jump to navigation

Ada Apa dengan MetroTV 22 Februari 2008

Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Lingkungan hidup.
trackback

Bila anda cermati pemberitaan sejumlah media akhir-akhir ini, Anda bakal tercengang karenanya. Setelah perihal kematian mantan Presiden Soeharto yang pemberitaannya tidak proporsional–hanya mengangkat sisi positif sang jendral besar dan mengaburkan kasus-kasus pelanggaran HAM dan dugaan korupsi–ada media yang jelas-jelas mencoba mengaburkan kasus semburan lumpur di Sidoarjo Jawa Timur. Kasus lumpur Lapindo yang beberapa hari lalu dibawa ke Rapat Paripurna DPR, Selasa (18/2), rupanya sudah dicoba dikaburkan oleh MetroTV dengan mengubah istilah Lumpur Lapindo dengan istilah Lumpur Porong. Lucunya hal ini tidak dilakukan sejak semburan lumpur terjadi dan kasusnya menjadi perhatian masyarakat.

Sebagai media yang mengklaim dirinya unggul dalam penyajian liputan berita, agak aneh bila MetroTV bermain mata dengan mencoba membelokkan opini publik. Televisi yang selalu mengumumkan dalam running text bahwa wartawannya tidak menerima pemberian dalam bentuk barang atau uang dalam menjalankan tugas jurnalistik, jelas-jelas tengah bermain mata dengan pihak lain. Tujuannya menggiring opini publik agar memisahkan masalah semburan lumpur dari nama Lapindo, perusahaan perminyakan yang semula dimiliki grup Bakrie yang melakukan pengeboran hingga menyebabkan terjadinya semburan lumpur pada Mei 2006.

Perubahan penyebutan–dari lumpur Lapindo menjadi Lumpur Porong–tampaknya sengaja dibuat menjelang rapat Paripurna DPR yang memutuskan untuk menindaklanjuti masalah itu dengan mengajukan interpelasi ke Pemerintah. Sebelumnya TP2LS mengeluarkan rekomendasi bahwa penyebab luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas Inc akibat bencana alam dan bukan karena kecerobohan manusia.

Bila rekomendasi ini yang jadi rujukan pemerintah, maka biaya ganti rugi dan tanggung jawab penanganan para korban akan dialihkan kepada negara. Dengan kata lain, pihak Lapindo yang diwakili manajemen PT Minarak Lapindo Jaya (sengaja dibentuk untuk membayar kompensasi korban lumpur), bakal lepas tangan terbebas dari kewajiban hukum. Efeknya pun luar biasa. dana pertanggungan itu bakal dibebankan kepada pemerintah yang tentu saja memakai uang APBN yang notabene adalah uang rakyat. Bayangkan, kesalahan dari segelintir pengusaha kok ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia lewat APBN?

Dalam buku Konspirasi Di Balik Lumpur LAPINDO : Dari Aktor Hingga Strategi Kotor (Galang Press, Jogjakarta)  karangan Ali Azhar Akbar sebenarnya  sudah diungkap adanya upaya-upaya terselubung untuk  membungkam opini publik melalui strategi kehumasan. Selain dengan memasang iklan, juga dengan menggunakan istilah Lumpur Porong hingga Lumpur Sidoarjo (yang terakhir ini dipakai oleh TP2LS).

Tapi rupanya MetroTV tidak sendirian. Sebuah grup perusahaan media besar juga bermain mata dengan menutup-nutupi kasus ini. Laporan majalah National Geographic edisi Januari 2008 berjudul The Unstoppable Mud konon (saya belum mengeceknya) tidak diturunkan dalam edisi bahasa Indonesia dari majalah yang sama. Sengaja atau lalai?

Iklan

Komentar»

1. daustralala - 25 Februari 2008

Untuk yang Natgeo, sengaja mas. karena memang ingin disatukan dengan Edisi Khusus Indonesia, Maret 2008.

2. nanang - 27 Februari 2008

baguslah kalo gitu. Saya tunggu…

3. Nada taufik - 6 Maret 2008

Salam kenal ya..
Baru singgah pertama kali kesini nih..

4. kalangkabut - 25 Maret 2008

singgah ah… salam kenal….

kalo pingin ketawa dg banyumasan mampir ke http://mendoan.dagdigdug.com

5. Joy Andrean - 28 Maret 2008

Ah pusing mikirin politik..

6. andri - 12 April 2008

sama aja kebobrokan pemerintah rakyat yang menanggung. mending tidak ada peminpin kali ya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: