jump to navigation

Jadilah Kolam Jangan Gelas 21 Oktober 2006

Posted by sri nanang setiyono in Hikmah.
trackback
Jangan anggap enteng masalah kecil, tapi jangan besarkan masalah yang tidak besar. Nah soal yang terakhir ini, aku punya pengalaman yang bisa di-sharing. Isinya dalam banget. Aku ambil dari bukunya Reza M Syarief berjudul Life Excellent.

Disebutkan ada seorang murid yang sedang ditimpa masalah. Lantas dia datang menemui gurunya yang seorang sufi. Maksudnya tentu saja ingin curhat sambil meminta saran cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dia hadapi. Singkat cerita, sang murid bertemu gurunya. Si murid mengutarakan maksud kedatangannya dan si guru manggut-manggut. Tanpa banyak kata, tiba-tiba si guru masuk ke kambali ke dalam rumah dan menyuruh murid untuk menunggu. Tak berapa lama, si guru menemui murid lagi sambil membawa dua bungkus garam dan sebuah gelas kosong yang berisi air.

“Coba masukkan sebungkus garam ke dalam gelas itu,” pinta si guru kepada muridnya. Si murid pun menuruti perintah sang guru.
“Sekarang aduk,” kata si guru. Si murid pun langsung menyiakan dan menjalankan kemauan gurunya. “Kalau sudah, kau minum air itu,” kata si guru lagi. SI murid tentu saja kaget. Dia membayangkan air yang rasanya asin, namun karena menghormati gurunya ia pun tak berani menolak.

“Tapi guru….baiklah saya minum,” kata si murid. Begitu diteguk, muka si murid langsung menunjukkan ekspresi cemberut dan meringis karena menahan rasa asin di lidahnya. Si guru cuma menyengir. Lantas dia berkata lagi,” Ayo ikut saya ke luar,” katanya. Tak lupa, dia membawa sebungkus garam yang masih tersisa. Muridnya yang setia pun bingung, namun rasa penasaran di kepalanya dia tahan mengingat keinginan yang tinggi untuk mendapat solusi dari masalah-masalahnya.

Rupanya si guru mengajak muridnya ke kolam di belakang rumah. Ukurannya tidak terlalu besar. Bentuknya bujur sangkar dengan panjang sisinya kira-kira 3 hasta. Namun airnya sangat jernih. Sebuah gayung dan ember di taruh di bibir kolam. Rupanya sang guru memakai kolam itu sebagai tempat penampungan cadangan air.
“Coba kau masukkan garam ini ke kolam dan aduk sampai rata,” tiba-tiba sang guru menyuruh muridnya. Seperti sebelumnya, si murid pun tak menolak dan menuruti perintah gurunya.
“Sekarang minum air itu,” kata si guru. “Gimana rasanya,” tanya si guru.

“Hambar guru,” jawab muridnya. “Tidak asin?”tanya guru lagi. “Tidak guru,” kata si murid menyahut.
“Nah sekarang kau bisa menyelesaikan masalahmu,” kata gurunya lagi.

“Anggap saja kolam atau gelas adalah hati dan pikiran kita, sedangkan garam adalah masalah-masalah kita,” lanjutnya. “Kau bisa membedakan kalau hati kita sempit, masalah pun akan terasa berat. Namun kalau hati kita lapang, masalah tidak akan terasa,” kata guru lagi. Kini si murid mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Tidak mudah memang melapangkan hati. Namun dengan mengingat Allah, hati akan menjadi lapang. Masalah tidak menjadi berat,” kata guru.

Setelah basa-basi sejenak, si murid pun pamit pulang dengan hati lega. Dia menemukan jawaban dari masalahnya. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi bagian dari masalah, melainkan pemecahan masalah.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: