jump to navigation

Sajak Nestapa 25 April 2011

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
Tags:
add a comment

“Sudah 10 tahun pak,” ucap Atmo.
Aku masih termenung menatap gundukan tanah itu
“Dulu rumah Bapak ada di sana,” lanjutnya.

Hari ini aku kembali
Ke masa ketika tak ada resah atau gulana
Tatkala kita sama-sama tertawa
Memotong rumput untuk sapi dan ternak kambing kita
Ah…sepuluh tahun rupanya bukan waktu yang lama
Untuk menghilangkan memori atau mengecilkannya
Kinipun hijaunya ilalang pun masih sama
Bau segar tanah merah itu pun tak berbeda
Tak berubah
Hanya jasad kita yang menua

Sepuluh tahun bu, sepuluh tahun pak
Aku  masih mengingat getir-getir itu
Kala bumi marah dan menggoyang rumah kita
Meninggalkan air mata dan nestapa
Yang bahkan kita tak bisa melupakannya
saat-saat kita lupa bersyukur
pada nikmat-Nya

Iklan

Sungai 21 April 2011

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
add a comment

Aku berdiri di sisimu
Menikmati arus dan riak di badan tubuhmu
Sesekali warnamu berubah
dari bening menjadi keruh
dari hening kepada gemuruh

Hari-hari ini aku tak lagi tenang
Tak kulihat lagi jiwa yang senang
Lumpur dan batu menjejali bening
Aku bahkan tak mengenal hening

Seperti Chairil Anwar 6 Mei 2010

Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.
Tags:
add a comment
DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Apa yang anda rasakan bila membaca sajak di atas. Itulah salah satu karya penyair Chairil Anwar yang paling sering dibacakan dalam pertunjukkan, selain puisi Aku dan Diponegoro. Lewat bahasa sederhana dan mudah dimengerti, Chairil Anwar menggambarkan situasi kejiwaan yang tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan dan kuasa Tuhan dalam hidup-Nya. Chairil Anwar ketika menciptakan sajak ini rupanya menyadari kekeliruannya karena “mengembara ke negeri asing” yang bisa ditafsirkan sebagai tempat yang asing baginya atau ideologi dan pemikiran yang jauh dari Tuhan. Alam pemikiran Chairil Anwar pada 1947, ketika puisi ini ditulis, tampaknya diwarnai bertaburnya aneka ideologi yang masing-masing mencoba menonjolkan diri dan mencari pengikut menghadapi satu musuh bersama : Belanda. Keberadaan mereka tercermin dari beragamnya corak ideologi laskar-laskar perlawanan, partai-partai politik, kaum intelektual, bahkan seniman dan budayawan.

Chairil Anwar rupanya merasa lelah dan akhirnya menyerah dalam pergulatan  tersebut (aku hilang bentuk // remuk). Ia memilih datang ke rumah Tuhan yang dengan apik disebutnya dengan kalimat di pintuMu aku mengetuk. Dengan satu kalimat penghujung aku tidak bisa berpaling, Chairil menegaskan keberpihakannya pada jalan yang ia pilih. Jalan Tuhan.

Puisi Tanah Ini 3 Oktober 2007

Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.
9 comments

Sayang…
di atas bumi yang terbelah ini
tempat kaki-kaki kita berdiri
di antara reruntuhan yang bertebaran itu
aku mulai bimbang dengan keyakinan hati

ketika tegak adalah keniscayaan
saat harapan tak layak digantungkan
pada gunung-gunung dan bukit-bukit yang berguncang
kemana lagi harus kucari
titik tinggi untuk menancapkan panji-panji?
apakah bulan yang terang benderang
atau gemintang yang tak layak diimpikan?

Sayang….
saat matahari terbit nanti
aku ingin kau saksikan
aku masih kuat berdiri
meski mendung itu tak juga pergi
dan reruntuhan ini belum pula merata bumi

Aku ingin kau ingat
saat kau pulang nanti
ada kabar yang dibawa angin
ada sejuk yang dipangku hujan
hangat yang ditawarkan mentari
dan ada kenangan yang kita sisihkan
dari indahnya hari-hari
di tanah ini

Sajak Lampu 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
3 comments

Mestinya kita malu
pada lampu-lampu
yang lebih jujur
dan berterus terang
akan kegelapan
yang kita takutkan

pada lampu
kita belajar
tentang kesungguhan
tentang semangat
dan nasihat
bahwa selalu ada terang
bila kita
mau
terus berjuang

Semarang, 090407

Lima Tahun (2) 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.
add a comment

Lima tahun lalu, Dik
merah merona wajah putihmu
menyambut uluran tanganku
bibir mungilmu mengulas senyum
membiaskan pipimu yang ranum
aku ingat, Dik
ada cahaya di bola mata itu
yang jadi penanda
cerita-cerita kita
setelahnya

Malam ini
aku menggambar bayangmu
di langit-langit rumah kontrakanku
setelah tadi pagi
tak sengaja kita bertemu
……………………
masih ada bias rona merah di pipimu
meski cahaya di bola mata itu
kini bukan lagi tanda
untuk diriku

Lima Tahun (1) 10 April 2007

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
add a comment

Lima tahun lalu, Dik
pertama kali kutemui sorot mata itu
pada dinding beku kelabu
dengan pasak paku yang berkarat
memahat senyum kecutmu yang berat

Lima tahun itu, Dik
Membuat kita lupa segala cerita
kecuali bencana-bencana
tentang hilangnya rasa percaya
atau tipisnya iba
dari orang-orang yang mengaku tahu segala
yang selalu tersenyum saat saudara-saudara kita
tak kuasa menyambung asa
apalagi bercita-cita

Tanah yang kita pijak ini, Dik
sudah penuh dengan cerita
tentang ketegaran hati dan kekuatan jiwa
juga perih pedihnya mala petaka
toh sampai kering air mata
tak juga membuat Prabu Dasamuka
menjadi lemah lembut
atau berubah wujud
menjadi Sri Kresna

Lima tahun lalu, Dik
bukan mula dari semua
bukan awal dari derita
Ia hanya kembali mengingatkan kita
semuanya masih sama saja

Pasir dan Awan 5 Agustus 2006

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
add a comment

Pada awan aku gantungkan angan-angan
walau kutahu sebenarnya dia hampa
tak punya cantolan, tak punya pegangan

pada pasir kupijakkan langkah
sayang dia tak kukuh
akupun luruh

ketika ku sadari puncak itu tak pernah ada
seluruh tenaga menjadi pencapaian sia-sia
—-+++—

kabut itu lenyap
sisa embunnya terasa senyap
Ada berkas membias gelap
Hitam, coklat….dan pengap

Kini aku tahu nasihat dari sahabat
Jangan sesali pertemuan yang sekelebat
Tapi syukuri kesan yang dia perbuat

sementara angin terus bertiup
saatnya akal menyalakan pelita
pendarnya harus memberi warna
agar tak ada jelaga hitam di pelupuk mata

sayup-sayup angin berguman kepada pasir
“kau boleh beterbangan sesukamu dengan tenagaku
tapi jangan karena fatamorgana kau terlena”

(tersadar)….oh…itu sindiran buatku…

akhir pekan di Serang

Benarkah kau ingin tahu kekasihku, kawan? Sungguh… 21 Agustus 2004

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
add a comment

Benarkah kau ingin tahu kekasihku, kawan?

Sungguh, ungkapanmu itu mengurai otak dan sanubariku

Bolehkah sejenak aku bertanya

Seberapa berminatnya engkau pada pertanyaan itu

Sekadar basa-basi pengisi obrolan

atau kesungguhan yang terpendam

Jangan kaget kalau aku kembali tanyakan, kawan

Karena sesungguhnya tak pantas aku katakan,

bahwa diriku sudah punya kekasih

seperti angan dan ide-ide yang pernah kau lontarkan

tentang tambatan hati dan teman sejati

yang kau tulis dalam langit-langit renungan

Tidak, tidak begitu, kawan

Dia tak memiliki semua yang kau idealkan

Tak ada kecantikan fisik atau keanggunan seorang putri

atau kelembutan dewi Kunti

yang melahirkan Pandawa dan menjadi inspirasi bagi

rakyatnya

Pun tak juga seperti RA Kartini yang selalu diingat kaumnya,

Puluhan tahun setelah ia tiada

Tidak, tidak begitu, kawan

Aku cuma yakin pada sorot matanya

Yang tak pernah berhenti berdoa :

Semoga kekasihku bukan durjana…..

Untuk Sang Batu 14 Juni 2004

Posted by sri nanang setiyono in Puisi.
add a comment

Untuk Sang Batu

Bertahun aku mengenalmu

tapi cuma sekelumit yang kutahu

hitam, putih, merah, hijau atau biru

sebatas itulah warna raut mukamu

Aku tahu sedikit

Justru itu yang membuatku sakit

Karena duri yang sekelumit

dan kepengkuhanmu yang rumit

Aku tak pernah lupa

pada serpihan, pecahan, kepingan

atau apalah namanya

dari bentuk yang nyata

dan memori yang tak pernah sirna

Apapun itu

aku masih butuh kehadiranmu

walau sekadar jadi masa lalu