jump to navigation

Sajak Nestapa 25 April 2011

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
Tags:
trackback

“Sudah 10 tahun pak,” ucap Atmo.
Aku masih termenung menatap gundukan tanah itu
“Dulu rumah Bapak ada di sana,” lanjutnya.

Hari ini aku kembali
Ke masa ketika tak ada resah atau gulana
Tatkala kita sama-sama tertawa
Memotong rumput untuk sapi dan ternak kambing kita
Ah…sepuluh tahun rupanya bukan waktu yang lama
Untuk menghilangkan memori atau mengecilkannya
Kinipun hijaunya ilalang pun masih sama
Bau segar tanah merah itu pun tak berbeda
Tak berubah
Hanya jasad kita yang menua

Sepuluh tahun bu, sepuluh tahun pak
Aku  masih mengingat getir-getir itu
Kala bumi marah dan menggoyang rumah kita
Meninggalkan air mata dan nestapa
Yang bahkan kita tak bisa melupakannya
saat-saat kita lupa bersyukur
pada nikmat-Nya

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: