jump to navigation

Mecah Telor Buku Pertama 26 Maret 2008

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
trackback

Memiliki buku pertama ternyata sangat membahagiakan. Setelah enam tahun lebih berkutat di dunia jurnalistik, akhirnya niat untuk menulis buku kesampaian juga. Buku, kata CEO Kompas Gramedia, buku ibarat mahkota bagi wartawan. Ucapan itu memang tidak keliru. Memiliki buku dengan nama terpampang di dalamnya–meski masih dengan embel-embel editor–tetaplah suatu kebanggaan.

Setelah dua bulan lebih berkutat dengan buku referensi, laptop dan wawancara, buku pertama saya berjudul KH. Mahrus Amin : Dakwah Melalui Pondok Pesantren, Pengalaman Merintis dan Memimpin Darunnajah Jakarta terbit di bawah bendera penerbit Grup Dana. Memang buku ini belumlah final dan belum dijual di toko buku karena masih dipakai untuk keperluan internal Pondok Pesantren Darunnajah. Toh berkah dari penulisan ini sudah terasa. Setidaknya kini dua buku lagi menunggu untuk diselesaikan. Keduanya masih seputar Pondok Pesantren Darunnajah. Belum lagi sebuah buku tentang kesehatan, sudah siap untuk ditulis (maksudnya tinggal diketik karena materi dan bahan-bahannya sudah terkumpul semua).

Memang ada kebiasaan yang berbeda ketika menjadi wartawan aktif dan menjadi penulis buku. Menulis buku membutuhkan stamina yang lebih tinggi daripada melakukan reportase langsung. Butuh betah berlama-lama di depan komputer, membaca buku dan duduk berjam-jam mengetik tulisan. Hal-hal itu tidak terjadi ketika menjadi wartawan. Sebagain waktu justru habis untuk memburu narasumber. Dengan pola dan model penulisan yang sudah hapal di luar kepala, menulis berita cukup dilakukan dalam waktu 30 menit per berita. Kesuntukan mengejar berita segera hilang dengan menghirup udara bebas saat berkendara menuju TKP atau tempat pertemuan dengan narasumber.

Sebagai penulis, saya kini mengerti musuh paling besar yang menghalangi ide untuk disalurkan dalam bentuk rangkaian huruf di layar komputer. Musuh itu bukan amplop, bukan deadline, bukan pula redaktur yang menuntut berita terbaik. Musuh itu adalah rasa bosan.

Powered by ScribeFire.

Iklan

Komentar»

1. anneu - 26 Februari 2009

Ass..
Mas nanang pa kabar, dah Nikah šŸ™‚
masih inget aku gak..
Skr aku balik ke kodrat buat jadi guru hehe..dah 8 bulan ini aku ngajar di salah satu boarding school di Bandung..fullday dari jam 7 pe jam 4 sore..ngajarnya sih dikit, banyaknya mentoring ke anak2..alhamdulillah dsini aku nemuin hidup yang seimbang..
aku mo minta tips donk..sekolahku dapet tawaran bikin beberapa buku pelajaran dari diknas, dan aku kbagian ngegarap buku IPS buat MTs..aku jadi deg2an..ini buku pertamaku..pada dasarnnya aku orang yang cerewet n suka nulis tapi gak pernah aku publikasiin..suka gak PD hehe..Skarang pun aku jadi ngerasa was2..kasi tips donk..makasi..
Ass…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: