum istrinya. Ia lantas menyimpan botol di saku celananya dan kembali sibuk mengais tumpukan sampah.

Selepas maghrib, sambil duduk di bangku rumahnya, Kemis mengamati botol parfum berbentuk kepala perempuan itu. Cairan di dalamnya ternyata masih lumayan banyak. Lebih dari separuh. Kemis yakin, si empunya botol itu pasti bosan dengan parfum ini atau sudah membeli yang lebih baru. Yang dia tahu, sebotol parfum dengan bahasa asing itu tak bisa ditukar dengan beberapa lembar uang ribuan.

¨Kalau Sumi masih hidup, pasti dia suka botol ini,¨ hatinya berbisik sambil menimang-nimang si botol. Sesekali wajahnya tergurat senyum. Beberapa saat kemudian matanya berkaca-kaca. Namun tak berapa lama mukanya kembali cerah sambil menggangguk-angguk seperti sepakat dengan sesuatu.

Azan Isya membuat Kemis bangkit dan bergegas mengambil air wudu. Ia berjalan kaki ke mushola yang sama seperti yang dilakukannya berpuluh tahun lalu. Usai solat, warung Mbak Jaroh adalah tujuan berikutnya : mengisi perut, pulang dan tidur. Tapi malam ini, Kemis merasa matanya susah ditutup. Ia teringat kembali pada botol parfum itu. Sambil rebahan di kasur tanpa sprei, ia pandangi benda bulat yang wangi itu. Lagi-lagi wajah Sumi terbayang.

—–*****——-

Tiga puluh enam tahun lalu, Kemis bertemu Sumi. Saat itu ia masih muda dan gagah. Gadis ini ditemui pada hari pertama ia mulai terlibat dengan sampah. Sumilah, nama lengkapnya. Mereka bertemu di warung nasi dekat pasar. Sumi adalah pelayan warung nasi, sedangkan Kemis petugas kebersihan sampah di pasar ini. Sejak itu, Kemis jatuh cinta pada Sumi, dan selalu mampir bila perutnya makan selepas memungut sampah. Mereka lantas menikah dan tinggal mengontrak kamar tak jauh dari warung nasi tempat Sumi bekerja.

Masih menggengam botol itu, Kemis terbayang masa lalu. Ia mengalami banyak kejadian menyenangkan maupun menyakitkan sebagai pemulung. Pernah tiba-tiba ada polisi datang ke rumahnya dan menangkap Kemis. Ia dituduh mencuri sepatu dari rumah seorang pejabat kota. Gara-garanya, istri si pejabat kehilangan sepatu mahal yang dibelinya dari luar negeri. Konon sepatu itu dipasangi berlian dan harganya cukup untuk membeli sebuah mobil. Karena Kemis sering melintas di depan rumah si pejabat dan mengais sampah dari depan rumah itu, ia pun kecipratan getah. Hampir satu minggu Kemis di-bon tanpa pemeriksaan yang jelas. Tapi karena tak ada bukti cukup, ia pun dilepas meski dengan tubuh lebam-lebam bekas ¨pijatan¨ interogasi. Saat itu, Kemis sudah dipecat sebagai pegawai pasar karena ada pengurangan karyawan. Belakangan ia mendengar, satpam si pejabatlah yang akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara. Meski geram, Kemis merasa bahagia karena selama dalam tahanan selalu dijenguk Sumi.

Tak lama setelah kejadian itu, lagi-lagi ia berurusan dengan polisi. Kali ini bukan sebagai tersangka. Kemis jadi saksi karena menemukan seonggok orok bayi yang masih hidup di timbunan sampah. Ia pun kehilangan satu hari waktunya mencari nafkah karena dimintai keterangan polisi. Kejadian ini bukanlah yang terakhir, beberapa tahun lalu saat Sumi sakit-sakitan, ia kembali menemukan mayat orok bayi. Baunya sudah menyengat. Orok ini ditemui di tempat sampah tak jauh dari kampus perguruan tinggi terkenal di kota ini. Orok yang dibungkus kertas koran ini bentuknya sudah membusuk. Ada bercak-bercak darah di sekitarnya. Tampaknya ia baru saja dilahirkan lantas dibunuh oleh orang tuanya, tampak dari ari-ari yang masih melekat.

Mengingat masa lalu selalu membawa rasa getir bagi Kemis. Selama bergaul dengan sampah, ia kerap mengelus dada mengetahui perilaku para mantan pemilik sampah. Berkali-kali Kemis mendapati sisa kondom dan pil anti hamil bila mengais sampah di sekitar kos-kosan mahasiswa, selain pembalut wanita, kertas-kertas fotokopi atau pembungkus makanan. Ada pula bekas bong, sisa daun ganja atau sampul VCD porno di sana. Kemis paham fungsi benda-benda itu setelah diberitahu rekannya sesama pemulung. Tetapi bukan itu sebenarnya yang paling membuatnya sedih. Tiga puluh tahun menikahi Sumi, seorang buah hati pun tak pernah lahir ke dunia. Hingga maut menjemput Sumi empat tahun lalu, mereka hanya hidup berdua. Namun Kemis tak pernah menuntut atau menyalahkan Sumi, begitupun sebaliknya. Lewat bahasa mata dan hati, mereka seperti sepakat ada hal-hal yang kurang pada diri mereka. Kesetiaan Sumi pula yang membuat Kemis tak sampai hati untuk menikah lagi bahkan tatkala istrinya itu sudah mangkat.

Senyum Sumi yang mengembang adalah obat hati bagi Kemis. Suatu hari, Kemis menemukan dompet kulit berwarna coklat keemasan di tumpukan sampah di seberang jembatan besi, tak jauh dari halte bis dalam kota. Memang tak ada uang di dalamnya. Hanya ada beberapa kartu nama, KTP, dan sebuah anak kunci model lama yang sudah berkarat. Tadinya Kemis bermaksud membawa dompet itu untuk hadiah Sumi. Tapi setelah melihat KTP itu masih berlaku, sang istri menyarankan untuk mengembalikan dompet ke si empunya. Dompet berikut isinya itu pun dikembalikan. Namun mereka tak bisa bertemu pemiliknya dan hanya dititipkan ke satpam. Dari satpam ini pula, Kemis mendengar tentang nasib si tuan rumah yang beberapa hari lalu terkena gendam saat berbelanja di mal. Semua perhiasan dan uangnya raib dibawa kabur pelaku gendam, termasuk dompet yang belakangan ditemui Kemis itu.

Dua hari kemudian, satpam itu datang ke rumah Kemis dan memintanya datang. Katanya tuannya ingin berterima kasih. Kali ini Kemis menolak. ¨Tak usah pak. Saya tak mau dianggap ada apa-apanya,¨. Satpam itu mahfum dan beberapa jam kemudian datang lagi. Kali ini bersama wanita setengah baya yang diantar mobil mewah mengkilat.

¨Kalau bukan Pak Kemis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Kunci di dompet itu adalah satu-satunya kunci untuk membuka kotak penyimpanan perhiasan, uang dan surat-surat berharga. Saya sudah cemas karena takut terlambat membayar gaji karyawan hanya gara-gara tak bisa membuka kotak itu. Sebenarnya suami saya juga punya kuncinya, tapi dia lagi di luar negeri. Saya mohon Pak Kemis tak keberatan menerima sedikit ucapan terima kasih ini dari saya,¨ ucap Ibu Rahmadi yang ternyata pemilik toko kue terkenal di kota ini.

Sebenarnya Kemis menolak menerima amplop coklat yang lumayan tebal itu. Dia berkali-kali beralasan tindakannya tanpa pamrih. Ikhlas. Tetapi tatapan Ibu Rahmadi yang ramah dan sikapnya yang hormat, membuat Kemis tak bisa lagi menolak. Uang itu akhirnya ia belikan almari dan meja rias sebagai hadiah untuk Sumi yang kini masih tersimpan di rumahnya. Sisanya disedekahkan ke mushola dan sebagian ditabung.

—–*****——

¨Kang, sudah makan belum? Jangan memaksa untuk cari duit. Badan kan udah tua, kurang apa lagi sih kita. Mending waktunya kita pakai untuk beribadah,¨ kata Sumi. Wajahnya berseri-seri. Kulitnya bersinar terang. Tidak seperti biasanya, Sumi mengenakan pakaian yang bagus, bersih dan tampak anggun seperti bidadari. Parasnya tampak cantik dan lebih muda. Kemis sendiri heran, istrinya itu memakai pakaian yang ia sendiri tak mampu membelikannya. Yang lebih membuatnya heran, Sumi sangat wangi. Mereka seperti bercakap-cakap di kebun bunga yang segar dengan aroma yang membuat siapa saja senang berlama-lama di sana. Melihat istrinya seperti itu, Kemis merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia menunduk tersipu. Saat melirik istrinya itu lagi, Kemis kaget. Sumi tak lagi di hadapannya.

¨Oh…sudah subuh,¨. Kemis tersadar kalau yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. Ia pun bangkit dan merasakan tangan kanannya memegang benda keras. Botol parfum. Oh..rupanya selama tidur, botol itu tak lepas dari genggamannya.

Pagi ini, Kemis merasa bersemangat. Wajahnya sumringah. Setiap kali bertemu tetangga atau orang yang dikenalnya selalu menyapa atau mengucap salam. Para tetangga tak heran dengan sikap Kemis ini, karena mereka mengenal Kemis sebagai tetangga yang ramah. Namun penampilan Kemis kali ini benar-benar membuat tetangga-tetangganya heran. Bahkan orang-orang yang melihatnya pun heran. Kemis berbeda dari hari-hari biasanya. Penampilannya lebih rapi. Ia tak memakai pakaian kotor atau compang-camping meski sedang mengais sampah. Tetapi yang paling beda adalah bau tubuhnya. Tubuhnya menebar bau harum yang segar. Wangi. Ya…Kemis memakai parfum yang ditemukannya kemarin.

Sudah seminggu ini Kemis jadi pusat perhatian. Para tetangga pun jadi sering memuji sekaligus bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dengan Kemis. Seperti tak terganggu, Kemis tetap saja bersikap ramah.

¨Wah kemajuan nih, sudah tampil beda,¨ puji Yatmo.

¨Gitu dong Kang. Kan dapat pahala bikin orang lain senang. Mbok saya dibagi itu minyak wanginya,” kata mbok Darti.

¨Jangan-jangan Pak Kemis jatuh cinta lagi ya,” ledek Pak RT.

Semuanya diladeni oleh Kemis dengan sabar.

¨Saya cuma nemu parfum bekas. Daripada dibuang kan lebih baik dipakai sendiri,¨ ungkapnya sopan.

¨Kalau semua pemulung wangi kayak Pak Kemis, bisa-bisa orang-orang kantoran bakal susah dibedakan dari pemulung..hahahaha…,” gurau Parno, rekan seperjuangan Kemis sesama pemulung.

Lagi-lagi Kemis jadi bahan omongan. Tapi kini gara-gara bau tubuhnya yang wangi itu tak lagi dihirup para tetangga. Mereka heran karena sudah dua hari ini Kemis tak kelihatan. Jamaah mushola pun tak melihat sosok Kemis yang biasa ditemui saat Subuh dan Isya. Rumahnya juga gelap. Warga mengira Kemis pergi pulang kampung. Biasanya satu minggu ia di sana. Tetapi Parno, temannya sesama pemulung, malah menghadap Pak RT mencari tahu keberadaan lelaki tua ini.

¨Saya dari kampung pak. Kalau Pak Kemis pulang, pasti saya ketemu,¨ ucapnya kepada Pak RT.

Segera saja warga menggelar rapat dipimpin RT. Mereka sepakat mencari tahu keberadaan Kemis. Sebagian berinisiatif mendobrak rumah Kemis. Sisanya melapor ke polisi. Hari itu juga, dengan diawasi polisi, warga mendatangi ke rumah Kemis yang terletak di ujung gang. Mereka yakin pria ini ada di dalam sana. Bau wangi yang menyerbak menambah keyakinan itu. Berkali-kali dipanggil, tak ada balasan. Akhirnya pintu rumah sederhana itu didobrak. Hanya saja, Kemis tak ada. Rumahnya kosong. Mereka hanya menemukan tumpukan kardus bekas, kertas bekas, botol-botol air mineral dan aneka macam logam dan barang bekas. Botol parfum itu pun mereka dapati di atas meja rias. Isinya masih seperempat.

¨Aneh, rumahnya bersih dan rapi sekali. Biasanya Pak Kemis tak serapi ini menata barang-barangnya. Tapi kemana dia ya,¨ guman pak RT.

Pencarian diteruskan. Sebagian warga menghubungi rekan-rekan Kemis. Pak RT bahkan mengadakan doa bersama demi keselamatan Kemis. Tapi hasilnya tetap nihil. Seminggu sejak ia menghilang, tetap tak ada kabar berita tentang dirinya. Ia seperti menguap menjadi asap dan menghilang ditiup angin.

Jam 5 sore, ponsel pak RT berbunyi. ¨Pak RT, saya Brigadir Mualim dari Polsek. Kami menemukan jenazah yang mirip ciri-ciri Pak Kemis. Bapak diminta hadir ke kamar mayat untuk melakukan identifikasi segera¨. Pembicaraan ditutup. Berita penemuan ini segera menyebar. Beberapa warga dengan kendaraan seadanya bergegas ke kamar mayat. Beberapa polisi sudah ada di sana. Warga diajak masuk ke ruang pemulasaraan jenazah dan dihadapkan pada lemari-lemari mayat yang berjejer pada salah satu sisi dinding.

¨Nomor 9,¨kata seorang petugas rumah sakit didampingi polisi. Pintu lemari bernomor 9 itu dibuka, dan handle laci di baliknya ditarik keluar.

¨Ïnalillahi waina ilaihi rojiun,¨ kata pak RT. ¨Ini memang Pak Kemis, warga saya,¨ lanjutnya. Tubuh itu membujur masih mengenakan celana pendek setinggi lutut dan kaos warna merah. Ada kertas label diikatkan ke jempol kaki kanannya dengan tulisan ¨tak dikenal¨.

¨Seorang warga melihat dia tertimbun tumpukan sampah di TPS seminggu lalu, tapi baru berani melapor kemarin. Yang mengherankan badannya tidak membusuk meskipun sudah meninggal satu minggu. Malah baunya harum dan wajahnya seperti orang tersenyum, ¨ terang Brigadir Mualim yang tiba-tiba muncul di ruang itu.

Semua yang hadir di ruang itu mendadak pucat. Ada hawa kengerian yang tiba-tiba menyelinap. Tapi tak sedikit yang justru lega……

Semarang, 21 September 2007

Iklan

Komentar»

1. Ramaon - 6 Oktober 2007

harum tidak seseorang dilihat dari baik tidak perbuatan orang tersebut selama hidup di dunia.
Gitu yah kira2 ?

2. anna - 27 Oktober 2007

wah, bagus bgt ceritanya. mulanya saya agak kurang tertarik, namun saya teruskan saja membaca. semakin dibaca, semakin menarik saya seperti magnet..

hmm… yah, bener. seseorang yang tidak harum bau tubuhnya, akan menjadi harum dengan sendirinya dimata orang lain maupun Tuhan, karena perbuatan baiknya selama didunia.. perbuatan yang ikhlas dari dalam hatinya…

sedangkan orang yang harumnya semerbak kemana2, namun sifat / perbuatannya yang tidak baik, dengan sendirinya akan menjadi busuk.. karena jiwa yang ada padanya, menebarkan kebusukan…

3. Ikhwan - 9 April 2008

Weee.. lah Her.. Kowe nduwe sihir ya….. Hehe…
Piye kabare, mulih kapan???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: