jump to navigation

Lazy day 19 April 2011

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
add a comment

Iklan

Pecel Lele 18 Maret 2011

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
add a comment

Wall photo of me 6 Maret 2011

Posted by sri nanang setiyono in Esai Foto.
add a comment

Wall photo of me

This is the only wall photo I have in my room

Woman and her cellphone 6 Maret 2011

Posted by sri nanang setiyono in English.
add a comment

Woman and her cellphone

Powered by ShowMeBlogger.com

Siapa yang tidak memiliki ponsel saat ini? Data pengguna ponsel di Indonesia saat ini sudah mencapai angka 150 juta orang. Artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terhubung dengan jaringan ponsel. Indonesia adalah pengguna ponsel terbesar ketiga di Asia setelah China dan India. Pasar yang sangat besar ini menjadi incaran operator telekomunikasi dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Secara ekonomi, menjamurnya bisnis telekomunikasi selular juga memberi efek domino dalam menggerakkan roda ekonomi di negeri ini. Tengoklah berapa banyak jumlah pengecer pulsa yang mendapatkan keuntungan dari berjualan pulsa selular. Tengok juga kios-kios handphone dan aksesori yang terdapat di setiap kota kecamatan di Indonesia.

What stat said about my blog in 2010 2 Januari 2011

Posted by sri nanang setiyono in English, Esai.
add a comment

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 9,600 times in 2010. That’s about 23 full 747s.

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 93 posts. There were 8 pictures uploaded, taking up a total of 132kb.

The busiest day of the year was April 20th with 210 views. The most popular post that day was Membayangkan Kota Tua Banten Lama.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, search.conduit.com, blogger.com, facebook.com, and zainurie.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for apa aja, banten lama, puisi ra kartini, sejarah banten lama, and oscommerce.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Membayangkan Kota Tua Banten Lama October 2006
31 comments

2

Bikin Sendiri Toko Online dengan OsCommerce January 2009
70 comments

3

Teori Matematika dalam Jurnalisme October 2006
28 comments

4

Nasi Sumsum Mang Puri October 2006
5 comments

5

Saya adalah… October 2006

Sesama Pencuri Jangan Saling Mendahului! 14 Juli 2010

Posted by sri nanang setiyono in Esai, Sejarah.
Tags:
1 comment so far

Beberapa kali ketegangan antara Indonesia-Malaysia menyangkut klaim kepemilikan budaya ternyata adalah pekerjaan sia-sia. Hal yang sebenarnya, budaya bukanlah sesuatu yang bisa disimpan dan tidak boleh dimiliki/ditiru oleh bangsa lain. Bukankah suatu hal biasa bila bahasa suatu negara menyerap kota kata bahasa asing? Begitu pula dengan lagu-lagu yang dinyanyikan di suatu daerah tidak lepas dari pengaruh budaya yang masuk ke wilayah tersebut. Hal yang tidak banyak diketahui orang adalah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ternyata partitur (nada)-nya meniru lagu ciptaan orang Prancis jaman Napoleon ! Dengan fakta tersebut, amatlah tidak bijak bila anak bangsa ini kerap mengklaim bahwa produk-produk budaya kita dicuri oleh bangsa/negara lain. Toh kenyataannya, menurut Remy Silado, bangsa kita juga menjiplak/meniru budaya negara lain (selengkapnya simak video di atas).  Jadi akan lebih bijak kalau kita mengambil sikap saling menghormati terhadap bangsa lain apalagi yang serumpun daripada saling menghujat. Toh di atas semuanya, hanya Amerika dan sekutunya yang akan terkekeh-kekeh dan mengambil manfaat dari pertikaian orang-orang di Nusantara ini.

Jika Teman FB Menghapus Anda dari Daftar Teman-nya 30 Juni 2010

Posted by sri nanang setiyono in Esai.
1 comment so far

Jangan lupakan teman-temanmu ! (photo by Flickr)

Jikalau tiba-tiba anda mendapati nama anda hilang dari daftar teman Facebook Anda padahal ia adalah teman lama anda, patutlah anda curiga dan mulai menelaah diri. Pertemanan di Facebook – yang meskipun dikhawatirkan bakal menurunkan makna pertemanan  karena untuk menjadi teman cukup dengan menekan tombol ‘Add Friend’ – tetaplah bercermin dari cara relasi kita di dunia maya. Ya…sifat pertemanan kita dengan seseorang di media sosial seperti Facebook menggambarkan sifat pertemanan kita di alam realita. (lebih…)

Strategi Memasarkan Buku yang Ampuh 20 Juni 2010

Posted by sri nanang setiyono in Bisnis, Buku, Writing.
3 comments

Kami biasakan diri mengadakan minimum satu wawancara radio setiap harinya, tujuh hari seminggu, selama dua tahun.


Saya tergerak untuk menulis artikel ini setelah membaca bab pembuka dari buku Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus) yang ditulis oleh Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Les Hewitt. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Kharisma Press. Di halaman 44 buku tersebut saya menjumpai sebuah kutipan yang menggelitik saya tentang usaha penulis buku untuk menjadikan bukunya sebagai buku paling laris. Selengkapnya sebagaimana tertulis berikut : (lebih…)

Seperti Chairil Anwar 6 Mei 2010

Posted by sri nanang setiyono in Puisi, Sastra.
Tags:
add a comment
DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

Apa yang anda rasakan bila membaca sajak di atas. Itulah salah satu karya penyair Chairil Anwar yang paling sering dibacakan dalam pertunjukkan, selain puisi Aku dan Diponegoro. Lewat bahasa sederhana dan mudah dimengerti, Chairil Anwar menggambarkan situasi kejiwaan yang tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan dan kuasa Tuhan dalam hidup-Nya. Chairil Anwar ketika menciptakan sajak ini rupanya menyadari kekeliruannya karena “mengembara ke negeri asing” yang bisa ditafsirkan sebagai tempat yang asing baginya atau ideologi dan pemikiran yang jauh dari Tuhan. Alam pemikiran Chairil Anwar pada 1947, ketika puisi ini ditulis, tampaknya diwarnai bertaburnya aneka ideologi yang masing-masing mencoba menonjolkan diri dan mencari pengikut menghadapi satu musuh bersama : Belanda. Keberadaan mereka tercermin dari beragamnya corak ideologi laskar-laskar perlawanan, partai-partai politik, kaum intelektual, bahkan seniman dan budayawan.

Chairil Anwar rupanya merasa lelah dan akhirnya menyerah dalam pergulatan  tersebut (aku hilang bentuk // remuk). Ia memilih datang ke rumah Tuhan yang dengan apik disebutnya dengan kalimat di pintuMu aku mengetuk. Dengan satu kalimat penghujung aku tidak bisa berpaling, Chairil menegaskan keberpihakannya pada jalan yang ia pilih. Jalan Tuhan.

Bapak kecewa dengan Gusti Allah? 19 Oktober 2009

Posted by sri nanang setiyono in Esai, Hikmah.
Tags: ,
3 comments

Setahun selepas gempa hebat yang menggoyang Jogjakarta, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 60-an tahun. Suaranya berat dengan raut wajah yang ramah dan senyum yang akrab. Gaya bicaranya ceplas-ceplos. Kami duduk berhadapan di pojokan kios kecil dan hanya dibatasi etalase kaca setinggi kira-kira 1 meter. Mula-mula percakapan kami hanya seputar produk ponsel terbaru dan soal masalah ponsel yang dimilikinya. Ia berujar ingin mengganti ponselnya dengan merek lain yang daya tangkap sinyalnya lebih bagus.

Aku ingat saat itu bulan puasa. Tiba-tiba ia bertanya,”Mas puasa tidak?”

“Ya…saya puasa.”

“Maaf ya mas…saya tidak puasa,” ucapnya terus terang sambil mengambil sebungkus rokok dari balik saku jaketnya. Di lingkungan pasar tempat kios kami berada adalah jamak melihat orang-orang yang tidak berpuasa meskipun saat itu bulan Ramadan. Mbok-mbok bakul, pembeli, atau tukang-tukang becak dan tukang ojek sering terlihat menyeruput es teh di siang hari meskipun banyak pula yang tetap menjaga puasanya.

“Lagi tidak sehat ya Pak?” kataku balik bertanya meskipun. Aku agak ragu-ragu dengan pertanyaaku tadi apalagi kondisi lawan bicaraku yang tidak menampakkan ciri-ciri orang yang sedang sakit. Ia tampak segar bugar. Hanya sorot matanya yang kelihatan berat. Ada segumpal masalah yang mengendap di sekitar tatapannya.

”Saya lagi tidak puasa mas. Tahun kemarin saya kehilangan istri dan dua anak saya karena gempa di Jogja, mas.” Kali ini nadanya berat. Pandangannya kemudian dibuang jauh ke jalan raya di depan kios yang saat itu ramai oleh lalu lintas kendaraan. Mulutnya lantas menghisap rokok yang sudah menyala dan menghembuskan asapnya dengan hentakan yang juga berat.

”Bapak kecewa dengan Gusti Allah?” kali ini saya yang bertanya. Pembaca, sungguh saya agak terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut saya itu. Saya belum kenal dengan si Bapak dan baru beberapa menit bercakap-cakap kok tiba-tiba saya berlagak seperti psikolog atau ustadz yang siap memberi nasihat. Padahal saat itupun saya sebenarnya butuh banyak nasihat karena sedang mengalami masa-masa disorientasi yang melelahkan.

Pertanyaanku tadi rupanya langsung masuk ke benak si Bapak. Dia tak menjawab. Tapi tingkahnya menunjukkan ia sadar dan paham maksud pertanyaaku. Benar sekali, ia tidak nyaman dengan pertanyaan tadi.

”Itu sebenarnya tergantung bagaimana kita memandang peristiwa tersebut, pak.” Aku kembali berujar. Ucapanku ini kembali menohoknya. Sikap si Bapak jadi makin gelisah. Sempat sejenak mata kami saling beradu. Sepertinya ia tengah menyelidiki siapa dan apa maksud sesungguhnya ucapan lawan bicaranya. Ah…aku cukup lega. Kulihat tak ada getar amarah dari sorot matanya. Bagaimana pun sempat terbersit kekhawatiran kalau-kalau si Bapak tersinggung dengan ucapanku. Bisa saja ia marah dan dan menggebrak etalase di depannya. Si Bapak kemudian menunduk dan mengalihkan pandangannya ke etalase. Ia segera mengalihkan topik pembicaan.

”Saya beli yang ini saja mas,” katanya sembari menyerahkan beberapa lembar rupiah sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang getir.

”Kalau ada tidak berfungsi, bawa kesini lagi aja Pak. Nanti diganti,” balasku sambil menyerahkan barang yang dimaksud. Ia kemudian pamit dan berlalu. Saya masih melihat punggungnya menjauh dan kemudian hilang terhimpit keramaian pasar.

Percakapan yang tak lebih dari seperempat jam itu cukup membekas di memori kepalaku. Si Bapak yang tak kukenal namanya adalah orang pertama korban gempa Jogja yang kutemui. Selama ini kisah-kisah korban gempa hanya aku temui dari siaran televisi atau berita surat kabar. Tak pernah kudengar keluh kesah langsung dari si korban yang kehilangan sanak keluarganya.

Malam minggu lalu, memori memutar kembali fragmen pertemuanku dengan si Bapak. Kali ini bukan karena adanya gempa di Sumatera Barat atau di Ujung Kulon yang membuat panik orang-orang Jakarta. Di ruang tamu rumah Pak Budi Yuwono, praktisi kecerdasan spiritual, aku mengingat-ingat hal-hal sulit yang pernah aku temui. Juga pertemuanku dengan si Bapak asal Jogja tadi.

Pak Budi mengutip tentang kemudahan dan kesulitan yang akan selalu menjadi bagian dari hidup manusia. Ia menunjukkan terjemahan surat Al Insyiraah.

”Karena sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan kemudian. Maka bila telah selesai (suatu urusan), kerjakalah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

”Kesulitan dan kemudahan itu satu paket,” kata Pak Budi. Semua yang hadir di sana mengangguk-angguk. Saya lantas teringat dengan Kiai Muhammad Nurhaq yang pernah aku temui di Demak, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Saat itu pak Kiai memberi secarik kertas dan memintaku membacanya. Ah…rupanya surat Al Insyiraah seperti yang diterangkan Pak Budi.

Ketika aku tulis catatan ini, wajah si Bapak yang tidak bisa aku ingat seluruh detil rautnya kembali terbayang. Seperti adegan klip video, fragmen itu tergambar lagi di otakku. Ya…kesulitan itu satu paket dengan kemudahan. Karena itu siapa saja yang tengah bergelimang dengan kemudahan, bersiap-siaplah akan datangnya kesulitan. Demikian pula yang tengah dirundung kesusahan, yakinlah akan menyusulnya kemudahan.

Wajah si Bapak lagi-lagi terbayang. Dimana pun engkau…semoga kemudahan itu sudah menghampirimu. Dan jangan pernah lagi kecewa dengan takdir Tuhan.