Susahnya sebuah nama 1 Juli 2009
Posted by sri nanang setiyono in Esai.add a comment
Kalau saja ada nama tak berarti apa-apa seperti anggapan Shakespeare, barangkali akan banyak nama yang tak peduli pada esensi. Shakespeare memang tidak keliru. Ia membuat perumpamaan cerdas dengan menyatakan sekuntum mawar akan tetap berbau harum meskipun memakai nama lain. Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya.
Shakespeare mungkin akan terkejut bila hidup di masa sekarang. Dia akan geleng-geleng menyaksikan banyaknya nama yang diplesetkan, nama yang dipersonifikasikan dengan sesuatu atau dipoles habis-habisan untuk bercitra sesuai dengan kemauan pemilik nama. Kapitalisme (baca: uang) dan kekuasaan adalah biang penyebabnya.
Coba bayangkan seadanya sebuah biskuit atau susu kaleng memakai nama Tikus untuk menjadi mereknya : biskuit Tikus atau Susu cap Tikus. Sudah pasti biskuit atau tikus itu akan ditolak ramai-ramai oleh calon pembeli. Akan banyak protes kepada pabrik pembuatnya. Bahkan MUI barangkali akan mengkaji kehalalannya. Meski sama sekali tidak ada kandungan daging, protein atau apapun namanya dalam produk itu yang terkait dengan Tikus, tetap saja akan ada penolakan masyarakat terhadap produk tersebut.
Ingat juga bagaimana orang-orang Inggris menyebut penduduk asli Australia sebagai Aborigin. Terdengar menarik bukan? Aborigin berasal dari kata-kata Latin ab (dari) dan origo (asli atau asal). Sebenarnya bangsa Inggris tengah berperilaku rasis dan mengejek penduduk asli sebagai manusia dengan peradaban yang rendah.Buktinya penamaan itu membawa konsekuensi hingga ratusan tahun dengan kebijakan politik rasisme yang diterapkan Inggris dan diteruskan oleh orang-orang Australia keturunan Inggris di sana. Kata Aborigin menjadi nama yang berkonotasi negatif, dianggap sebagai masyarakat kelas pinggiran, sehingga tempat tinggal, harga diri, dan kemerdekaannya layak diserobot oleh bangsa-bangsa Eropa pendatang. Orang-orang Aborigin pun kini masih menjadi minoritas dan tersisih di tanah asli mereka. Meski kini kebijakan rasisme itu sudah ditinggalkan, namun masyarakat Australia sampai kini mewarisi pemikiran rasis itu dalam bentuk diskriminasi seleksi calon karyawan. Riset yang dilakukan oleh Australian National University baru-baru ini menyebut para pencari kerja dengan nama non Anglo Saxon seperti Cina atau Arab harus mengirimkan 45-60 persen aplikasi lebih banyak untuk mendapat kesempatan dipanggil wawancara (Eramuslim, 19/6).
Soal nama yang membawa masalah juga pernah dialami oleh orang-orang China di Indonesia pada masa Orde Baru. Mereka diwajibkan mengganti nama Thionghoa dengan nama Indonesia. Maka jadilah orang dengan nama Liem menjadi Salim, Yun menjadi Yunus, dan lain-lain. Beruntung bagi atlet bulutangkis Liem Swie King yang tetap tenar dengan nama Tionghoa-nya, meski secara politik dan budaya tetap saja mengalami diskriminasi.
Gara-gara kesan dan konotasi diskriminatif inilah, banyak negara yang mengubah nama kelompok masyarakat dengan istilah yang lebih netral. Taruh saja istilah negro yang bernada rasis diganti menjadi African American di Amerika Serikat. Istilah Aborigin pun disarankan diganti dengan kata Aboriginal Australian. Demikian pula penyebutan Paki (Pakistan) di Inggris atau Indon (Indonesia) di Malaysia, dianggap sebagai bentuk pelecehan dan dianjurkan ditinggalkan. Atau tengoklah pengalaman saudara-saudara kita yang ditolak visa masuknya ke Amerika gara-gara memakai nama kearab-araban? Lihatljuga para artis yang mengubah namanya agar menjadi lebih populer (baca selengkapnya di sini). Bahkan Tukul yang mengaku katro sekalipun menambah nama Arwana agar terkesan lebih enak didengar dan mudah diingat. Mengapa Arwana? Mengapa tidak louhan, lele dumbo, kepiting, udang galah, cumi-cumi atau ubur-ubur? Kalau yang ini tanya sendiri saja ke Tukul hehehe.
Sensitivitas sebuah nama sebenarnya terkait persepsi yang disandangnya. Karena itu pula pemilihan jargon atau slogan dalam iklan-iklan produk komersial atau politik sangat diperhitungkan. Bahkan bagi yang berkantong tebal, menyewa konsultan komunikasi asing pun akan dilakukan demi mendapat nama jargon yang “menjual”. Semuanya memang sah-sah saja. Hanya saja menjadi pertanyaan ketika dalam realita terungkap jargon yang dicitrakan tak sesuai dengan kenyataan, bagaimana tanggung jawab sosialnya? Bagi yang tahu bahwa iklan adalah polesan, tentu tak akan mudah percaya dan menuruti pesan iklan tersebut. Bagi yang tidak tahu? Siap-siap saja kecewa…..
So…penting enggak sih sebuah nama? Ya jelas penting. Coba bayangkan sendiri kalau nama di KTP kita adalah Bangau Tongtong, Cacing Pitasari, Monyet Budiman, dll. Serius nih…nabi mengajarkan umatnya untuk memberi nama yang baik buat anak-anaknya.
What’s Killing Newspapers? 16 Mei 2009
Posted by sri nanang setiyono in Jurnalisme, Online Media, video.Tags: google, koran, krisis ekonomi, media online, sekarat
add a comment
More WebProNews Videos
Dunia persuratkabaran di Amerika Serikat yang sedang sekarang akibat gencetan krisis dan kekalahan dalam kecepatan penyampaian informasi membuat keprihatinan lembaga legislatif di sana. Seorang senator bahkan sudah mengajukan undang-undang agar surat kabar bisa tetap beroperasi sebagai lembaga non profit, tak melulu harus sebagai badan usaha.
Kabar itu tidak mengejutkan lagi. Beberapa koran di AS memang telah menghentikan edisi cetaknya dan hanya terbit dalam edisi online. Sebagian koran menyalahkan kehadiran internet sebagai biang dari kemunduran surat kabar, khususnya datangnya Google. Kondisi ini diperparah dengan krisis ekonomi yang tentu saja makin membuat pemilik surat kabar terjepit.
Kondisi di Indonesia agak berbeda. Di sini, geliat koran-koran menerbitkan edisi online lebih sebagai antisipasi dan kebutuhan untuk mencari ceruk pasar baru. Krisis ekonomi yang tak kunjung usai dan daya beli masyarakat yang rendah sudah sejak lama membuat surat kabar di Indonesia hidup dalam “keadaan darurat”. Keadaan ini sudah terjadi sejak era kolonial yang membuat surat kabar bisa sewaktu-waktu dibreidel alias dimatikan. Lantas ketika kebebasan pers di negeri ini terjadi akibat reformasi euforia reformasi di Indonesia yang melahirkan ribuan koran, tabloid, dan majalah, kehidupan pers tetap saja dalam kondisi darurat karena krisis ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih rendah. Lihatlah berapa banyak koran yang terbit kemudian gulung tikar, begitu juga majalah, radio dan televisi. Kalau beruntung ada investor baru, mereka akan melanjutkannya tetapi dengan merek baru yang sama sekali lain dari merek sebelummnya.
Kini saat internet makin mudah didapatkan, makin murah diakses, dan saluran informasi bisa diperoleh dari segala penjuru, koran dihadapkan pada persoalan aktualitas berita. Meski begitu, toh tetap saja ada koran dan majalah yang bertahan hidup. Hanya saja kalau krisis sudah demikian parah, apakah akan muncul peraturan pemerintah atau undang-undang yang mirip-mirip dengan situasi di AS sana? Saya kok tidak yakin, apalagi di Indonesia koran terbit kemudian tidak terbit adalah hal biasa. Wong hari ini salah, besok jadi benar juga sudah lumrah….

Majalah Komunitas Online memanfaatkan WordPress 14 April 2009
Posted by sri nanang setiyono in Esai.add a comment
Baru-baru ini saya menyelesaikan sebuah proyek nirlaba yaitu membuat website portal komunitas yang mirip majalah online. Sesuai julukannya sebagai website komunitas, portal ini tak menerapkan standar hierarki jurnalisme tradisional yaitu konten diserahkan kepada redaksi. Pembaca dan siapa saja yang bisa berpartisipasi menjadi reporter, penulis, atau kontributor untuk mengisi website ini.
Tentu saja untuk membangun website ini memerlukan sistem yang handal. Saya memilih wordpress karena terbukti kemampuannya sebagai content management system (CMS) yang ramah terhadap Google dan mudah digunakan. Salah satu hal pokok untuk keperluan ini adalah penggunaan plugins yang bersifat multi author blogging.
Dengan fasilitas itu, wordpress mampu mengatur peran tiap anggota, kewenangan mereka mengakses sistem. Dengan begitu, level-level akses untuk pemula tentu berbeda dengan level editor dalam hal mengirim tulisan,mengedit naskah, hingga memilih kategori.
Majalah komunitas yang saya buat itu adalah Komunitas Kimia Undip.
How to use your website as a marketing tool – iMediaConnection.com 22 Maret 2009
Posted by sri nanang setiyono in Esai.add a comment
Bikin Sendiri Toko Online dengan OsCommerce 26 Januari 2009
Posted by sri nanang setiyono in Online Webstore, Wirausaha.8 comments
Setengah terakhir ini ada kesibukan lain yang saya geluti. Berawal dari keinginan memiliki sendiri toko online, saya malah mulai merambah ke dunia online business dan web desaigner khususnya pembuatan toko online. Saya memanfaatkan script OsCommerce yang terbukti handal untuk membuat toko online. Skrip yang gratis ini bisa dikembangkan untuk beragam keperluan kita membuat toko online, mulai dari membuat untuk toko dengan komoditi kurang dari 25 item hingga yang jumlahnya ribuat item.
Satu hal yang menguntungkan lagi, membuat sendiri toko online membuat saya tahu tentang seluk beluk dan tata kerja website toko online itu. Setiap kali ada kesalahan proses atau kegagalan sistem, saya segera tahu di mana letak kesalahannya.
Yang lebih menggembirakan lagi, OsCOmmerce bisa dikawinkan dengan program-program website lain yang bersifat Open Source seperti WordPress, phpBB, v.bulletin, image gallery dan lain-lain.
Berikut beberapa toko online yang sudah saya buat dan melayani transaksi.
1. Satubuku.com
2. Senyumuslim.com (waralaba toko buku Islam)
3. Demimasa.co.id (onlinebookstore)
Selain untuk keperluan pribadi, saya juga melayani pembuatan website toko online untuk perusahaan dan lembaga. Saya juga melayani pembuatan portal berita, blog, atau galeri foto online. Yang terakhir ini tentu tidak memakai OsCommerce.
Jadi Narasumber Koran Sindo 1 Desember 2008
Posted by sri nanang setiyono in Esai.Tags: Bisnis, Buku, online
add a comment
Meski masih bau kencur dalam hal bisnis online, toh ada kebanggaan waktu nama saya dan nama toko online saya disebut dalam pemberitaan di Harian Sindo edisi 1 Desember 2008. Dengan judul Lebih Murah Secara Online, saya disebut sebagai owner toko buku online Satubuku.com dan menjadi narasumber untuk menjelaskan keuntungan berbisnis online. Meskipun penyebutan namanya keliru–saya ditulis Sri Nanang Sutiono–toh menjadikan saya sebagai narasumber adalah bentuk penghargaan yang tinggi buat pemain pemula di bisnis internet seperti saya.
Tapi daripada memuji diri sendiri, sebaiknya anda baca sendiri tulisan Hermansah–si wartawan Sindo–tentang keuntungan bisnis online. Berikut saya copy paste dari situs koran Sindo.
Lebih Murah secara Online
| Sunday, 30 November 2008 | |
| OWNERS atubuku.com,Sri Nanang Sutiono,menjelaskan, menjual buku dengan cara online relatif lebih baik daripada membuka toko buku. Dari sisi permodalan,misalnya,untuk memulai usaha toko buku online hanya membutuhkan dana sebesar Rp250.000 per bulan untuk menyewa hosting internet. Bandingkan dengan biaya sewa toko buku biasa yang per bulannya bisa lebih dari Rp1 juta. Membuka toko buku online juga tidak terbatas waktu.Calon konsumen bisa melihat buku-buku yang dijual di toko buku online kapan pun dan di mana pun. Bandingkan dengan membuka toko buku konvensional yang perlu tutup pada malam hari atau hari-hari libur.Kondisi itu tentunya akan mengurangi kenyamanan pelanggan untuk mencari buku. Karena itulah,menurut dia, masyarakat yang hendak membuka toko buku dan mempunyai modal terbatas memilih membuka toko buku online. Keterbatasan dana seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak memulai membuka usaha sendiri.”Toko buku online juga menjanjikan,”sebutnya saat dihubungi SINDO. Untuk memulai membuka toko buku online, harus juga memiliki koneksi kepada penerbit. Hal itu dimaksudkan agar data yang tersedia terus up date. Semakin banyak koleksi buku, tentu semakin baik. Ini karena konsumen mempunyai banyak pilihan buku untuk dibeli. Usaha ini sangat terkait dengan kepercayaan, maka pemilik toko buku online harus memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen. Misalkan saja dengan menyerahkan buku yang dibeli konsumen sesuai janji.Selain itu menawarkan berbagai alternatif pelayanan untuk mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan konsumen.(hermansah) |
Satubuku.com 11 Agustus 2008
Posted by sri nanang setiyono in Esai.1 comment so far
Setelah coba-coba dengan indexbaca.com, saya bersama seorang teman, mantap menjajal peruntungan berbisnis di internet. Proyek kami yang pertama adalah sebuah toko buku online bertajuk Satubuku.com. Masih banyak yang harus dipelajari, dan masih banyak yang harus diperjuangkan.
Inilah cikal bakal dari proyek dan impian yang lebih besar lagi, membentuk pusat informasi dan lembaga pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Sebuah perjuangan yang panjang menggapai kemuliaan hidup.
Air 4 April 2008
Posted by sri nanang setiyono in Hikmah, Lingkungan hidup.1 comment so far
Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau pun mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma, secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.
Emoto menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.
Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikankalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.
Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.
“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.
Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima olehyang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain dan makhluk hidup lain.
Powered by ScribeFire.
Memimpikan Rahmat 27 Maret 2008
Posted by sri nanang setiyono in Esai.2 comments
Perubahan adalah sunatullah, hukum alam yang tidak bisa ditolak. Berubah adalah kehendak tiap orang. Namun tidak semua orang berinisiatif untuk melakukan perubahan. Bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang-orang di sekitarnya. Baginya perubahan adalah makhluk mengerikan yang bila tidak dicegah justru akan memakan si pelaku perubahan itu sendiri.
Sebenarnya tidak perlu takut menghadapi perubahan. Tiap detik dan tiap hembusan nafas, tubuh dan jiwa kita berubah. Tubuh yang kita diami roh ini berganti sel setiap saat. Yang sesungguhnya kita miliki saat ini bukanlah yang kita miliki sedetik berikutnya. Umur bertambah. Materi pengisi tubuh berganti, setidaknya dalam komposisi. Begitupun kondisi jiwa, pikiran dan hati kita. Kita adalah orang yang selalu berubah.
Seperti matahari yang terus memancarkan energinya ke planet-planet di sistem tata surya, tubuh kita pun terus-menerus mengeluarkan energi yang negatif atau positif. Beruntunglah bila kita bisa memancarkan energi positif itu ke sekeliling. Menjadi manfaat bagi alam sekitar kita. Energi positif itu dalam bahasa agama kerap disebut rahmat. Orang-orang yang berada di sekitar kita bisa merasakan manfaat dari keberadaan kita. Seseorang yang jiwa dan tubuhnya menebarkan rahmat akan selalu menjadi gula dan pelita yang dijadikan rujukan oleh lingkungannya. Rahmat ini tidak selalu berupa harta benda. Ia bisa berupa wibawa, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan sebagainya. Ia bukan wujud fisik yang bagus, indah, gemerlap apalagi mewah. Ia ada adalah suasana batin yang mampu menembus dinding-dinding pembatas jiwa dan tembok-tembok pemisah dan mengendap pada hati orang dan mahkluk di sekitarnya.
Sangat disayangkan bila energi negatif yang keluar dari diri kita. Keberadaan tidak disukai oleh lingkungan. Tubuh dan pikiran kita seperti ditolak oleh alam. Materi yang kita belanjakan menjadi tidak mendatangkan manfaat. Banyak kerugian dan kerusakan akibat tindakan kita. sampai-sampai orang lain yang berdekatan dengan kita merasa takut dan khawatir terkena akibat dari tutur kata atau tindakan kita. Orang-orang sepert ini tidak pantas mengelus perubahan. Sayangnya perubahan itu sendiri tidak pernah pilih kasih. Ia bisa hinggap kepada pemilik energi positif tetapi juga sering mampir ke penguasa energi negatif.
Idealnya sebagai manusia, kita bisa memberikan energi positif kita ke lingkungan. Barangkali kita belum bisa mencapai tingkat rahmat seperti yang diharapkan agama. Tetapi kita masih bisa mencapai derajat mahabah dan mawadah karena hal tersebut tidak sulit dilakukan. Dalam agama derajat paling rendah sebagai bentuk kepedulian kepada hal-hal di luar kita adalah mahabbah. Inilah tingkatan dimana kita lebih menghargai penampilan fisik, keindahan ragawi dan kecantikan penampilan. Orang yang mencapai tingkat ini biasanya akan kehilangan rasa mahabbahnya bila hal yang dia puja dan hargai sudah kehilangan nilai keindahan fisiknya. Perasaan ingin memiliki dan menguasai lebih dominan daripada keinginan untuk memperbaiki, menjaga atau memuliakan hal-hal yang dipujanya. Contoh paling nyata adalah kesenangan terhadap perhiasan, cinta pemuda kepada wanita karena kecantikan dan lain-lain.
Pada level berikutnya adalah mawaddah. Pada tingkat ini kepedulian lebih penting daripada perasaan ingin memiliki. Orang yang mencapai level ini biasanya tidak lagi segan berkorban untuk kebaikan dari pihak yang dipujanya. Pengorbanan ini bahkan bisa menyebabkan yang bersangkutan kehilangan kesempatan untuk memiliki pihak yang dipujanya. Inilah derajat cinta dan peduli yang dimiliki ibu kepada anak-anaknya, guru kepada murid-muridnya, dan pemimpin yang adil kepada rakyatnya.
Powered by ScribeFire.
Mecah Telor Buku Pertama 26 Maret 2008
Posted by sri nanang setiyono in Esai.1 comment so far
Memiliki buku pertama ternyata sangat membahagiakan. Setelah enam tahun lebih berkutat di dunia jurnalistik, akhirnya niat untuk menulis buku kesampaian juga. Buku, kata CEO Kompas Gramedia, buku ibarat mahkota bagi wartawan. Ucapan itu memang tidak keliru. Memiliki buku dengan nama terpampang di dalamnya–meski masih dengan embel-embel editor–tetaplah suatu kebanggaan.
Setelah dua bulan lebih berkutat dengan buku referensi, laptop dan wawancara, buku pertama saya berjudul KH. Mahrus Amin : Dakwah Melalui Pondok Pesantren, Pengalaman Merintis dan Memimpin Darunnajah Jakarta terbit di bawah bendera penerbit Grup Dana. Memang buku ini belumlah final dan belum dijual di toko buku karena masih dipakai untuk keperluan internal Pondok Pesantren Darunnajah. Toh berkah dari penulisan ini sudah terasa. Setidaknya kini dua buku lagi menunggu untuk diselesaikan. Keduanya masih seputar Pondok Pesantren Darunnajah. Belum lagi sebuah buku tentang kesehatan, sudah siap untuk ditulis (maksudnya tinggal diketik karena materi dan bahan-bahannya sudah terkumpul semua).
Memang ada kebiasaan yang berbeda ketika menjadi wartawan aktif dan menjadi penulis buku. Menulis buku membutuhkan stamina yang lebih tinggi daripada melakukan reportase langsung. Butuh betah berlama-lama di depan komputer, membaca buku dan duduk berjam-jam mengetik tulisan. Hal-hal itu tidak terjadi ketika menjadi wartawan. Sebagain waktu justru habis untuk memburu narasumber. Dengan pola dan model penulisan yang sudah hapal di luar kepala, menulis berita cukup dilakukan dalam waktu 30 menit per berita. Kesuntukan mengejar berita segera hilang dengan menghirup udara bebas saat berkendara menuju TKP atau tempat pertemuan dengan narasumber.
Sebagai penulis, saya kini mengerti musuh paling besar yang menghalangi ide untuk disalurkan dalam bentuk rangkaian huruf di layar komputer. Musuh itu bukan amplop, bukan deadline, bukan pula redaktur yang menuntut berita terbaik. Musuh itu adalah rasa bosan.
Powered by ScribeFire.
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=b3d7b8a0-761d-4919-9d50-4a5870b90155)










